Bangun Jembatanmu
Ray dan Toni adalah dua bersaudara yang membangun rumah secara berdampingan di tanah yang sangat luas. Selama 40 tahun mereka hidup dalam kerukunan, namun suatu hari hubungan mereka putus karena kesalahpahaman yang tidak dibereskan. Suatu pagi seorang pria mengetuk rumah Ray. “Tuan, saya ini seorang tukang kayu yang sedang membutuhkan pekerjaan. Jika Tuan berkenan memberi saya pekerjaan maka saya akan bekerja dengna baik,” kata pria itu. “hmmm… ya, saya punya pekerjaan untukmu,” jawab Ray. Ray mengajak pria itu ke halaman rumahnya sambil menunjuk ke hamparan halamannya yang luas dan berkata, “Kau lihat rumah yang di sana? Itu adalah rumah tetanggaku, yang sebenarnya adalah adik kandungku. Beberapa waktu yang lalu dia membuat danau yang memisahkan tanahku dengan tanahnya. Aku tidak mengerti untuk apa dia membangunnya, mungkin untuk mengejekku, namun aku akan membalasnya dengan menggunakan keahlianmu. Di sana ada banyak kayu milikku… aku ingin engkau membangun pagar yang sangat tinggi sehingga aku tidak lagi melihat rumah itu. Aku ingin melupakannya.” “Saya mengerti maksud Tuan. Tolong belikan saya paku dan beberapa material, saya akan membuat hati Tuan senang,” jawab tukang kayu itu.
Setelah itu si tukang kayu mulai bekerja keras sepanjang hari, dan sore harinya Ray memeriksa pekerjaan si tukang kayu. Emosi Ray naik hingga ke ubun-ubun ketika melihat si tukang kayu telah mendirikan jembatan yang indah untuk menghubungkan kembali tanah miliknya dengan milik adiknya. “Mengapa kau malah membangun jembatan di atas danau yang memisahkanku dengan adikku?” Katanya dengan geram. Sementara itu dari seberang, Toni berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri Ray. Melihat itu Ray pun berjalan melalui jembatan tersebut sambil mempersiapkan dirinya untuk sebuah pertengkaran. Setelah dekat, dengan wajah yang memelas Toni berkata, “Kak, engkau sungguh baik mau membangun jembatan ini, padahal sikap dan ucapanku pasti telah menyakiti hatimu. Maafkan aku ya kak.” Mendengar perkataan Toni, luluhlah sudah panas di hati Ray. Ray yang sebenarnya sangat merindukan Toni segera menyambut kerendahan hati adiknya dengan pelukan sebagai tanda mengampuni. Melihat pemulihan itu si tukang kayu bergegas untuk pergi dan ketika dia diminta untuk tinggal beberapa hari bersama mereka, dia menjawab, “Saya ingin tinggal lebih lama, tetapi masih banyak jembatan di tempat lain yang harus saya bangun.”
Adakah jembatan kasih kita dengan orang tua, anak, kakak, adik, mertua, menantu, sahabat atau tetangga kita sedang terputus? Mari kita bangun kembali jembatan itu. Tinggalkanlah harga diri yang semu dan kesombongan yang membatasi hidup kita. Segeralah berdamai dan rasakanlah keindahan dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar