Senin, 09 Juli 2018

Dukungan Mengerikan Eks Panglima Perang Prabowo untuk Jokowi

Dukungan Mengerikan Eks Panglima Perang Prabowo untuk Jokowi

seword.com

Jul 9, 2018 5:49 PM

Politik memang sulit ditebak. Sekarang bisa menjadi sahabat dekat bahkan sangat dekat seperti saudara sendiri. Berjuang meraih tujuan bersama-sama, sependeritaan, senasib dan sepenanggungan. Tapi besok lusa kondisi tersebut sangat bisa berubah. Tadinya kawan sekarang jadi lawan.

Dulu merupakan panglima perang kita, sekarang berpindah menjadi Jenderal perang kubu lawan. Dulu sahabat dengan sekarang lawan yang paling tangguh. Begitulah politik, saya kira semua orang politik tahun akan hal itu. Tapi mengetahui belum tentu bisa menerima dengan lapang dada dan penuh kesadaran apabila hal ini benar-benar terjadi dan menimpa diri kita.

Mungkin itulah yang dirasakan Prabowo. Pada tahun 2014 lalu Prabowo didukung oleh berbagai partai besar. Sehingga apabila dilihat dari partai pendukung Prabowo harusnya menang mudah dari Jokowi. Tapi Pilpres langsung membuat partai pengusung hanya sebatas pengantar untuk memenuhi Presidential Treshold (ambang batas) 20% kursi DPR.

Untuk memenangkan Pilpres langsung harus memperhitungkan suara rakyat bukan hanya kekuatan suara DPR dan kekuatan mesin partai. Karena satu suara rakyat sampai dengan satu suara anggota dewan yang terhormat. Satu suara rakyat sama denan satu suara Jenderal.

Pada Pilpres 2014, orang-orang ini dengan lantang mendukung Prabowo Subianto. Mereka bahkan masuk dalam daftar tim sukses pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang kala itu melawan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Tapi akhirnya, Pilpres 2014 dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sebagai pendukung yang solid, tak jarang mereka mengkritik Jokowi. Namun siapa sangka, seiring waktu berjalan para timses Prabowo itu berbalik arah mendukung Jokowi. Mereka secara terang-terangan mengaku sudah sejalan dengan Jokowi dulu sempat dikritik. Berikut timses Prabowo yang kini dukung Jokowi:

Pertama. Ali Mochtar Ngabalin. Pada Pilpres 2014 lalu, Ali Mochtar Ngabalin menjadi anggota tim sukses pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Waktu itu dia memperkuat tim debat pasangan tersebut. Ngabalin juga sempat membuat geger dengan pidatonya yang siap mendesak Allah untuk berpihak kepada Prabowo-Hatta. "Kita mendesak Allah SWT berpihak pada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta Rajasa," katanya.

Namun sayang Prabowo-Hatta mesti gigit jari lantaran kalah oleh Jokowi-JK. Tahun demi tahun berganti, Ngabalin kini berbelok mendukung Jokowi. Dia bahkan diangkat menjadi Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden. Dengan posisi itu, Ngabalin tentu mesti mendukung setiap langkah yang Jokowi ambil.

Kedua, Idrus Marham. Mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham, merupakan koordinator Koalisi Merah Putih (KMP) pada Pilpres 2014 lalu. Koalisi parpol itu adalah barisan pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang merupakan lawan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Sebagai tim lawan, Idrus tak jarang melontarkan kata-kata pedas untuk Jokowi. Salah satunya ialah menyindir jika Jokowi tak menyelesaikan tugasnya sebagai gubernur DKI Jakarta. Jokowi malah mencalonkan diri sebagai presiden. "Apakah DKI Jakarta masih macet? Apakah DKI Jakarta masih banjir?".

Namun seiring berjalannya waktu semuanya telah berubah. Idrus kini berada dipihak Jokowi. Dia bahkan diangkat sebagai menteri sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Idrus pun sekarang tak lagi menyindir Jokowi, adapun sebaliknya mendukung dan memuji mantan wali kota Solo itu. "Kita punya keyakinan bahwa Jokowi dengan prestasi yang ada, peluangnya besar untuk memenangkan lebih dari 60 persen. Bahkan kita targetkan sampai 65 persen," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (16/4)

Ketiga, TGB Zainul Majdi. Muhammad Zainul Majdi atau yang lebih akrab disapa dengan nama Tuan Guru Bajang (TGB) sempat menjadi tim pemenangan Prabowo-Hatta pada tahun 2014. Saat itu TGB menjabat ketua pemenangan Prabowo-Hatta di wilayah NTB. Namun tak cuma 2014, TGB juga kembali ditunjuk menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo di Pilpres 2019. Meskipun sampai saat ini belum ada deklarasi pencalonan Prabowo sebagai capres 2019.

Meski dia ditunjuk jadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo, ternyata TGB lebih mendukung Jokowi untuk kembali menjadi presiden Indonesia. Hal itu lantaran dia menilai Jokowi merupakan tipe pemimpin pekerja keras.

"Suatu transformasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan Beliau untuk kembali melanjutkan," ucap TGB.

Manuver TGB ini menghebohkan perpolitikan Indonesia. Bahkan ada beberapa pihak yang memprediksi bahwa TGB akan menjadi Cawapres Jokowi.

Dukungan mengerikan eks panglima perang Prabowo untuk Jokowi mungkin akan membuat gentar oposisi yang memang belum solid. Apakah itu benar atau salah, waktu lah yang akan membuktikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar