SBY Marah Karena Jokowi “Licik” di Detik-detik Terakhir Pendaftaran
seword.com
Jul 10, 2018 8:55 AM
SBY marah betul , karena sampai sekarang masih belum jelas siapakah cawapres yang dipilih Jokowi. SBY bingung ambil keputusan untuk menentukan strategi . Strategi baru bisa dibuat setelah tahu cawapres yang nantinya mendampingi Jokowi.
Tunggu punya tunggu. Jokowi toh masih santai-santai , belum mau umumkan cawapres. Malah menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan cawapres. Jokowi malahan punya 10 bakal cawapres, tinggal ambil salah satu. Cawapres dari berbagai latar belakang. Ada politikus, ada cendikawan, ada purnawirawan TNI/Polri, ada teknokrat dan juga ada profesional. Menunggu lama bikin SBY stres. Seolah-olah SBY dipermainkan Jokowi. Akhirnya SBY ngamuk juga.
Musuh bebuyutan SBY, Megawati menanti cuaca cerah untuk mengumumkan nama cawapres Jokowi. Duh, ungkapan “cuaca cerah “ punya beragam tafsir. Bisa dimaknai secara harafiah , juga bisa dalam arti menunggu situasi politik yang mendingan. Entahlah kapan , pokoknya deh, cari waktu atau momen yang tepat untuk umumkan nama cawapres tersebut.
Sebagaimana disampaikan Sekjen PDI Perjuangan , dalam keterangan tertulis Megawati berujar ” Pengumuman dilakukan pada momentum tepat dan dalam cuaca yang cerah, secerah ketika matahari terbit dari timur. Jadi tunggu saja dan sabar “.
Walaupun hanya kata “cuaca cerah”, sudah bikin kelabakan lawan politik Jokowi. SBY bingung harus bagaimana , abis tuh belum jelas cawapres Jokowi. Biar tahu rasain. Jangan pikir, SBY satu-satunya ahli strategi.
Biar cuma rakyat biasa dan bukan militer, Jokowi juga bisa merangkap ahli strategi . Jokowi politikus ulung, barangkali kebanyakan baca buku strategi perang Sun Tzu
Tetapi seperti biasanya, SBY pinter merekayasa kata-kata. SBY mengecam bila Jokowi baru menentukan cawapres pada akhir masa pendaftaran calon presiden-calon wakil presiden pada tanggal 4 – 10 Agustus 2018 besok.
SBY menuding Jokowi mengunci partai politik pendukung Jokowi agar tetap dalam koalisi. Sehingga partai politik yang berkoalisasi tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak bisa menolak cawapres Jokowi.
SBY menekankan ...
“ Jokowi harus memperhatikan etika dalam berkoalisi dimana tidak boleh menipiskan peluang partai memajukan kadernya menjadi capres atau cawapres. Biarkan para ketua umum berdiskusi , bermusyawarah , kalau sekiranya peluang kader jadi cawapres tipis, maka mereka bisa berpindah sisi. Politik itu begitu cair “.
Pendeknya, SBY sepertinya menuduh Jokowi licik, karena memanfaatkan kesempitan /waktu mepet.
Duh, SBY menggurui Jokowi tentang etika. Padahal SBY sendiri juga pernah berbuat sama. Perlu penulis ingatkan kembali pada beberapa tahun lalu SBY keluar sebagai menteri Polhumkam, setelah ribut-ribut dengan Megawati saat itu sebagai presiden Indonesia. Sehingga timbul pemikiran di otak cangkok rakyat , presiden Megawati kasar dan mengusir menteri SBY. Rakyat jadi kasihan dan membela SBY. Momen itu segera dimanfaatkan untuk berkampanye dimana SBY sebagai calon presiden dan partai politik barunya. . Tidak lama kemudian langsung mendaftar sebagai calon presiden dengan wakil presiden Jusuf Kalla. Padahal jarak waktu SBY dikeluarkan Megawati dengan waktu SBY mendaftar sebagai calon presiden TERLALU MEMPET. Sehingga Megawati kelabakan atau belum siap menghadapi SBY karena Megawati tidak menyangka dan belum sempat memperhitungkan kekuatan SBY.
Strategi SBY nan licik berhasil, akhirnya terpilih sebagai presiden berkat rasa iba rakyat. Rakyat dibodohi oleh drama melakonis yang dilakoni SBY , dimana SBY jadi korban kekejaman dan Megawati pelaku kejam . Ibarat SBY bagaikan “putri cinderella” dan Megawati bagaikan ibu tiri”.
Nah, SBY dan Jokowi sama-sama memanfaatkan waktu yang sempit/waktu mepet. Maka SBY tidak berhak sama sekali menegur atau menasehati Jokowi tentang etika berkampanye.
Lalu mengenai partai politik koalisi pendukung Jokowi, partai politik manapun punya prinsip dan tidak bisa diatur-atur serta pasti memperhitungkan untung ruginya. Partai politik pendukung Jokowi menyerahkan keputusan kepada Jokowi untuk memilih sendiri calon wakil presiden. Partai politik pendukung Jokowi hanya tahunya Jokowi harus jadi presiden lagi , dua periode.
Apabila umumkan cawapres di detik-detik terakhir pendaftaran , itulah bukan melanggar hukum. Tetapi namanya strategi yang cerdas untuk cari kemenangan mutlak. Karena lawan politik Jokowi tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan serangan kepada Jokowi . Lawan politik Jokowi agak kesulitan ambil strategi atau tentukan strategi yang tepat selama belum mengetahui cawapres Jokowi.
Otak cangkok SBY dengan otak cangkok Jokowi sama-sama ahli strategi, tapi beda kualitas.
Presiden Jokowi tenang kerja kerja kerja di tengah-tengah kebingungan lawan politik. Negara haruslah tenang dan stabil , agar pelayanan publik tetap optimal ,jangan dipengaruhi hiruk pikuk politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar