*JOKOWI ITU PETRUK IS THE NEW HOPE*
Kisah petruk jadi ratu ini diambil dari kisah pewayangan sunan kalijaga...Kenapa ketiga wahyu itu memilih Petruk? Kenapa bukan Prabowo? Kenapa bukan Amien Rais? Bukan AHY. Bukan Gatot Nurmatyo. Apalagi Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Di sinilah kejelian Sunan Kalijaga dalam memilih tokoh utama dalam kisahnya. Dalam lakon *“Petruk Dadi Ratu”*, Petruk dipilih karena karakter² yang dimilikinya. Petruk adalah punakawan atau hamba sahaya yang realistis dalam menyikapi segala sesuatunya. Selain itu putra angkat Semar ini pun memiliki keikhlasan. Karena keikhlasannya, Petruk juga dinamai Kanthong Bolong atau Kantong Berlubang. Jadi, menurut Sunan Kalijaga, hanya orang yang ikhlas dan realistislah yang sanggup memperbaiki keadaan Bumi pertiwi indonesia
Sebagai rakyat, Petruk biasanya cuma bisa tertawa geli melihat tingkah polah kaum bangsawan di sekelilingnya. Kadang sekalipun Petruk memahami persoalan yang dihadapi ndoro²nya, kalau ditanya ia hanya menjawab, *“Bukan urusan saya.”* Hal ini diucapkan Petruk untuk menghargai ndoro-nya. Hanya sesekali Petruk mengeluarkan sentilannya kepada ndoro²nya
Padahal dengan kesaktian yang dimilikinya, bisa saja Petruk menghajar orang² yang dianggapnya bertanggung jawab atas kesemrawutan di kerajaannya. Jangankan Arjuna atau Pandawa lainnya, Kresna yang titisan Wisnu saja pernah bonyok² dihajar Petruk. Tapi, Petruk sadar benar, ia tidak memiliki wahyu atau mandat untuk memimpin. Karenanya ia hanya melakoni apa saja yang bisa dikerjakannya.
Tapi, begitu ia mendapat mandat, eng ing eng, semua dihajarnya. Para ndoro yang dulu main perintah, sekarang diperintahnya... Kemapanan para ndoro diobrak-abriknya, dijungkirbalikkannya. Tindakan Petruk yang mengobrak-abrik kemapanan para mafia ini membuat resah raja-raja pem-backing-nya. Sampai-sampai Junggring Saloka pun terimbas. Kawah Candradimuka mendidih perlambang adanya “ontran-ontran” yang membahayakan kekuasaan para dewa.
Sontak Petruk menjadi musuh bersama para elit. Kemudian, para elit ini berunding. Lahirlah skenario untuk memakzulkan Petruk dari kekuasaannya. Lewat lini masa dgn tagar 2019 ganti presiden, segala tindakan Petruk wajib dianggap salah. Kesalahan kecil dibesar²kan. Apa saja harus dikaitkan dengan Petruk, termasuk badai di Arab saat itupun yang menyebabkan ambruknya crane dikaitkannya. Petruk sudah seperti Teh Botol Sosro. Apapun peristiwanya dan di mana pun kejadiannya, Petruk yang disalahkan. Sebaliknya, keberhasilan Petruk malah ditutup²i dipandang seolah tidak pernah terjadi.
Sayangnya usaha ini gagal total. Petruk malah semakin menjadi-jadi melabrak siapa pun yang dianggapnya sebagai biang kerok. Kresna dan Baladewa dikepret habis sampai babak belur. Batara Guru sang penguasa kahyangan ngiprit terbirit-birit.
Di situlah perbedaan sudut pandang “penonton” dan pengamat cerita karya sunan kalijaga dalam menyerap pesan yang terkandung dalam lakon *“Petruk Dadi Ratu”*. Bagi yang memposisikan diri sebagai kaum elit, Petruk dianggap sebagai monster yang harus dibinasakan. Sebaliknya, jika memandang Petruk dengan kacamata kawulo yang gerah dengan perilaku kaum elit, Petruk justru dipandang sebagai pahlawan. Tindakannya diapresiasi. Jokowi itu Petruk is the new hope.....
Viraaallkaaaannn......🙏🏼😁
Tidak ada komentar:
Posting Komentar