Fahri Hamzah Beberkan Kesalahan Fatal PKS Pilih Sandiaga Uno Jadi Cawapres
tribun news
Aug 14, 2018 9:10 AM
Fahri Hamzah
SRIPOKU.COM - Kritik keras kembali dilontarkan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang juga menjabat sebagai politisi PKS mengenai terpilihnya Wakil Gubernur Jakarta Sandiga Uno sebagai Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto di Pemilu Presiden 2019.
Menurutnya, ada kesalahan fatal yang dilakukan PKS dan itu membuat rugi sendiri.
Seperti diketahui, sebelum terpilihnya Sandiaga tersebut menyisihkan nama yang diusulkan PKS, yakni Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.
Menurut Fahri tidak terpilihnya kader PKS disebabkan oleh pimpinan PKS tidak mengkompetisikan 9 kader internal yang digodok untuk menjadi Capres atau Cawapres.
PKS lebih memprioritaskan Salim Segaf, sehingga setelah melalui kalkulasi politik tidak dipilih oleh Prabowo.
"Menurut saya kesalahan PKS dari awal konsepnya enggak jelas. Ada 9 nama tapi engga di kompetisikan. Akhirnya yang maju ke pak Prabowo cuma satu nama (Salim Segaf) dan akhirnya 8 nama akan dikubur potensinya dan engga diangkat. Itu kesalahan PKS," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/8/2018).
Sebelumnya PKS menyodorkan sembilan bakal calon presiden dan wakil presiden kepada mitra partai koalisi.
Kesembilan nama itu antara lain, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan; Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid; Mantan Presiden PKS, Anis Matta; Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno.
Kemudian Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman; Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al'Jufrie; Mantan Presiden PKS; Tifatul Sembiring; Ketua DPP PKS, Al Muzammil Yusuf dan Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera. Fahri yakin apabila 9 nama keder internal tersebut dikompetisikan maka salah satunya akan terpilih.
"Coba bayangkan alternatif diberikan lebih banyak kepada pak Prabowo misalnya. Pasti diantara nama-nama itu akan dipilih karena dari awal yang lain dikunci akhirnya rugi sendiri itu kesalahannya," katanya.
Satu hari menjelang penutupan masa pendaftaran Capres-Cawapres, poros oposisi mengumumkan pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang akan diusung dalam Pemilu mendatang.
Terpilihnya Sandiaga Uno menyisihkan Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.
Namun pemilihan Sandiaga diwarnai isu miring. Wakil sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief menyebut terpilihnya Sandiaga karena memberikan mahar kepada PAN dan PKS yakni masing-masing Rp500 miliar.
Fahri Hamzah Salut dan Puji Sandiaga Uno
Tapi, meski mengungkap kesalahan fatal PKS, Fahri Hamzah mengapresiasi langkah yang dilakukan Sandiaga Uno.
Calon Wakil Presiden (cawapres) Sandiaga Salahudin Uno memberi penjelasan terkait dugaan pemberian mahar politik darinya ke PAN dan PKS. Meski membantah soal mahar, Sandiaga mengatakan dirinya bersedia memberikan uangnya untuk kampanye.
Terkait pernyataan Sandiaga ini, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyebut apa yang disampaikan Sandi itu perlu agar semuanya transparan.
Menurutnya, di pilpres ini jangan banyak masuk dana-dana siluman yang suatu hari akan menjadi utang budi dari capres dan cawapres yang harus dibayar belakangan hari.
"Jadi lebih baik sistem pembiayaannya dibuat transparan. Sekarang ada orang kaya seperti Pak Sandiaga, dia mau membiayai pribadi dan bahkan menyebut angkanya, ya itu ditanya boleh nggak? Ada pribadi satu orang membiayai dengan jumlah sekian, apalagi dia kandidat. Kalau bukan kandidat, setahu saya nggak boleh," jelas Fahri
Dijelaskan Fahri bahwa batas sumbangan pribadi itu Rp 5 miliar dan korporasi Rp 25 miliar.
"Nah, sekarang ada kandidat yang mengatakan mau membiayai sendiri pilpres saya ini. Bagaimana itu, apakah boleh?" katanya.
Di sisi lain, dia juga mengatakan petahana harus berani berterus terang dan terbuka seperti Sandiaga terkait asal-usul dananya dan siapa yang menyumbang.
"Sebab, jangan sampai kita membiarkan definisi dari gotong royong itu adanya dana-dana gelap, apalagi dana haram masuk ke dalam darah politik kita, dalam hal ini darahnya presiden dan wakil presiden, bisa rusak nanti. Akibatnya, kepemimpinan mendatang akan disandera orang," ucapnya
Karena itu, Fahri sangat mengapresiasi apa yang disampaikan Sandiaga soal sumbangan pribadinya untuk kampanye Pilpres 2019.
Apalagi Sandiaga membuka ini dan meminta saran bagaimana seharusnya, mengingat uang yang digelontorkannya sangat besar.
"Memang biaya pemilu itu kalau pilpres masing-masing kandidat minimal Rp3 sampai 5 triliun kalau mau pertarungannya seru. Kalau nggak jelas, jangan dianggap 'oh Pak Jokowi nggak perlu biaya', bohong itu. Semua butuh uang kok. Cuma, mau dibikin jelas atau nggak jelas? Jadi, Pak Sandi positif karena ini membuat kita berpikir ini jelas," tuturnya. (**)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar