Selasa, 26 Juni 2018

Rizieq Shihab Layak Pulang dan Dirikan Partai Gerakan Indonesia Hebat (Gerindhe)

Rizieq Shihab Layak Pulang dan Dirikan Partai Gerakan Indonesia Hebat (Gerindhe)

seword.com

Jun 23, 2018 6:07 PM

Kesuksesan Prabowo Subianto mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) memiliki sejarah panjang. Sejarah ini kiranya layak disimak Rizieq Shihab, Firza Husein dan semua para penyayang dan pendukung Rizieq.

Sebelum Gerindra lahir, Prabowo dikabarkan hijrah ke Yordania pasca Reformasi 1998. Cukup lama Prabowo habiskan waktu di sana, selain mondar-mandir ke Malaysia dan Eropa layaknya orang berada. Kisah Prabowo ini tentu tak bisa dibandingkan dengan Bang Toyib yang tak pulang-pulang. Pasalnya, Prabowo akhirnya pulang dan secara gagah perkasa mendirikan Partai Gerindra.

Sebuah kendaraan politik yang mampu menghantarnya menjadi Calon Wakil Presiden 2009 dan Calon Presiden 2014. Sebuah prestasi mencengangkan dari sebuah partai debutan. Hanya Susilo Bambang Yudhoyono dengan Partai Demokratnya yang bisa bikin Prabowo iri secara wajar.

Kehebatan Prabowo inilah yang layak menjadi inspirasi seorang Rizieq selama hijrah. Dengan bekal SP3 di tangan kiranya kasus chat mesum pun sekarang sudah mendapatkan pengharum. SP3 bisa menjadi senjata untuk menghadapi isu yang memfitnahnya. Kata-kata: "Chat itu fitnah!", tentu mulai bisa disuarakan secara terstruktur, sistematis, dan massif. Dimulai oleh Firza, kuasa hukumnya, Amien Rais, Mardani Ali Sera, Neno Warisman dan tentu saja Kak Emma.

Jangan lupa! Prabowo Subianto pernah alami tantangan yang lebih berat. Supaya mantan menantu Presiden Soeharto ini dibawa ke Mahkamah Militer bahkan pernah diserukan oleh tokoh sekaliber Amien Rais. Ketika sekarang mereka bisa runtang-runtung tentu menarik untuk ditelisik. Bahwa politik itu menyediakan berbagai kemungkinan. Maka jangan mudah dibodohi oleh tokoh-tokoh politik. Baik oleh pernyataan-pernyataannya, cuitannya, maupun kepura-puraannya.

Panggung politik itu bisa dianggap sebagai ajang mengurai ketegangan. Jangan malah sebaliknya. Santai saja menganalisa fenomena politik walau kadang penuh trik dan intrik. Kritik saja secara cerdas ketika ada permainan politik yang menjauh dari cita-cita NKRI. Contohnya ulah orang atau ormas yang ingin mengganti dasar negara. Mereka pantas didoakan baik dari tanah air dan kalau perlu dari tanah suci. Tujuannya supaya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Kembali pada sosok Rizieq, sahabat Firza dan Kak Emma ini tentu punya nilai plus dalam percaturan politik nasional. Sebagai orator agama yang tengah umrah saja hingga disowani Ketua Umum Gerindra dan dedengkot Partai Amanat Nasional. Padahal baik Prabowo maupun Amien Rais jelas berusia lebih tua. Hanya Dhimas Kanjeng yang berpotensi mengalahkan kharisma seorang Rizieq Shihab. Tanda bahwa ketokohan pemimpin aksi 212 ini tak bisa dipandang sebelah mata oleh mata-mata hingga mata uang asing.

Ringkasnya, Rizieq Shihab perlu memikirkan segera kepulangannya. Pulang untuk apa? Peluang termanisnya adalah mendirikan partai seperti pernah dilakukan Prabowo dengan Gerakan Indonesia Raya. Hidayah dan inayah yang diperoleh dari tanah suci kiranya cukup untuk meyakinkan pendukungnya mendirikan partai politik. Tanpa bermaksud memengaruhi hidayah yang sudah dalam genggaman, saya mengusulkan nama partai itu Gerakan Indonesia Hebat (Gerindhe).

Bagaimana dengan logonya? Tidak perlu tiru-tiru Gerindra dengan kepala burung garuda, lalu memakai kepala kambing. Selain dianggap zodiak Taurus, ingatan publik akan diarahkan pada kejadian sekitar kandang kambing. Supaya lebih hebat dari Gerindra, kapak naga geni 212 bisa jadi alternatif. Para pecinta sinetron Wirosableng murid Sinto Gendeng pasti terpikat selain tentu saja tujuh juta umat pendukung aksi 212.

Tujuh juta umat ini menjadi modal besar untuk nanti menjadi pemberi donasi Gerindhe. Selain bisa menjadi bukti bahwa aksi 212 memang dimeriahkan oleh tujuh juta umat.

Tidak mengapa 2019 belum bisa ikut Pemilu. Justru yang perlu diincar Rizieq bersama Firza dan Kak Emma adalah 2024. Bila PKS bisa tenggelam pada 2019, Gerindhe tentu bisa menjadi alternatif. Apalagi 2024 dipastikan ganti presiden. Pencapresan Rizieq Shihab dengan Cawapres Firza atau Kak Emma layak dipertimbangkan.

Bila Gerindhe belum pede dengan sosok Firza atau Kak Emma, Habiburokman dan Anies Baswedan bisa dipertimbangkan. Tidak menutup kemungkinan Agus Harimurti Yudhoyono dan Angelina Sondakh dari Partai Demokrat untuk mulai ditakar juga tingkat elektabilitasnya. Masih belum puas dengan nama-nama di atas? Jangan khawatir ada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang pasti sudah populer.

Bayangkan saja Rizieq Shihab Capres dan Ahok Cawapres pada 2024. Isu SARA akan tersumbat dengan sendirinya. Hoaks tak mempan, Amien Rais dipastikan nyaris menangis sambil meringis dan hati Fadli Zon bisa teriris-iris. Tentu dengan catatan keduanya betul-betul satu hati (one heart) untuk Indonesia semakin di depan dengan inovasi yang tiada henti. #IndonesiaHebat bersama Rizieq Shihab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar