*ANALISA RASIONAL*
*NU DAN MUHAMMADIYAH MULAI TERSINGKIR OLEH ISLAM TRANS-NASIONAL*
Upaya terselubung Islam *Anyaran* untuk mendirikan *Khilafah Daulah Islamiyah* :
1. Siapa di Indonesia yang tak kenal *Nahdlatul Oelama* dan *Muhammadiyah* ?
Di atas kertas, merekalah dua Organisasi Islam terbesar di RI.
2. Sekitar 85 juta umat Islam di Indonesia adalah NU, dan 50 juta Muhammadiyah. Artinya, sekitar 65 % seluruh penduduk muslim Indonesia.
3. Ini jumlah yang besar, tapi dalam kenyataannya, tampaknya 135 juta anggota NU dan Muhammadiyah hanya sebatas *besar di angka statistik* semata.
4. Buktinya ? Lihat bagaimana NU dan Muhammadiyah tidak bisa lagi memegang Kepemimpinan Ummat.
5. Ummat justru dikendalikan oleh pergerakan Islam Trans-Nasional yang di Indonesia telah menjelma dalam wujud Islam *”anyaran / baru”.*
6. Mereka adalah penerus gagasan *Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tharir* yang ingin mendirikan *Khalifah Daulah Islamiyah.*
7. Pelan-pelan, mereka terus menggerus Kepemimpinan NU dan Muhammadiyah yang masih setia dengan Pancasila dan NKRI.
8. Kenapa itu bisa terjadi ? Karena kelompok Islam "anyaran" itu justru dibiarkan tumbuh subur di era SBY (2004-2014).
9. Dalam 10 tahun itu, kelompok Islam Trans-Nasional banyak mendapatkan ruang hidup, memperoleh subsidi dan juga difasilitasi untuk tumbuh.
10. Dengan cara itu, kelompok Islam Trans-Nasional makin besar.
Mereka mulai memotong kaki NU dan Muhammadiyah di Mesjid, Pengajian, dan Sekolah.
11. Awalnya Islam Trans-Nasional hanyalah kelompok kecil yang mulai hadir pada era tahun 1970-an.
12. Di era Orde Baru mereka masih tiarap, tapi setelah reformasi mereka mulai unjuk gigi.
13. Melihat tren ini, SBY *justru membiarkan* kelompok ini untuk bergerak dan mengakomodasi mereka untuk memperkuat kekuasaannya.
14. Akhirnya, kelompok Trans Nasional tumbuh, bantuan asing dari Timur Tengah, Dana *Wahabi* mengalir deras bersamaan dengan fasilitasi dari SBY.
15. Selama 10 tahun cukup untuk mereka membesar dengan Dana Asing yang tidak ber-seri (sangat banyak).
16. Mari lihat satu-persatu para Islam Trans-Nasional yang mulai membuat NU dan Muhammadiyah gigit jari.
17. Pertama, *Ikhwanul Muslimin* atau yang sering dikenal dengan nama *Moslem Brotherhood* kalau di luar negeri.
18. Didirikan di Mesir pada Maret 1928, saat ini mereka menyebar di 70 negara dengan menggunakan metode Halaqah.
19. Gerakan Ikwan terbelah menjadi 2 arus utama : *Ikhwan Tarbiyah* yang menjadi cikal bakal *Partai Keadilan Sejahtera.*
20. Serta *Ikhwan Jihad* yang gunakan kekerasan yang jadi embrio *Jamiatul Muslimin*, *Jama’ah Islamiyah* dan *Jamaah Jihad* yang berujung pada *Al Qaeda.*
21. Di Indonesia, *Ikhwanul Muslimin dideklarasikan tahun 1994,* lebih banyak gerak di kelompok Tarbiyah SMA dan Perguruan Tinggi (LMD/ LDK).
22. Setelah reformasi, mereka berubah bentuk jadi *Komite Aksi Muslim Indonesia*, lalu berubah jadi *Partai keadilan* dan selanjutnya jadi *PKS.*
23. Tujuan utama Ikhwan Tarbiyah yaitu membentuk *Daulah Islamiyah* dengan cara non kekerasan.
24. Mereka manfaatkan instrumen demokrasi dengan mendirikan partai dan merebut kursi di Parlemen untuk mewujudkan cita-cita *Daulah Islamiyah.*
25. Mereka turut bentuk jaringan *Ikhwan Tarbiyah* di seluruh dunia, yaitu *The International Forum for Islamic Parliaments (IFIP).*
26. IFIP pernah adakan pertemuan di Indonesia tahun 2007 di Jakarta, bahkan Jakarta ditetapkan sebagai Sekretariat IFIP.
27. Waktu itu SBY dengan bangga membuka acara IFIP di Jakarta.
m.tempo.co/read/news/2007…
28. Sedangkan *Ikhwan Jihadi* atau Ikhwan sayap radikal muncul di Indonesia setelah dipicu oleh perang Afghanistan.
29. Dan gerakan ini menemukan bahan baku pada aktivis Darul Islam Indonesia (DII)*.
Kelompok ini juga dirikan *Jammaah islamiyah (JI)* pada tahun 1991.
30. Tujuan utamanya : Mendirikan Khilafah Islamiyah dengan menggunakan metode kekerasan. allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/09/
31. Kedua, adalah *Hizbut Tahrir* yang menolak konsep demokrasi dan menekankan tentang paham kekhalifahan.
32. HTI jelas tidak menerima NKRI dan Pancasila.
HTI juga tidak mau hormat kepada bendera merah Putih. muslimedianews.com/2014/08/ustadz…
33. Metode perjuangan HTI adalah kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan.
34. Gerakan HT di Indonesia berawal dari aktivis masjid kampus Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor yang disebarkan melalui halaqah-halaqah.
35. Kader-kadernya HTI aktif melakukan sosialisasi dan kaderisasi dengan memanfaatkan Masjid-masjid.
36. Sejalan dengan gerakan Tarbiyah, mereka juga lakukan kaderisasi ke sekolah dan kampus-kampus, selain mengajak ke pengajian HT Indonesia.
37. Karakter dari HTI : angkat isu struktural dan global, bahaya kapitalisme, dominasi USA serta sistem ekonomi dan politik alternatif.
38. Jawaban mereka (HTI) hanya satu : *ganti NKRI dengan sistem Khalifah*. Bagi mereka Khalifah adalah harga mati !!!
39. Ketiga adalah gerakan *Salafi Dakwah* dan *Salafi Sururi* yabg berkembang dengan bantuan dana pemerintah *Arab Saudi.*
40. Awalnya mereka adalah alumni *Lembaga Ilmu pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)*. Perkembangan mereka berbasis pesantren.
41. Keempat adalah *Syiah* yang berkembang setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan menyebarnya alumnus Qum.
42. Di Indonesia muncul dua organsiasi Syiah : pertama, *Lembaga Komunikasi Ahlul Bait* yang merupakan wadah alumni Al Qum.
43. Organisasi kedua tergabung dalam *IJABI* yang lebih berkiblat ke Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah.
44. Pengikut Syiah keturunan Arab lakukan bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri).
Jaringan Syiah yang kuat ditemukan di Jatim dan Pekalongan.
45. Di era SBY, perkembangan Syiah dianggap ancaman oleh kelompok Sunni termasuk Tarbiyah dan HTI karena Iran sangat mengganggu kepentingan Arab Saudi.
46. Inilah yang membuat kelompok *Wahabi* justru menyerang kelompok *Syiah dan Ahmaddiyah.*
47. Sekali lagi demi dukungan, menyingkirkan NU dan Muhammadiyah, maka jaringan SBY fasilitasi konflik Sunni-Syiah ini.
48. Kelima adalah *Jamaah Tablig* juga masuk kategori Gerakan Trans-Nasional.
49. Jamaah Tablig ini berpusat di perkotaan dan bersifat non-politis. Anggotanya kurang lebih 20.000 orang.
50. Dalam 10 tahun di era SBY, gerakan Islam Trans-Nasional banyak menggerogoti basis-basis organisasi massa.
51. Masjid-masjid NU dan Muhammadiyah mulai dikuasai oleh Ikhwan dan HTI. Jemaah Tabliq menggerogoti beberapa basis penting NU di perkotaan.
52. Sedangkan gerakan *Salafi* mengambil jemaah @Nahdlatul Oelama dengan pendekatan pesantren.
53. Jadi strategi kuasai Mesjid dari kelompok Trans-Nasional relatif berhasil, dengan cara itu mereka menguasai Marbot, takmir sampai pendakwah.
54. Aktivitas mesjid digunakan untuk halaqah para Ikhwan dan HTI.
55. Selain itu para *Ikhwan Tarbiyah (PKS)* dan *HTI aktif* juga bergerak di sekolah dan perguruan tinggi.
56. Mereka masuk melalui dua cara : pertama, melakukan kaderisasi yang sangat agresif di forum Kerohanian Islam (Rohis).
57. Kader-kader mereka aktif mendekati pelajar dan mahasiswa dengan pendekatan emosional, empati dalam Liqo.
58. Dan selanjutnya mengajak bergabung dalam Halaqah Jaringan kaderisasi seperti bergerak berjenjang dalam model sel-sel kecil.
59. Tentu ini mengherankan karena model kerja sel kecil ini awal muasalnya diciptakan oleh Komunis Internasional.
60. Padahal kita tahu, kelompok Islam Trans-Nasional gaungkan anti-komunis, tapi cara penguatan jaringan à la komunis ternyata mereka pakai juga.
61. Dengan kaderisasi di perguruan tinggi, gerakan *Tarbiyah* pelan-pelan masuk ke sektor negara jadi PNS, anggota TNI, Polri dan profesional.
62. Di era SBY mereka juga menikmati fasilitas beasiswa dan tugas belajar ke luar negeri.
63. Di luar negeri mereka aktif membangun jaringan dan semakin terbentuk setelah kembali ke tanah air.
64. Mereka kemudian mulai menguasai Mesjid kementerian / BUMN dengan pendakwah dari kader Tarbiyah dan HTI.
65. Dakwah lain yang dikembangkan adalah melalui media dan medsos.
Kelompok ini aktif mengisi acara dakwah di TV maupun radio @RRI TVRI Nasional.
66. Di era SBY mereka diberi ruang gerak karena SBY mengangkat Menteri Kominfo yang kader PKS *@tifsembiring.*
67. Dengan penguasaan kementerian Kominfo oleh Tarbiyah, mereka mengendalikan media resmi seperti TVRI, RRI dan Antara.
68. Dan menempatkan kader mereka di posisi eselon 1 sampai 3 untuk jaga kontrol internet dan medsos.
69. Mereka juga agresif menyediakan jasa Ustad-ustad untuk mengisi pengajian-pengajian komunitas Islam.
70. TV yang memerlukan penceramah agama juga disediakan oleh mereka secara gratis dan juga melakukan dakwah melalui pengajian di radio.
71. Di media sosial mereka juga berjaya. Pendekatan pada generasi muda dilakukan melalui media sosial baik WA Groups, BBM maupun SMS.
72. Hal ini membuat metode dakwah dari *NahdlatulOelama* dan *Muhammadiyah* menjadi ketinggalan kereta.
73. Bahkan para Islam Trans-Nasional sudah membentuk pasukan dunia maya (cyber army) di medsos.
74. Yang bukan hanya sebarkan dakwah à la Tarbiyah dan HTI tapi juga sebarkan fitnah dengan bungkus dalih agama untuk mulai serang kelompok lawan mereka.
75. Kelompok Trans nasional terutama Ikhwan dan HTI mulai ubah strategi dengan membuat aliansi strategis antar kelompok Islam dengan berbagai nama.
76. Bisa menggunakan *Forum Umat Islam (FUI)* ataupun Front-front Aksi yang bersifat taktis seperti *GNPF-MUI.*
77. Dengan cara itu, mereka tidak terkungkung oleh dominasi kepemimpinan @NahdlatulOelama dan @Muhammadiyah.
78. Upaya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah juga dilakukan SBY dengan membentuk *Majelis Dzikir Nurussalam.*
79. Dengan bentuk kelompok ini, SBY ingin punya kendali langsung atas massa Islam tanpa harus bernegosiasi dengan NU dan Muhammadiyah.
80. Cara ini juga berkembang sejalan dengan trend maraknya para *Habib* dirikan kelompok Dzikir yang pengikutnya ribuan.
81. Kegiatannya sekilas hanya berdizikir, namun dengan acara itu, bisa jadi ajang baru untuk melakukan konsolidasi massa terutama anak-anak muda.
82. Alasan itu yang melatar belakangi SBY memobilisasi *Majelis Dzikir Nurussalam* yang dipimpin oleh *Utun Tarunadjaja* pada tahun 2000.
83. *Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam* disebut sebagai mesin politik dan mesin uang tim sukses SBY.
nasional.inilah.com/read/detail/25.
84. Kelompok Trans-Nasional melanjutkan aksinya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah.
85. Dengan cara merebut kepengurusan organisasi fatwa seperti *Majelis Ulama Indonesia.*
86. Dengan menancapkan pengaruh di MUI maka mereka bisa memberikan legitimasi pada aksi yang dipakai dengan bekal fatwa MUI.
87. Mereka memanfaatkan kelengahan NU dan Muhammadiyah pasca berpulangnya KH Sahal Mahfud.
88. Dien Syamsudin dan KH Mahruf Amin yang menggantikan Sahal Mahfud justru lebih bersikap oportunis pada kelompok Trans-Nasional.
89. Dua orang pengganti Sahal ini dikenal punya nafsu politik yang tinggi dan sepertinya rela meninggalkan Muhammadiyah dan NU demi posisi politik.
90. Dengan penguasaan MUI ditambah dengan terbentuknya Front aksi, maka kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam.
91. Kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam dari NU dan Muhammadiyah, serta bisa kendalikan agenda politik keumatan.
92. Ini yang jelaskan kenapa kelompok Trans-Nasional setir ummat untuk kepentingan politik ideologi, yakni terwujudnya *Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan.*
93. Berbagai cara mereka gunakan untuk menguji kepemimpian mereka (kelompok islam trans-nasional).
94. Mulai safari Maulid Nabi ke berbagai daerah, shalat subuh berjamaah sampai dengan pengumpulan dana untuk bergerak.
95. Terakhir ada upaya untuk kumpulkan dana untuk mendanai kelompok teroris di Suriah. cnnindonesia.com/nasional/2016.
96. Demi persatuan aksi *Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan*, para Islam Trans-Nasional terpaksa mau terima *Rizieq* sebagai pemimpin gerakan.
97. Walaupun kelompok islam trans-nasional ini tahu, bahwa *Rizieq FPI* dulu dibesarkan oleh elit tentara.
98. Tapi mereka juga tahu kelemahan Rizieq yang mudah dibeli oleh elit politik dan punya sejumlah *“cacat”* yang bisa setiap saat untuk disingkirkan.
99. @syihabrizieq *didorong-dorong masuk perangkap makar*.
Setelah itu gantian kelompok *Ikhwan dan HTI yang akan memimpin.*
100. Kelompok islam trans-nasional sudah siap mengganti *Pancasila dan NKRI* dengan *Negara Khalifah Daulah Islamiyah.*
101. Sekali lagi, kepemimpinan NU dan Muhammadiyah semakin jauh disisihkan secara sistematis.
102. Entah apakah NU dan Muhammadiyah merasa *”tertampar”* dengan berbagai aksi Islam Trans-Nasional belakangan ini.
103. Atau mungkin NU dan Muhammadiyah masih belum sadari ini ? Mereka masih merasa posisinya *aman walau nyatanya sudah berdiri di atas batang lidi ?*
104. Ketika kepemimpinan *NU dan Muhammadiyah jatuh*, maka *jatuh pula NKRI* dan sangat mudah digantikan dengan *Negara Khilafah Daulah Islamiyah.*
105. *Semoga kita Indonesia masih bisa berharap munculnya kembali kepemimpinan ummat Islam di tangan NU dan Muhammadiyah demi tegaknya NKRI.*
JANGAN PERNAH LELAH MENCINTAI KERAGAMAN DALAM BALUTAN NKRI.
Kita harus jeli membaca berita dan tidak meneruskan berita dari *blog/website yang tidak jelas !*
*ISLAM YES ... NKRI HARGA MATI ... !!!*
NB : *Catatan ini hanya untuk memahami hiruk pikuk yang terjadi dan menyikapi dengan bijak, berbagai sumber informasi di antaranya seperti artikel tersebut di atas.*
*Mari kita rawat Islam Nusantara yang sesuai dengan karakter bangsa bukan faham impor yang terbukti bikin kisruh dimana-mana di belahan bumi lain.*
Renungkanlah logikanya ...