Pohon Plastik Nenek Lu!
seword.com
Jun 2, 2018 7:15 AM

Polemik pohon imitasi menjadi pemberitaan yang sangat viral kemarin. Banyak publik dibuat kebingungan dengan kebenaran mengenai pohon plastik. Beredar link pemenang tender 8 miliar yang dimunculkan langsung di website resmi mengenai e-APBD, yang dimulai di era Ahok.
Ada sebuah perusahaan yang tercatat alamatnya berlokasi di gang sempit, memenangkan tender senilai 8 miliar dengan nama proyek “tanaman dekorasi”. Lantas warga mengaitkan proyek senilai 8 miliar itu dengan proyek pohon imitasi yang ada. Ada beberapa alasan kuat yang menggiring opini warga.
Pemprov sendiri yang seolah-olah menggiring opini rakyat untuk mengaitkan proyek 8 miliar itu dengan tanaman imitasi yang ada. Mengapa bisa dikatakan begitu? Ada tiga alasan.
Pertama, pasca viralnya pemenang lelang yang abal-abal dan alamat di gang sempit itu, pemprov DKI buru-buru mencabut puluhan pohon yang menghalangi para pengguna jalan. Tentu hal ini membuat opini publik semakin liar, menganggap proyek pohon itu senilai 8 miliar. Anies diam, ia tidak mengklarifikasi hal tersebut.
Hal ini tidak kita temukan di era Ahok.Pemenang tender jelas, survey jelas, dan proyek senilai 8 miliar itu sudah pasti dicoret-coret tak karuan oleh Ahok. Tidak masuk akal di Jakarta ditanami pohon palsu.
Mau senilai 8 miliar atau 8 juta per pohon, tidak perduli berapapun nilainya, hal itu sudah pasti ditolak Ahok. Mungkin Ahok akan memaki pembuat proyek itu, menyelamatkan uang rakyat, dan sangat reaktif.
Galaknya orang ini, justru bisa menjadi kekuatan yang ia pakai. Ahok bahkan sempat mengaku, ketika ia dimaki “ANJING”, ia membenarkan hal itu. Ia menjaga tuannya yakni rakyat beserta uangnya.
Kedua, dengan koordinasi yang tidak jelas, gubernur Anies mengaku tidak tahu menahu mengenai pemasangan pohon, dan menuding bawahanya ngawur. Akhirnya pohon plastik itu dicabut, karena tidak ada koordinasi.
Hal ini tidak kita temukan di era Ahok.Sebelum pohon-pohon itu dicabut secara fisik, Ahok sudah mencabut di rancangannya. Ahok adalah orang yang teliti. Sampai jam 12 malam bahkan, ia ada di Balai Kota, memelototi rancangan yang dibuat. Ia sigap dari awal. Anies malah reaktif di akhir, setelah semuanya terbongkar.
Adalah Ahok, orang yang dicibir dan mengalami tekanan. Ia kerap dibully. Maka hal ini membuat dirinya sangat teliti dalam merancang anggaran. Sebelum muncul, ia harus menekan. Bayangkan jika uang 8 miliar itu muncul di era Ahok? Mungkin laskar-laskar akan mengancam: GANTUNG AHOK DI SINI (sambil tunjuk pohon plastik)
Tidak ada kata “tidak ada koordinasi” di kamus Ahok. Ahok sangat berkoordinasi, dengan bawahannya. Meskipun tidak seiman, seukuran, dan sepanjang mereka, Ahok sadar bahwa dirinya memegang amanat rakyat.
Uang rakyat harus dipakai seefektif mungkin. Sampai-sampai penyerapan anggaran di era Ahok terbilang minim. Bayangkan, penyerapan anggaran minim, itu karena strategi Ahok menggunakan dana-dana di luar APBD untuk membangun negara ini.
Lihat saja proyek NOL APBD, yang ada mengelilingi Semanggi. Simpang Susun Semanggi, mungkin harus ditambahkan lagi namanya “SSS, Non APBD”.
Ketiga, pemenang lelang itu tidak jelas. Ini yang mungkin membuat pihak pemprov keringat dingin, mencoba menjelaskan proyek 8 miliar itu. Tapi lebih seksi baginya untuk menepis isu pohon. Karena katanya, sekali lagi katanya Anies, pohon itu sudah ada tahun lalu. Ia malah mengeluh, dan bermain menjadi korban alias playing victim.
“Di era sebelumnya, pohon ini ditaruh, tidak ada yang protes. Kenapa di era saat ini diprotes?” itulah keluh Anies. Lantas ia menjadi korban, berhasil memposisikan dirinya sebagai korban.
Hal ini tidak kita temukan di era Ahok. Jika Ahok salah, ia akan meminta maaf. Ia tidak menuding bawahannya. Lelang yang berpotensi korup, akan segera dihapusnya. Dirinya tidak pernah membuat anggaran besar-besar, yang digunakan untuk bancakan.
Ahok tidak berkata tanpa data. Ahok selalu berkata dengan data. Jika ada yang salah, ia benahi. Inilah yang membuat Jakarta sempat maju dan berpengharapan.
Saat ini Anies sama sekali tidak memberikan harapan bagi kemajuan kota jakarta. Di era Anies, semuanya relatif, semuanya mudah menguap, termasuk uang berikut kata-katanya. Kata-kata menjadi lebih penting dari realisasi. Data tidak lagi penting. Opini menjadi mutlak. Kata-kata Anies menjadi mutlak, karena kata-kata Anies itu hanya sekadar opini.
Di saat-saat seperti ini, rindukah warga Jakarta dengan Ahok, dengan kata-kata“Pohon plastik nenek lu!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar