Selasa, 10 Juli 2018

KANGSADEWA Adu Jago.

Episode 123

" *Ken Sagopi* "

KANGSADEWA
Adu Jago.

Di Widarakandang kehidupan para kawula berlangsung seperti biasa. Rara Ireng dan Rarasati membantu Ken Sagopi di dapur, karena Ken Sagopi sendiri sedang mengandung tua. Pragota kecil berlarian kesana kemari, kadang menggoda kakak-kakaknya. Yang digoda tidak marah, justru senang. Sedangkan Udawa yang sudah lama tidak mengurusi sapi-sapinya, kini menyusul ke padang penggembalaan, membantu para gembala. Sedangkan Ki Demang Antagopa sedang menerima beberapa orang bekel dan para jaga baya untuk membicarakan tentang keamanan kademangan. Mendadak datangnya seorang prajurit sandi negeri Mandura yang mengabarkan bahwa sepasukan prajurit yang kuat sedang menuju ke Widarakandang. Melihat dari gelagatnya mereka bermaksud tidak baik.
"Baiklah, akan kami sambut sewajarnya," tanggapan Ki Demang Antagopa yang tanpa prasangka.

Benar adanya, beberapa saat kemudian Ditya Kalanasura dan prajuritnya telah memasuki pendapa kademangan. Setelah mereka bertegur sapa sesuai adat kebiasaan dan menanyakan  siapa dan dari mana mereka berasal, Ditya Kalanasura kemudian menanyakan dimanakah anak berkulit bule dan anak yang berkulit hitam kebiruan.
"Mereka sudah beberapa pekan meninggalkan Widarakandang," jawab Ki Demang Antagopa.
"Kau jangan mengelabuhi aku! Pasti kau sembunyikan!" bentak Ditya Kalanasura.
"Untuk apa aku menyembunyikan? Mereka bebas pergi kemanapun mereka mau," jawab Ki Demang Antagopa.
"Tunjukkan mereka pergi kemana?!" Bentak Ditya Kalanasura.
"Aku sendiri tidak tahu kemana mereka pergi," jawab Ki Demang Antagopa.
"Kau jangan berbelit-belit!" bentak Ditya Kalanasura.
"Apa urusanmu kau membentak-bentak aku?" sanggah Ki Demang Antagopa.
"Aku bisa berbuat apapun disini!" Ditya Kalanasura mulai marah.
"Geledah rumah ini!" perintah Ditya Kalanasura kepada anak buahnya, perintah tak perlu diulang. Para prajurit segera menyerbu masuk.
"Jangan sembarangan masuk rumah orang!" cegah Ki Demang Antagopa.
Para bekel dan para jagabaya berusaha mencegah para prajurit untuk menggeledah kademangan.
Namun apa daya, para bekel dan para jagabaya  yang tua-tua itu bukan tandingan dari para prajurit pilihan dari Gowabarong. Dalam waktu singkat mereka sudah tak berdaya.
Demikian juga, Ki Antagopa yang baru bangkit dari tempatnya, langsung dihantam oleh Ditya Kalanasura. Ditya Kalanasura mengira Ki Demang Antagopa mempunyai bekal olah kanoragan yang memadai, sehingga tanpa ragu, ia memukul dengan kekuatan penuh. Yang terjadi sungguh mengenaskan, sekali hantam, Ki Antagopa langsung terjerembab di lantai pendapa, pingsan dan tak bangun lagi. Ditya Kalanasura tertawa terbahak-bahak menyaksikan Ki Antagopa terkapar di lantai.

Mendengar ribut-ribut di pendapa, Dewi Rarasati dan Dewi Wara Sembadra atau Dewi Rara Ireng berlari ingin mengetahui. Namun bagai _kutuk marani sunduk_ - menyongsong bahaya. Mereka menjerit sekuatnya, terkejut bukan kepalang melihat ayah mereka terkapar di ubin pendapa. Namun, mata liar Ditya Kalanasura segera menatapnya dan segera mengetahui, inilah dua gadis yang mereka cari. Dua gadis yang belum dewasa namun sangat mempesona, cantik jelita. Tanpa kesulitan, Ditya Kalanasura langsung menyambar keduanya. Ketika kedua gadis itu meronta-ronta, Ditya Kalanasura yang sakti itu segera menotok simpul syaraf mereka, keduanya pun pingsan. ........

_Bersambung............_

Petuah Simbah: _*"Yen wus dikuwasani nafsu angkara, ora bakal perduli marang wong liya, nadyan wanita, bakal diprawasa."*_
(@SUN-aryo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar