Rakyat Sudah Membuat Memoar untuk Jokowi dan Ahok, SBY Berencana Membuat Memoar Sendiri, Semangat Pak!!!
seword.com
Jul 9, 2018 7:59 PM
Menjadi sebuah legenda adalah hal yang keren. Legenda tersebut tentu saja sebuah legenda yang baik, bukan legenda yang buruk. Manusia tidak akan bisa hidup abadi, tetapi manusia bisa abadi dalam bentuk lain, baik itu berupa karya, penemuan hingga apa yang telah diperbuat di masa kehidupannya. Wajar jika banyak orang mencoba membuat buku sebagai upaya mengabadikan namanya. Meskipun begitu, tidak serta merta, dengan menerbitkan sebuah buku, nama sang penulis akan menjadi sebuah legenda, karena itu semau kembali kepada penilaian masayarakat.
Seorang tokoh yang besar, akan menggoreskan tinta sejarah dengan sendirinya. Meskipun katanya sejarah ditulis oleh pemenang, tetapi hal yang benar tidak dapat disembunyikan begitu lama, karena namanya bangkai akan tercium juga.
Misalnya, di zaman orde baru, nama Soeharto sebagai bapak pembangunan dibuat sedemikian rupa. Anak-anak sekolah pasti mempelajarinya. Tetapi ketika kasus korupsi terkuak, hingga krisis moneter pun terjadi, sejarah yang dulu begitu harum saya pelajari di sekolah mengenai Soeharto pun lama-kelamaan hilang.
Berbeda dengan Soekarno, meskipun kesannya dilengserkan, tetapi namanya tetap harum. Bukan di Indonesia saja namanya abadi dan tetap hidup, dunia pun mengakui itu. Catatan sejarah yang dilakukan berdasarkan tindakan, dapat dinilai oleh masyarakat tidak akan pernah luntur dan hilang meski berusaha ditutup-tutupi. Soekarno tidak perlu menulis buku tentang dirinya, tetapi justru masyarakat yang akan menulis tentang dirinya, sama halnya dengan Gusdur. Karena kerja keras tidak akan menghianati hasil.
Presiden selain Soeharto yang memimpin negara ini cukup lama adalah SBY. Selama dua priode beliau sukses mengambil hati rakyat untuk selalu memilihnya. Bahkan Megawati, anak biologis sekaligus anak ideologis Soekarno pun dapat ia tumbangkan dua kali. Padahal secara hitung-hitungan, PDI P memiliki suara yang begitu besar pada kala itu.
Menjadi hal yang wajar, prestasi dari SBY tersebut diabadikan dalam sebuah buku. Apapun itu, melalui sebuah memoar, supaya orang-orang termasuk saya dapat membaca kisah hidupnya. Karena jujur, meskipun beliau 10 tahun memimpin Indonesia, saya sangat minim pengetahuan tentang apa saja yang sudah beliau lakukan.
Wacana pembuatan memoar SBY setelah lengser harus kita dukung. Kita mesti menyambutnya dengan gegap gempita, hal tersebut penting bagi kita untuk mengetahui apa saja yang belum kita ketahui terkait yang telah beliau lakukan untuk negeri ini. Karena sebagai rakyat yang baik, kita meski tahu terima kasih dengan memberi apresiasi kepada orang yang telah bekerja untuk rakyat dan negara selama 10 tahun tersebut. Marilah kita tunggu, informasi apa saja yang akan kita dapat.
Secara pribadi, saya kagum dengan pak SBY yang dapat menang dua priode dalam pilpres. Begitu pula dengan pak Jokowi, meskipun belum genap satu priode, saya juga sudah dibuat kagum oleh Jokowi. Kekaguman saya bukan karena Jokowi mampu menjadi presiden , tetapi karena kinerja Jokowi.
Jokowi, meskipun belum lengser, rakyat sudah membuatkan memoar. Contohnya di seword, rakyat jelata menuliskan tentang apa saja pencapaian Jokowi. Selain secara online yang dapat dinikmati dengan mudah oleh masyarakat, berbentuk buku pun telah dicetak. Ini yang di seword, dan ada juga buku yang berisi tentang Jokowi lainnya yang saya baca. Bukan hanya buku, film Jokowi pun sudah pernah dibuat. Belum lagi, patung lilin pun sudah ada di Hongkong, bersama patung lilin Soekarno dan tokoh-tokoh dunia lainnya.
Hampir sama dengan Jokowi. Ahok meskipun baru menjadi Gubernur, tetapi rakyat sudah banyak yang menuliskan memoar tentang dirinya. Selain itu, fenomena Ahok pun sudah dicatat oleh dunia. Pada tahun 2016, berkat Ahok, Jakarta diajak bergabung dalam jaringan 100 Resilient Cities atau 100 RC. Hal ini terkait bangun ketahanan kota seluruh dunia.
New York Times pun memuji Ahok. Dalam koran tersebesar di AS tersebut, pada tahun 2016 menuliskan tentang Ahok pada halaman A10 dengan judul “Run by Jakarta Governor Up ends Indonesia’s Party Politics".
Tidak hanya itu, Ahok pun masuk ke dalam ‘Global reThinkers 2017’. Nama yang masuk ke dalam daftar tersebut merupakan nama-nama yang dianggap sebagai tokoh terkemuka dan intelektual versi pilihan majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat. Untuk lebih lanjutnya baca link pendukung opini saja ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar