Minggu, 01 April 2018

Demi Ambisi, Yusril Hina Pemerintah dan Dukung HTI

Demi Ambisi, Yusril Hina Pemerintah dan Dukung HTI
Tomi Raharja
Senin 02 April 2018 - 0:44
Sungguh 'keblinger' kelakuan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra ini. Di tengah usaha pemerintah Indonesia melindungi NKRI dari paham terlarang, Ia malah membela Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan membabi buta.
Tak hanya itu, Ia juga turut menyerukan semangat politisasi agama dan memanaskan situasi dengan mengajak umat Islam untuk melawan pemerintahan yang sah.
Mantan Menteri Kehakiman di era Gus Dur itu menyampaikan dukungannya secara terbuka kepada HTI. Hal itu disampaikannya dalam acara Kongres Umat Islam di Sumatera Utara beberapa waktu lalu.
Dalam orasinya tersebut, Yusril dengan menggebu-gebu mengajak kader dan simpatisan HTI untuk memasuki gelanggang politik praktis, khususnya melalui partainya (PBB). Yusril menyatakan bahwa PBB dengan tangan terbuka akan menerima para pejuang khilafah tersebut. Menurutnya, hanya melalui jalan Pemilu kemanangan umat Islam atau tegaknya khilafah bisa diwujudkan.
Padahal, khilafah jelas merupakan paham yang berseberangan dengan ideologi bangsa, Pancasila. Paham tersebut dalam perjuangannya ingin menegakkan negara syariah/Islam, meruntuhkan NKRI, dan tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara, dan UUD 1945 sebagai konstitusi Republik Indonesia. Bahkan menganggap demokrasi sebagai sistem politik yang kufur.
Anehnya, sebagai mantan menteri dan ketua umum partai politik yang diakui negara, Yusril justru mendukung paham dan organisasi yang memperjuangan hal di atas. Makanya sangat tepat bila Yusril disebut sebagai orang yang keblinger.
Parahnya, dalam orasi itu Yusril juga turut menjelek-jelekkan pemerintahan Presiden Jokowi saat ini. Tak hanya menyinggung soal kebijakannya saja, namun juga merendahkan fisik Presiden, seperti menyebut Presiden Jokowi bodoh, plonga-plongo, atau culun.
Sikap provokatif Yusril itu dilanjutkan dengan menyebut bahwa pemerintahan Jokowi sebagai diktator. Ia dengan lantang berkoar-koar bahwa pemerintah sekarang menggunakan kekuasaannya secara otoritarian untuk mencapai kepentingannya.
Padahal kita tahu sendiri bagaimana faktanya. Jelas beda antara pemerintahan Jokowi saat ini dengan masa Orde Baru dulu. Bagaimana mungkin, Yusril yang masih bisa berkoar-koar demikian, kemudian negara disebut otoriter? Bila otoriter, tentu Yusril mungkin sudah dipenjara atau dibunuh.
Tak salah lagi, provokasi Yusril tersebut hanyalah usaha untuk membangun citra negatif tentang pemerintah dan Presiden Jokowi saja. Tak lebih dan tak kurang.
Menariknya, melalui orasi Yusril tersebut, terbongkar pula rencana busuk mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. Secara eksplisit disebutkan bahwa GN ternyata memiliki agenda untuk mengkhianati kepentingan bangsa dan negara. Bahkan saat dirinya masih menjadi tentara aktif.
Gatot Nurmantyo ternyata sudah terlibat dalam politik prakti saat dirinya masih aktif berdinas. Tak hanya itu, Ia juga turut mendiskreditkan pemerintahan yang sah. Hal itu tentu merulakan pengkhianatan terhadap sumpah dan kode etik TNI.
Tindakan para tokoh oposisi, seperti Yusril, Gatot, atau Amien Rais, itu menunjukkan cara beroposisi yang buruk. Mereka membangun oposisi tanpa kualitas yang mumpuni. Faktanya, mereka tak mampu membangun kebijakan dan program alternatif yang berkualitas untuk menandingi pemerintah yang sah saat ini.
Kenyataannya, mereka hanya menyerang, mengkritik, dan menghina pemerintahan dengan sentimen SARA saja. Haeua diakui bila mereka sangat cakap memprovokasi umat Islam untuk menyebarkan kebencian kepada pemerintahan Jokowi.
Tokoh-tokoh tersebut juga melakukan upaya untuk mengarahkan pilihan politik masyarakat dengan tidak sehat. Pastinya sesuaii dengan kepentingan politik dan parpol yang sesuai dengan selera mereka saja.
Akibatnya, melalui tindakan tidak bertanggung jawab dari para elit politik busuk tersebut bahaya perpecahan bangsa, meningkatnya intoleransi dan kebencian antar kelompok menjadi aktual saat ini. Mereka adalah katalisatornya.
Jangan pertaruhkan masa depan bangsa ini diantara mulut kita. Bayangan mereka adalah masa lalu, sedangkan harapan kita adalah masa depan. Mari jaga masa depan anak cucu kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar