Berdoalah Besok “Cuaca Cerah” karena Jokowi akan Umumkan Cawapresnya
seword.com
Jul 9, 2018 7:21 PM
Posisi Cawapres menjadi sorotan publik sekarang ini. Karena untuk Capres hampir dipastikan Jokowi akan maju lagi. Sebenarnya Prabowo pun hampir dipastikan maju jadi Capres di Pilpres 2019 nanti. Tapi dinamika politik dan seakan merubah persepsi publik meragukan apakah benar Prabowo maju sebagai Capres atau malah mengusuk tokoh lain.
Pendaftaran Capres dan Cawapres untuk Pilpres 2019 nanti sekitar sebulan lagi. Kubu yang akan mencalonkan Capres dan Cawapres mempercepat pencarian Capres dan Cawapres. Pihak oposisi berjibaku tapi sampai sekarang komposisi oposisi masih tidak karuan, belum tergambar dengan jelas. Apakah Gerindra dengan PKS, PAN dan Partai Demokrat, atau Gerindra hanya dengan PKS. Apakah Partai Demokrat berhasil membuat poros baru yang katanya akan disebut koalisi kerakyatan? Masih gelap belum terlihat jangankan wujudnya, bayangannya pun masih samar-samar.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dipastikan maju kembali pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memutuskan mengusung kembali pada Pilpres 2019. Sebelumnya beberapa partai politik (parpol) sudah memastikan mengusung kembali Jokowi. Antara lain Partai Golkar, Hanura, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Nasdem. Dukungan dari lima partai cukup menjadi modal Jokowi maju kembali.
Setelah Jokowi resmi diumumkan maju teka-teki publik ialah siapa yang akan mendampingi menjadi calon wakil presiden (cawapres)? Sejumlah nama disebut pantas mendampingi. Mulai Jusuf Kalla, Gatot Nurmantyo, Muhaimin Iskandar, Puan Maharani, Sri Mulyani Indrawati. Namun sejauh ini belum ada nama yang mengerucut. Masih cukup waktu untuk menimang sosok cawapres yang layak diusung.
Jusuf Kalla mengaku patuh pada konstitusi. Pasal 7 UUD 1945 mengatur : ”Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”. Tentu sikap kenegarawanan Jusuf Kalla pantas dipuji dan tidak perlu dipergunjingkan lagi.
Yang tidak kalah krusial tentu saja mencari siapa yang akan mendampingi Jokowi sebagai cawapres setelah Jusuf Kalla terganjal konstitusi. Sosok Jusuf Kalla di era Jokowi tidak hanya sekadar ban serep seperti pada era-era sebelumnya. Jusuf Kalla tampil menjadi penyeimbang bagi Jokowi. Dengan latar belakang politisi senior dan berasal dari Indonesia Timur, Jusuf Kalla menjadi representasi Indonesia bagian Timur. Penampilan Jusuf Kalla yang bukan ketua umum partai tidak menciptakan matahari kembar.
Bagi koalisi pendukung Jokowi setidaknya perlu mencari sosok yang mumpuni mendekati Jusuf Kalla. Jusuf Kalla mampu melengkapi yang kurang pada diri Jokowi. Pertama, cawapres yang menjadi pendamping Jokowi harus mampu mengangkat keterpilihan kembali Jokowi dalam Pilpres 2019. Selain mempunyai elektabilitas yang tinggi juga diharapkan mampu melanjutkan kepemimpinan Jokowi dalam Pilpres 2024. Dengan kepuasan publik pada kisaran 70% dan tingkat keterpilihan di angka 54% (survey Poltracking, Januari 2018) sebenarnya tidak sulit bagi Jokowi untuk mengalahkan pesaingnya dalam Pilpres 2019 mendatang.
Kedua, kubu Jokowi perlu mengamati pergerakan survei yang dilakukan lembaga-lembaga survei terkait elektabilitas cawapres yang hendak diusung. Belajar dari pengalaman dalam Pilpres 2014 ketika ada lembaga survei berpihak dengan mengingkari kebenaran. Bisa jadi ada lembaga survei abal-abal yang sengaja diciptakan untuk menggiring opini publik terkait elektabilitas seseorang namun survei itu ternyata hoax dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, Jokowi dan parpol pendukungnya harus memperhitungkan tahun 2019. Posisi Jokowi adalah sebagai petahana. Sekalipun diprediksi ke luar sebagai pemenang, tetap harus berhati-hati dari jebakan lawan politik. Dengan peta semacam itu tentu tidak mudah bagi koalisi parpol pendukung Jokowi mengusung cawapres yang hendak diusung. Pendek kata sosok cawapres menjadi sangat diperhitungkan bagi Jokowi.
Kabar terbaru pertemuan antara Jokowi dan Megawati telah memutuskan kapan diumumkannya nama Cawapres untuk Jokowi. Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menanti cuaca cerah untuk mengumumkan nama cawapres Joko Widodo. PPP menyebut pengumuman itu tak akan lama lagi. Ungkapan 'cuaca cerah' yang disebut Mega memiliki tafsir beragam. Bisa dimaknai secara harfiah atau bisa pula diartikan menunggu situasi politik mendingin.
Nama bakal cawapres Jokowi memang sudah kian dipersempit. Nama-nama itu, tentu tak lepas dari sejumlah nama yang sejak awal sudah dibahas. Kita hanya berdoa supaya besok “cuaca cerah” supaya publik bisa segera tahu siapa nama Cawapres Jokowi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar