Senin, 30 April 2018

Kantong Mayat Permintaan Habib Rizieq kepada Gatot Nurmantyo

Kantong Mayat Permintaan Habib Rizieq kepada Gatot Nurmantyo

owl.opera.com

Apr 27, 2018 10:00 AM

Referensi pihak ketiga

Banyak fakta yang mengejutkan dari Gatot Nurmantyo. Tidak hanya dekat dengan taipan Artha Graha Tomy Winata, Mantan Panglima TNI juga dekat dengan pendiri Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Gatot yang dikenal dekat dengan para ulama mengatakan, Rizieq Shihab adalah orang yang paham ideologi pancasila. Karenanya, tidak ada yang perlu dicemaskan dengan kebangkitan konservatisme agama di Indonesia.

“Temui saja Habib Rizieq, bicara tentang Pancasila. Kalau perlu hadapkan dengan Tim Pancasila (Badan Pembinaan Idologi Pancasila). Dia jago sekali,” kata Gatot seperti dikutip laman tempo.co, Selasa (27/3/2018).

Selain itu, Gatot sangsi jika Rizieq memang mengharapkan dasar negara berdasarkan syariat Islam. Alasannya, Rizieq yang sekarang bermukim di Arab saudi tidak pernah bicara soal negara berdasarkan syariat Islam. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sudah final bagi para ulama, termasuk Rizieq.

Kedekatan Gatot dengan Rizieq berawal saat membantu pemulihan pascagempa dan tsunami di Aceh pada 2004. Sebagai staf Alwi Shihab yang ketika itu menjabat sebagai menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Gatot bertemu dengan kelompok relawan Rizieq Shihab. Habib Rizieq dan kelompoknya ikut dalam kelompok pencari jenazah.

Kelompok Rizieq Shihab inilah yang bertugas mencari mayat-mayat secara mandiri hingga ke tempat terpencil. Katanya, Rizieq tidak minta apa pun,''cuma kantong mayat.''

Sumber: Tempo.co

Relawan Jokowi dan FPI Satu Barisan dalam Pilpres 2019

Relawan Jokowi dan FPI Satu Barisan dalam Pilpres 2019

owl.opera.com

Apr 29, 2018 10:00 AM

Referensi pihak ketiga

Tidak ada kawan dan lawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi. Terbuka kemungkinan jika relawan Jokowi akan berdiri satu barisan dengan Alumni 212.

Setidaknya sudah dua kali Presiden Joko Widodo membocorkan pertemuan yang sebenarnya tertutup dengan pihak yang selama ini dianggap berseberangan. Seperti pertemuan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan alumni aksi 212 beberapa waktu lalu.

Jokowi seperti dikutip Tempo.co pada Jumat, (27/4/2018), mengungkapkan alasannya menerima rombongan Alumni 212 yang selama ini diketahui kerap mengkritik pemerintahannya. Secara terbuka, Jokowi mengatakan, pertemuan tersebut memang dimaksudkan untuk kepentingan politik.

Referensi pihak ketiga

“Ini silaturahmi politik untuk mencairkan suasana. Jangan sampai ada pendapat-pendapat saya tidak bertemu dengan siapa saja,” kata Jokowi.

Pertemuan yang mendapat banyak apresiasi ternyata tak dipandang baik oleh semua pihak. Jokowi menerima banyak keluhan dari sebagian pendukungnya atau relawan yang tak setuju kelompok yang dianggap berseberangan itu dirangkul. “’Bapak kok malah....Lho, ini semua rakyat kita. Saya sampaikan kepada para relawan,” ujar Jokowi.

Petinggi PKS

Tidak hanya dengan Alumni 212, Jokowi juga diinformasikan telah bertemu dengan pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tak lama berselang, sebuah poster dengan lambang PKS bersanding dengan foto Jokowi beredar luas di media sosial. Dalam salah satu isi poster tersebut bertuliskan: PKS Partaiku, Jokowi Capresku. Pister tersebut juga dilengkapi tagar Capres2019.

Referensi pihak ketiga

Langkah politik ini membuktikan Jokowi adalah presiden semua golongan, semua kelompok, presiden semua parpol dalam upaya konsolidasi menuju Pilpres 2019. Mendekati Pilpres 212, Jokowi memang langsung memainkan perannya. Silahturrahmi politik yang dibungkus pertemuan tugas kepresidenan ini dijadikan sebagai upaya untuk konsolidasi semua kekuatan politik.

“Bisa dikatakan memanfaatkan kesempatan dengan kewenangan presiden itu untuk melakukan penggalangan-penggalangan elemen-elemen yang selama ini kontra dengan kelompok pendukung Jokowi,” ujar pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Brawijaya Malang, Anang Sudjoko dikutip republika.co.id Jumat (27/4/2018).

Maka dengan demikian, apa yang telah dilakukan Joko Widodo tersebut bakal menggerus atau setidaknya menggembosi kekuatan-kekuatan lawannya di pilpres nanti. Salah satunya dengan pendekatan-pendekatan kenegaraan dan ini memang tidak bisa dilakukan oleh pihak lawan.

Trade Off

Upaya Jokowi merangkul semua golongan memang tidak semudah membalikan tangan. Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kuskridho (Dodi) Ambardhi menganggap pertemuan antara Jokowi dengan Alumni 212 dan elite politik PKS berpotensi terjadi trade off.

Referensi pihak ketiga

Artinya, Jokowi berpotensi mendapat tambahan dukungan suara dari kelompok Alumni 212 namun berpotensi kehilangan suara dari kelompok lain.

Kelompok lain yang dimaksud Dodi adalah kelompok nasionalis, relawan yang berpikir bahwa agenda dan sentimen agama yang dibawa oleh FPI (Front Pembela Islam), GNPF Ulama dan Alumni 212 terlalu kuat.

"Kelompok nasionalis yang berpikir bahwa agenda dan sentimen agama yang dibawa GNPF terlalu tebal dan dianggap bisa memarginalkan kelompok-kelompok yang lebih kultural pendekatannya," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu, (25/04/2018).

Kendati demikian, pertemuan yang antara Jokowi dan Alumni 212 merupakan salah satu upaya politis yang baik. Secara elektoral, menurutnya kelompok Alumni 212 adalah salah satu kantung suara yang dapat menambah dukungan.

Tugas Jokowi selanjutkan menyatukan kubu relawan Jokowi dengan massa Alumni 212. Dua kutup yang berlawanan, sulit disatukan. Namun, dalam politik tidak ada yang tak mungkin.

Massa #2019GantiPresiden Merusak Semuanya, Malah Bikin Kacau, Lawan Jokowi Bisa Jadi Gagal

Massa #2019GantiPresiden Merusak Semuanya, Malah Bikin Kacau, Lawan Jokowi Bisa Jadi Gagal

pojok satu

Apr 30, 2018 7:51 AM

Seorang ibu mengenakan kaos #DiaSibukKerja diolok-olok saat melakukan aksinya di CFD, Minggu (30/4/2018).

POJOKSATU.id, JAKARTA – Bermula dari video dugaan persekusi massa #2019GantiPresiden terhadap aksi Pro Jokowi yang menyebar di media sosial.

Dari video itu tampak seorang ibu yang mengenakan kaos dukungan terhadap Jokowi #DiaSibukKerja bersama anaknya berjalan di Car Free Day (CFD), Minggu (29/4/2018).

Tampak massa #2019 mengerumuni si ibu dan membullynya. Bukan itu saja, dalam video itu tampak si ibu juga sempat kesulitan bergerak karena dikelilingi massa.

Namun dengan konsistennya ia terus berjalan. Bahkan si ibu muda itu mengatakan pada anaknya untuk tidak takut.

“Kita nggak takut ya, kita benar, Kita nggak akan pernah takut,” ujar ibu itu kepada anaknya.

Di peristiwa lain, tampak seorang berkaos dukungan terhadap Jokowi juga mendapat perlakuan persekusi lain.

Ia diolok-olok dengan sejumlah uang menyindir seolah-olah massa Pro Jokowi adalah massa bayaran.

Massa #2019GantiPresiden mengeluarkan beberapa lembar uang lalu dikibas-kibaskan sehingga mengganggu langkah warga yang mengenakan kaos Pro Jokowi.

Sontak saja aksi yang dilakukan massa Ganti Presiden itu menuai kecaman dari berbagai pihak.

Mantan Ketua MK Mahfud MD menyatakan tindakan mereka membuatnya pilu.

“Mau ganti Presiden itu hak, mau mempertahankan Presiden itu hak. Silahkan saja, itu ada mekanisme konstitusionalnya. Tapi hati saya sangat tersayat dan menangis jika ada ibu yg hanya berduaan dgn anaknya dipersekusi ramai-ramai. Mudah2an video yg menyayat hati itu hny hoax krn montase.” ujarnya.

“Gilaa.. Barbar begini,” ujar Sutradara Joko Anwar.

“Kapan pintarnya kalau senangnya mengganggu perempuan, anak-anak dan orang jalan sendirian? Darurat waras.” kata pemilik akun @gitaputrid.

Tak berhenti kecaman dari sejumlah pihak, apalagi termasuk dari pendukung Jokowi, dukungan dari gerakan Ganti Presiden tetap bermunculan.

Aksi mereka tetap menuai simpati. Bahkan di medsos tetap ada saja yang sampai melakukan serangan balik pada aksi serupa pendukung Jokowi.

“Ada yg bilang “diasibukkerja”,kerja utk siapa?. Yg jelas rakyat makin susah, harga2 meroket, buruh asing jd sejahtera disambut karpet merah.” ujar Fadli Zon.

“Mulai hari ini, #2019GantiPresiden telah menjadi “public sphere”: ruang argumentasi publik. Bagus buat demokrasi!” kata Rocky Gerung.

“Kemarin ada kumpulan masa menyemut di satu titik, diimingi kupon sembako murah.
Hari ini ada kumpulan masa menyebar di beberapa titik, tanpa kupon bahkan beli sendiri kaosnya.” kata perencana keuangan Ahmad Ghozali.

“Kalau melihat disain kaos #2019GantiPresiden yg dipakai warga, sangat beragam, warna berbeda, huruf berbeda, dll. Bukan kaos yg biasa disebarkan politisi atau tokoh politik: seragam. Objektif aja.” cuit Indra J Piliang.

“Tetaplah waspada, jaga niat dan semangat, #2019GantiPresiden, tetap dg cara konstitusional. Jangan tersusupi dan terprovokasi. Jangan juga ikutan yg kemaren jadikan Monas lautan sampah. Jagalah ketertiban dan kebersihan. Itulah juga yg membedakan.” kata Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Tahun politik memang sudah kian dekat. Atmosfir panasnya gerakan dukungan politik sudah mulai terasa sejak lama.

Jika polarisasi masih saja tetap demikian terpecah dalam dua kekuatan besar, bukan tidak mungkin hingga lima tahun ke depan aroma kebencian dan perpecahan tetap akan terjadi.

Sentimen-sentimen yang muncul di arus bawah akan bisa membawa dampak suasana yang akan tidak sangat mengenakan.

Resikonya, generasi muda bisa lagi menjadi apatis politik paling pertama disebabkan kemuakkan melihat kondisi saling benci yang amat dalam dan panjang.

Kencleng buat pa njem

Arsip jjs ke Tegalega

Arsip jjs ke Tegallega

arsip jjs ke Tegalega