Massa #2019GantiPresiden Merusak Semuanya, Malah Bikin Kacau, Lawan Jokowi Bisa Jadi Gagal
pojok satu
Apr 30, 2018 7:51 AM

Seorang ibu mengenakan kaos #DiaSibukKerja diolok-olok saat melakukan aksinya di CFD, Minggu (30/4/2018).
POJOKSATU.id, JAKARTA – Bermula dari video dugaan persekusi massa #2019GantiPresiden terhadap aksi Pro Jokowi yang menyebar di media sosial.
Dari video itu tampak seorang ibu yang mengenakan kaos dukungan terhadap Jokowi #DiaSibukKerja bersama anaknya berjalan di Car Free Day (CFD), Minggu (29/4/2018).
Tampak massa #2019 mengerumuni si ibu dan membullynya. Bukan itu saja, dalam video itu tampak si ibu juga sempat kesulitan bergerak karena dikelilingi massa.
Namun dengan konsistennya ia terus berjalan. Bahkan si ibu muda itu mengatakan pada anaknya untuk tidak takut.
“Kita nggak takut ya, kita benar, Kita nggak akan pernah takut,” ujar ibu itu kepada anaknya.
Di peristiwa lain, tampak seorang berkaos dukungan terhadap Jokowi juga mendapat perlakuan persekusi lain.
Ia diolok-olok dengan sejumlah uang menyindir seolah-olah massa Pro Jokowi adalah massa bayaran.
Massa #2019GantiPresiden mengeluarkan beberapa lembar uang lalu dikibas-kibaskan sehingga mengganggu langkah warga yang mengenakan kaos Pro Jokowi.
Sontak saja aksi yang dilakukan massa Ganti Presiden itu menuai kecaman dari berbagai pihak.
Mantan Ketua MK Mahfud MD menyatakan tindakan mereka membuatnya pilu.
“Mau ganti Presiden itu hak, mau mempertahankan Presiden itu hak. Silahkan saja, itu ada mekanisme konstitusionalnya. Tapi hati saya sangat tersayat dan menangis jika ada ibu yg hanya berduaan dgn anaknya dipersekusi ramai-ramai. Mudah2an video yg menyayat hati itu hny hoax krn montase.” ujarnya.
“Gilaa.. Barbar begini,” ujar Sutradara Joko Anwar.
“Kapan pintarnya kalau senangnya mengganggu perempuan, anak-anak dan orang jalan sendirian? Darurat waras.” kata pemilik akun @gitaputrid.
Tak berhenti kecaman dari sejumlah pihak, apalagi termasuk dari pendukung Jokowi, dukungan dari gerakan Ganti Presiden tetap bermunculan.
Aksi mereka tetap menuai simpati. Bahkan di medsos tetap ada saja yang sampai melakukan serangan balik pada aksi serupa pendukung Jokowi.
“Ada yg bilang “diasibukkerja”,kerja utk siapa?. Yg jelas rakyat makin susah, harga2 meroket, buruh asing jd sejahtera disambut karpet merah.” ujar Fadli Zon.
“Mulai hari ini, #2019GantiPresiden telah menjadi “public sphere”: ruang argumentasi publik. Bagus buat demokrasi!” kata Rocky Gerung.
“Kemarin ada kumpulan masa menyemut di satu titik, diimingi kupon sembako murah.
Hari ini ada kumpulan masa menyebar di beberapa titik, tanpa kupon bahkan beli sendiri kaosnya.” kata perencana keuangan Ahmad Ghozali.
“Kalau melihat disain kaos #2019GantiPresiden yg dipakai warga, sangat beragam, warna berbeda, huruf berbeda, dll. Bukan kaos yg biasa disebarkan politisi atau tokoh politik: seragam. Objektif aja.” cuit Indra J Piliang.
“Tetaplah waspada, jaga niat dan semangat, #2019GantiPresiden, tetap dg cara konstitusional. Jangan tersusupi dan terprovokasi. Jangan juga ikutan yg kemaren jadikan Monas lautan sampah. Jagalah ketertiban dan kebersihan. Itulah juga yg membedakan.” kata Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.
Tahun politik memang sudah kian dekat. Atmosfir panasnya gerakan dukungan politik sudah mulai terasa sejak lama.
Jika polarisasi masih saja tetap demikian terpecah dalam dua kekuatan besar, bukan tidak mungkin hingga lima tahun ke depan aroma kebencian dan perpecahan tetap akan terjadi.
Sentimen-sentimen yang muncul di arus bawah akan bisa membawa dampak suasana yang akan tidak sangat mengenakan.
Resikonya, generasi muda bisa lagi menjadi apatis politik paling pertama disebabkan kemuakkan melihat kondisi saling benci yang amat dalam dan panjang.