Relawan Jokowi dan FPI Satu Barisan dalam Pilpres 2019
owl.opera.com
Apr 29, 2018 10:00 AM

Referensi pihak ketiga
Tidak ada kawan dan lawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi. Terbuka kemungkinan jika relawan Jokowi akan berdiri satu barisan dengan Alumni 212.
Setidaknya sudah dua kali Presiden Joko Widodo membocorkan pertemuan yang sebenarnya tertutup dengan pihak yang selama ini dianggap berseberangan. Seperti pertemuan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan alumni aksi 212 beberapa waktu lalu.
Jokowi seperti dikutip Tempo.co pada Jumat, (27/4/2018), mengungkapkan alasannya menerima rombongan Alumni 212 yang selama ini diketahui kerap mengkritik pemerintahannya. Secara terbuka, Jokowi mengatakan, pertemuan tersebut memang dimaksudkan untuk kepentingan politik.

Referensi pihak ketiga
“Ini silaturahmi politik untuk mencairkan suasana. Jangan sampai ada pendapat-pendapat saya tidak bertemu dengan siapa saja,” kata Jokowi.
Pertemuan yang mendapat banyak apresiasi ternyata tak dipandang baik oleh semua pihak. Jokowi menerima banyak keluhan dari sebagian pendukungnya atau relawan yang tak setuju kelompok yang dianggap berseberangan itu dirangkul. “’Bapak kok malah....Lho, ini semua rakyat kita. Saya sampaikan kepada para relawan,” ujar Jokowi.
Petinggi PKS
Tidak hanya dengan Alumni 212, Jokowi juga diinformasikan telah bertemu dengan pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tak lama berselang, sebuah poster dengan lambang PKS bersanding dengan foto Jokowi beredar luas di media sosial. Dalam salah satu isi poster tersebut bertuliskan: PKS Partaiku, Jokowi Capresku. Pister tersebut juga dilengkapi tagar Capres2019.

Referensi pihak ketiga
Langkah politik ini membuktikan Jokowi adalah presiden semua golongan, semua kelompok, presiden semua parpol dalam upaya konsolidasi menuju Pilpres 2019. Mendekati Pilpres 212, Jokowi memang langsung memainkan perannya. Silahturrahmi politik yang dibungkus pertemuan tugas kepresidenan ini dijadikan sebagai upaya untuk konsolidasi semua kekuatan politik.
“Bisa dikatakan memanfaatkan kesempatan dengan kewenangan presiden itu untuk melakukan penggalangan-penggalangan elemen-elemen yang selama ini kontra dengan kelompok pendukung Jokowi,” ujar pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Brawijaya Malang, Anang Sudjoko dikutip republika.co.id Jumat (27/4/2018).
Maka dengan demikian, apa yang telah dilakukan Joko Widodo tersebut bakal menggerus atau setidaknya menggembosi kekuatan-kekuatan lawannya di pilpres nanti. Salah satunya dengan pendekatan-pendekatan kenegaraan dan ini memang tidak bisa dilakukan oleh pihak lawan.
Trade Off
Upaya Jokowi merangkul semua golongan memang tidak semudah membalikan tangan. Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kuskridho (Dodi) Ambardhi menganggap pertemuan antara Jokowi dengan Alumni 212 dan elite politik PKS berpotensi terjadi trade off.

Referensi pihak ketiga
Artinya, Jokowi berpotensi mendapat tambahan dukungan suara dari kelompok Alumni 212 namun berpotensi kehilangan suara dari kelompok lain.
Kelompok lain yang dimaksud Dodi adalah kelompok nasionalis, relawan yang berpikir bahwa agenda dan sentimen agama yang dibawa oleh FPI (Front Pembela Islam), GNPF Ulama dan Alumni 212 terlalu kuat.
"Kelompok nasionalis yang berpikir bahwa agenda dan sentimen agama yang dibawa GNPF terlalu tebal dan dianggap bisa memarginalkan kelompok-kelompok yang lebih kultural pendekatannya," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu, (25/04/2018).
Kendati demikian, pertemuan yang antara Jokowi dan Alumni 212 merupakan salah satu upaya politis yang baik. Secara elektoral, menurutnya kelompok Alumni 212 adalah salah satu kantung suara yang dapat menambah dukungan.
Tugas Jokowi selanjutkan menyatukan kubu relawan Jokowi dengan massa Alumni 212. Dua kutup yang berlawanan, sulit disatukan. Namun, dalam politik tidak ada yang tak mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar