Fahri Hamzah Akhirnya Beber Alasan Selalu Santun dan Hormat di Depan Presiden Jokowi
tribun news
May 29, 2018 1:40 PM

Fahri Hamzah duduk di antara Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Presiden Jokowi saat buka bersama di rumah dinas Ketua DPR, Senin (28/5/2018)
TRIBUN-MEDAN.COM - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzahkembali menjadi sorotan netizen setelah tampil mesra dan harmonis pada Presiden Jokowi saat berbuka bersama di rumah dinas Ketua DPR Bambang Soesatyo, Kompleks Widya Chandra, Senin (28/5/2018).
Beragam meme muncul, mengingat selama ini Fahri paling royal melontarkan kritikan bahkan termasuk 'nyinyirin' pemerintahan Jokowi.
Dalam foto yang bereder di media sosial,Fahri Hamzah duduk di antara Presiden Jokowi dan Ketua DPR Bambang Soesatyo.
Terlihat Fahri tersenyum dan seolah mendengar sesuatu dari Presiden Jokowi.
Kemesraan ini bukan kali pertama terungkap. Sebelumnya saat Presiden Jokowi sebagai tuan rumah buka bersamadi Istana Negara, lagi-lagi Fahri Hamzahmenunjukkan sikap santun.
Menanggapi hal ini, Fahri Hamzah berkicau di akun twitternya, Selasa (29/5/2018).
Awalnya, Fahri mengunggah sebuah postingan foto ketika dirinya tampak akrab dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang selama ini kerap mendapat kritikan darinya.
Menurut Fahri Hamzah, mengkritik di ruang publik bukan berarti hubungan mereka di dunia nyata tak boleh mesra.
Fahri Hamzah pun mengungkapkan jika ada dua peran ekstrem di sekitar kekuasaan.
Diantaranya adalah peran yang tidak suka kritik dan peran penjilat.
Ia pun menuturkan bila perlu pemimpin pecat anak buah yang suka menjilat dan asal bapak senang.
Lebih lanjut, Fahri menegaskan jika dirinya tidak akan berhenti memberikan kritikan selama masih ada hal yang nyata salah.
Berikut pernyataan Fahri Hamzah terkait hal tersebut.
"Ini gambar yang dianggap oleh orang2 yang tidak paham bahwa #KritikItuSehat sebagai gambar yang ganjil.
Mereka mengira bahwa kalau kita saling mengkritik di ruang publik maka kita tidak boleh mesra.
Kalau bisa jangan bertemu dan bertegur sapa. Persis anak SD-SMP.
Di sisi lain, bukan karena kita bertemu presiden lalu ruang PUbLik kosong dari kritik.
Itu ekstrem yang berbahaya dalam kultur kita.
Kritik dianggap permusuhan tapi pertemuan sering hilangkan sikap kritis.
Senang main belakang dan tak mau terus terang. #KritikItuSehat
Kultur ekstrem itu yang melahirkan dua peran ekstrem di sekitar kekuasaan.
Ada peran yang tidak suka kritik lalu ingin membungkamnya dengan segala cara.
Wabah ini sedang terjadi.
Lalu ekstrem lainnya adalah penjilat dan ABS #AsalBapakSenang padahal #KritikItuSehat
Pembungkaman sedang marak, dari sekedar pelarangan (bredel) sampai operasi penangkapan dan kriminalisasi terhadap yg dianggap berbeda dgn rezim.
Ini tidak saja terjadi di media tapi juga terjadi di kampus, tempat mimbar kebebasan akademik seharusnya dijaga. #KritikItuSehat
Para penjilat di sekitar kekuasaan manapun selalu menawarkan jalan pintas pengendalian opini dan kebebasan.
Kalau tidak bisa menyuap dan menyogok atau membeli, maka mereka akan menggunakan kekuasaan untuk membungkam dan bahkan membunuh pengkritik. #KritikItuSehat
Dan bagi pemimpin yang bermental feodal, maka PRILAKU orang di sekitar yang suka menjilat dan #AsalBapakSenang akan menjamur.
Karena itulah pemimpin harus waspada dan berjiwa egaliter.
Itulah mental para pendiri bangsa Indonesia juga para nabi dan Rasul. #KritikItuSehat
Kita harus mentradisikan kembali kedewasaan berpolitik.
Kita harus kembali kepada falsafah Pancasila.
Pemimpin tidak boleh feodal apalagi Baper.
Pemimpin harus mentradisikan kritik dan keterbukaan.
Bila perlu pecat anak buah yang suka menjilat dan #AsalBapakSenang
Kritik saya kepada penguasa takkan henti apabila saya melihat secara kasat mata masih ada yang salah.
Dan kebetulan saya ada si kamar sebelah, kamar orang bicara dan berpendapat.
Maka, nampak sempurna di mata orang lain pun takkan membuat saya diam. #KritikItuSehat
Tuhan saja membiarkan iblis hidup sampai akhir zaman, kenapa kita sulit menerima kritik dan perbedaan? Tuhan maha sempurna dan dia pasti maha tahu
Kenapa pembangkang diperlukan.
Itu perlu kita pelajari untuk memperbaiki keadaan. Bukan mengembangkan ketakutan. #KritikItuSehat,
Mengelola perbedaan, dan melembagakan kritik serta melindunginya dari rasa takut adalah tugas kita dalam membangun negara demokrasi moderen yang beradab.
Tugas ini mulia sekali meski beresiko dalam kultur yang feodal. Kita mesti berani melawan rasa takut. #KritikItuSehat
Bismillah,
Mari tradisikan perbedaan pendapat. Karena seperti kata FDR, “Nothing to fear but fear itself”.
Bangsa kita HARUS Keluar Dari rasa takut akan perbedaan kita dan melampaui ya menjadi keberkahan bangsa. Itulah warisan terbaik kita. End. #KritikItuSehat," tulis Fahri Hamzah.
Sebutan Haji Jokowi
Dilansir dari kompas.com Ketua DPR Bambang Soesatyo sempat menyapa Presiden Joko Widodo dengan sebutan Pak Haji saat berbuka puasa bersama di rumah dinasnya, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Senin (28/5/2018).
Sapaan itu dilontarkan Bambang saat menyampaikan sambutan pembuka di awal acara.
"Salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati Presiden Republik Indonesia, Pak Haji Joko Widodo," ujar Bambang.
"Sebutan haji ini penting saya tekankan," kata dia.
Kemudian politisi Partai Golkar itu juga menyapa Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun ia sempat lupa untuk memanggil seniornya di Partai Golkar itu dengan sebutan Pak Haji.
Lantas Bambang pun meralatnya dengan nada bergurau.
"Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla...Maksud saya Pak Haji Jusuf Kalla," ucap Bambang.
"Tapi kalau Pak JK tidak sedang menghadapi Pilpres, tidak penting panggilan hajinya," tuturnya yang disambut dengan tawa seluruh tamu undangan yang hadir di situ.
Ia pun menyapa seluruh tamu yang datang. Mulai dari Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah menteri, pimpinan lembaga sampai para pimpinan partai politik.
Namun, ketika menyapa beberapa pimpinan parpol, Bambang memilih menyebut mereka sebagai para calon wakil presiden.

Presiden Joko Widodo menghadiri acara buka puasa bersama yang diadakan oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo di rumah dinas Ketua DPR, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Senin (28/5/2018).(KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)
Beberapa ketua umum parpol yang hadir antara lain, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy atau Romy dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan.
"Yang saya hormati para calon wakil presiden yang hadir dalam ruangan ini. Saya lihat tadi Pak Airlangga, Pak Romy, ada Pak Zul (Zulkifli Hasan)," ujar Bambang.
Politisi Partai Golkar itu juga menyebut nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar. Meski Muhaimin tidak hadir saat buka puasa bersama.
"Saya komunikasi juga dengan Pak Muhaimin Iskandar, beliau tetap cawapres," kata Bambang sambil terkekeh. Sontak seluruh tamu yang hadir ikut pula tertawa.
Setelah pidato sambutan, acara dilanjutkan dengan doa berbuka puasa oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar.
Presiden Jokowi tampak satu meja bersama Wapres Kalla, Bambang Soesatyo Ketua Komisi Yudisial Aidul Fitriciada dan Ketua MA Hatta Ali.
Saat waktu bedug tiba, Presiden Jokowi tampak membatalkan puasanya dengan hidangan takjil yang disediakan, antara lain air mineral dan kurma.
Usai itu, acara dilanjutkan dengan salat maghrib berjamaah.
Hadir pula sejumlah menteri, pimpinan DPR, pimpinan Komisi dan fraksi serta ketua umum partai politik dalam acara buka puasa bersama tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar