Gigit Jari, PKS yang Menggagas Tagar, Prabowo, Anies hingga AHY yang Panen ?
seword.com
Jul 6, 2018 4:19 PM
Pemlihan presiden masih tahun depan, tetapi sibuk dan ribetnya sudah dari sekarang. Elit politik sudah melakukan manuver dari jengking hingga miring untuk mencari peluang kemenangan dalam pesta demokrasi yang dilakukan tahun depan. Ada yang menggunakan cara yang sangat profesional, dengan menunjukkan kinerja hingga program-progam, tetapi ada juga yang menggunakan cara-cara warisan penjajah dengan penggiringan isu ke arah provokasi, nyinyir hingga pernyataan yang menjurus kepada fitnah.
Itulah kenyataan yang harus kita terima saat ini. Melalui proses demokrasi seperti ini kita dapat menilai secerdas apa bangsa kita, sebobrok atau sebaik apa para elite politik yang ada dinegeri kita tercinta ini.
Saatnya kita memisahkan partai politik penghasil kader terbaik dengan partai penghasi provokator terbaik. Sudah saatnya kita juga memisahkan orang yang bisa kerja secara nyata dengan orang yang bisanya komen dan nyinyir. Karena kita itu butuh kerja nyata, bukan omong doang, karena kita butuh makan nasi bukan makan kata-kata.
Kata orang, kita tidak boleh jumawa, itu benar, tetapi kita juga boleh bersuka jika hal yang kita anggap baik memiliki potensi menang besar, itulah kira-kira yang terjadi saat ini. Hasil pilkada menurut saya sangat memuaskan bagi kubu pemerintahan, itulah yang membuat kita wajib bersuka ria meskipun tetap dengan kewaspadaan.
Adanya oposisi sebagai kontrol pemerintahan merupakan hal penting dalam suatu negara untuk menghindari pemerintahan yang otoriter. Tetapi oposisi yang cerdas dan mengedepankan kepentingan serta keutuhan bangsa itulah yang paling terpenting dan semestinya.
Lalu bagiamana dengan keadaan oposisi di negara kita tercinta ini? Kita sebagai manusia waras dan memiliki akal budi bisa menilainya sendiri. Oposisi saat ini sering menyerang pemerintah dengan isu-isu yang kurang pas, baik secara data maupun secara etika dalam politik.
Untuk contoh secara data, oposisi menyerang pemerintah dengan isu mark up biaya LRT di Palembang yang katanya kemahalan, tetapi giliran ditanya datanya dari mana bingung, tidak bisa menjelaskan. Secara fakta, justru biaya pembangunan LRT di Palembang lebih hemat ketimbang pembangunan LRT di Malaysia juga Pilipina.
Etika yang salah, ada oposisi mencoba menggiring isu dengan mengatakan partai Allah dan partai setan yang secara tidak langsung bertujuan untuk membuat klaim bahwa partai yang berada di oposisi merupakan partai yang baik dan suci, sebaliknya dengan partai-partai pendukung pemerintahan dianggap partai yang memperjuangkan keburukan.
Selain etika, oposisi seperti tidak mempertimbankan potensi perpecahan yang ditimbulkan dari sentimen-sentimen SARA yang digunakan untuk menyerang pemerintah. Itu terlihat dari isu yang digiring terkait pemerintah antek asing, isu kriminalisasi ulama dan lain-lain.
Membentuk fenomena asal bukan Jokowi pun dilakukan dengan tagar 2019 ganti presiden pun digunakan oleh pihak oposisi dalam mencoba mengalahkan presiden terpilih di pemilu yang lalu. Pembuatan tagar tersebut menunjukkan kebingungan dari oposisi untuk melawan kubu pemerintahan yang dianggap kuat pamornya ketimbang tokoh-tokoh lain yang ada. Kebingungan menampilkan sosok kandidat untuk melawan Jokowi, itulah intinya.
#2019GantiPresiden sudah diuji coba dalam pilkada, terutama di Jawa Barat, dimana PKS, partai penggagas tagar 2019 ganti tersebut berkuasa selama 10 tahun. Uji coba tersebut menggunakan pasangan Asyik sebagai simbol pergerakan tersebut.
Tetapi meskipun PKS hingga Gerindra menganggap #2019GantiPresiden sangat terasa, tetapi secara fakta Asyik kalah dalam pilkada tersebut melawan Ridwan Kamil. Meskipun ada pengakuan dari Demul dan kang Emil, gerakan tagar tersebut berpengaruh menggerus suara mereka, tetapi jika dilihat secara global gerakan tersebut kalah total. Apalagi, di Jawa Barat merupakan basis penggagas gerakan tersebut selama 10 tahun.
Berbanding terbalik dengan PDI P, partai dimana Jokowi bernaung. Meskipun untuk pilgub tidak menempati urutan pertama, tetapi secara global, pilkada dimenangkan 60% kader partai tersebut baik kader yang diusung menjadi walikota/bupati maupun wakilnya.
Lalu siapakah yang diuntungkan dengan #2019GantiPresiden, tentunya tokoh-tokoh yang tidak memiliki partai seperti Anies, karena berpeluang eksis untuk nyapres. Selain itu, tokoh potensial lainnya seperti Prabowo, Gatot hingga AHY mendapat manfaat keuntungan dari gerakan tagar 2019 ganti presiden tersebut. Lalu bagaimana dengan PKS? Akan terasa berat, karena kadernya kalah pamor dengan tokoh-tokoh di atas. Itu menurut saya.
Terkadang hidup itu memang tidak adil, orang yang makan nangka, terkadang kita yang kena getahnya. Ada juga kita yang kerja mati-matian, tetapi orang yang menikmati hasilnya. Tetapi itu semua adalah sebuah konsekuensi kehidupan, bahwa tidak ada di dunia yang pasti dan selalu dengan apa yang diharapkan.
Udah ah, itu aja...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar