Minggu, 09 September 2018

Kader Membelot, Partainya SBY Pecah

Kader Membelot, Partainya SBY Pecah

jabarekspres.com

Sep 8, 2018 8:15 AM

Iwan Sulanjana

BANDUNG – Kendati DPP Partai Demokrat telah menjatuhkan pilihan mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Tetapi tak sedikit kader lebih memilih mendukungan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Menurut mantan Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat, Iwan Sulanjana, banyaknya kader yang membelot itu lantaran kebijakan DPP tidak diterima, atau tidak mengakomodir aspirasi kader.  Kondisi itu sebut dia, bisa menjadi pertanda, jika pada pemilu 2019 mendatang Partai Demokrat terancam pecah dalam dukungan di Pilpres 2019.

”Banyak kader Partai Demokrat di tingkat DPP maupun DPD Jawa Barat pindah ke partai lain karena segala kebijakan yang dikeluarkan DPP tidak banyak mengakomodir keinginan para kadernya,” tutur Iwan Sulanjana pada Jabar Ekspres, kemarin (7/9).

Menurutnya, sistem yang dianut di Partai berlambang Mercy itu memang DPP-lah yang paling dominan dalam mengeluarkan kebijakan khususnya figur Ketua Umum. Sehingga suka atau tidak suka kebijakannya harus ditaati. Imbasnya di daerah lebih banyak tidak mengakomodir aspirasi para kader arus bawah.

”Sejak saya tidak menjabat lagi, banyak kader Partai Demokrat yang pindah ke partai lain yang lebih akomodatif. Saya sendiri memilih untuk hengkang dari PD karena alasan yang sama,” jelasnya.

Pecah dukungan Partai Demokrat ini ungkap dia, sebenarnya tidak hanya terjadi di Pemilihan Presiden 2019 tetapi pernah terjadi di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar 2018. Kebijakan memasangkan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi sebenarnya ditentang banyak kader. Alasannya jelas, DPP lebih memilih sosok Deddy Mizwar yang dinilai akan memenangkan Pilgub Jabar dibandingkan dengan kader-kader yang 10 tahun telah berjuang untuk PD di Jawa Barat justru tidak dipilih.

”Yang dipilih akhirnya jatuh pada salah satu pendiri Partai Demokrat yang tidak pernah berjuang untuk Partai Demokrat,” ungkap dia.

Dihubungi secara terpisah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat Irfan Suryanegara membantah terkait isu pecah dukungan untuk Pemilihan Presiden 2019. Meski diakui dia sudah ada 4 kader yang membelot. ”Tidak pecah, TGB hanya mengundurkan diri, yang lainnya memang mendukung JKW-MA dan Pak Deddy Mizwar belum resmi juga mengundurkan diri dari kepengurusan Partai Demokrat Jabar,” bantahnya.

Saat ditanya mengenai alasan kuat banyaknya kader PD membelot atau pindah ke partailain, baik itu dalam konteks Pilpres dan Pileg 2019 diakibatkan karena segala kebijakan yang dikeluarkan oleh DPP dan DPD tidak mengakomodir para kader arus utama dan bawah atau akar rumput, Irfan Suryanegara membantah keras hal tersebut.

”Tidak ah, segala kebijakan yang dikeluarkan DPP atau DPD itu cukup akomodatif kok. Kalau mantan kader (membuka rahasia PD) jangan didengar karena sudah memiliki tujuang-tujuan lain dan tertentu, yang jelas kami solid sampai saat ini,” katanya.

Soliditas ini terang Irfan, terwujud di Pemilihan Legislatif 2019 dimana pihaknya berkomitemen untuk memenangkan kursi di DPRD Jabar, karena erat kaitannya dengan Pilgub Jabar 2023.

”Dan kami sangat optimistis di Pileg 2019 ini kami akan menang, karena kita solid dan berkomitmen. Ditambah dengan kader PD yang sedikit terjerat kasus korupsi dibandingkan partai lain. Jadi, Kami yakin menangkan Pileg dan Pilpres 2019,” terangnya.

Dirinya pun membantah soal alasan kader yang membelot karena AHY tak jadi kontestan di Pilpres 2019. Hal itu hanya alasan yang dicari-cari saja. Dikatakan dia, DPP sudah jelas mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan kebijakan ini dipastikan akan diikuti oleh kader arus utama maupun bawah sampai ke akar rumput.

Isu itu sebut dia dihembuskan lantaran, kubu PS-SU belum banyak bergerak khususnya di daerah. Sehingga timbul persepsi publik bahwa baik PD maupun partai koalisi tidak solid hingga dikabarkan pecah dukungannya.

”Kita belum bergerak, karena di Gerindra saat ini belum ada kegiatan. Sehingga saat ini, kami fokus untuk Pileg 2019 terlebih dahulu,” ujarnya.

Adapun mengenai pertemuan Deddy Mizwar dengan Ma’ruf Amin ini ungkap Ifran, menurut pengakuan Deddy Mizwar hanya pertemuan antara guru dan murid saja. Tetapi tak dipungkiri apabila ada pembahasan permintaan dukungan oleh KH Ma’ruf Amin kepada Deddy Mizwar.

”Tetapi toh, itu kan hak politiknya Deddy Mizwar mau memilih mendukung pasangan Joko Widodo dengan Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto,” ungkapnya.

Meski demikian kata Irfan, DPD Partai Demokrat Jabar saat ini tinggal menunggu surat pengunduran diri dari Deddy Mizwar apabila akhirnya memilih untuk tidak taat terhadap kebijakan yang telah dikeluarkan DPP Partai Demokrat.

”Kita tunggu sajalah surat pengunduran diri, jadi tidak perlu memanggil lagi, dan saya kira Deddy Mizwar sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Partai Demokrat Jabar sudah sangat hatam betul dengan AD ART. Sehingga sudah mengetahui mekanismenya dan aturannya,” katannya. (mg2/ign)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar