Selasa, 10 Juli 2018

KANGSADEWA Adu Jago.

Episode 122

" *Ken Sagopi* "

KANGSADEWA
Adu Jago.

Di gelanggang aduan yang ada di tengah alun-alun, sebelum digunakan oleh Ditya Suratimantra, Raden Ugrasena memanfaatkan arena itu untuk adu ketangkasan bagi para taruna Mandura. Sekalian untuk menyaring bibit-bibit prajurit yang tangguh. Yang paling banyak diminati adalah adu kuat dengan cara bergelut yang mereka namai gulat. Dalam gulat, mereka saling banting dan _pithing,_ namun mereka tidak boleh mencekik dan menggigit, apalagi mencederai mata dan alat vital. Yang menjadi hakim pengadil adalah para lurah prajurit. Para penonton bersorak sorai manakala jagoannya unggul. Namun juga sering terdengar gelak tawa para penonton, manakala ada adegan yang lucu kadang konyol. Semakin malam penonton semakin berjubel, karena yang bertanding semakin berat bobot tubuhnya.

Pada malam berikutnya, arena di tengah alun-alun itu bukan untuk adu gulat, namun diselingi dengan pertandingan pencak silat. Pesertanya juga sangat banyak, karena di negeri Mandura banyak berdiri perguruan-perguruan pencak silat. Perguruan-perguruan itulah yang mengirimkan para pendekarnya. Penonton pun tak kalah berjubelnya dibanding malam sebelumnya. Bahkan, para penonton sering disuguhi ketegangan, karena yang bertanding sudah mempunyai bekal olah kanoragan. Mereka yang bertanding saling adu pukul dan tendangan. Ia yang menang akan mendapat tepuk tangan yang meriah, namun yang kalah tidak dipermalukan.

Demikianlah, setiap hari, siang malam kawula Mandura mendapat hiburan yang sangat menyenangkan, saling seling antara gulat dan pencak silat. Gelaran kemeriahan itu telah menyebar ke seluruh negeri. Yang dari jauh rela menginap di banjar-banjar padukuhan. Bahkan banyak juga kawula dari _manca praja, manca nagari_ yang ikut menyaksikannya.

Selagi kemeriahan gelaran berlangsung, seorang prajurit telik sandi memberi laporan kepada Raden Ugrasena, bahwa sepasukan prajurit yang kuat telah menuju ke Widarakandang. Menurut pengamatan prajurit itu, sepasukan prajurit itu berasal dari satuan prajurit Gowabarong. Raden Ugrasena sejenak terkesiap, terbayang keadaan di Widarakandang, di sana tidak ada sepasukan prajurit, yang ada hanyalah putra-putri Prabu Basudewa dan dan anak-anak Ken Sagopi. Akan sangat berbahaya bagi anak-anak itu, terlebih kini Ken Sagopi, istrinya sedang mengandung usia tua. Jika tak ingin terlambat ia harus bertindak cepat.
"Siapkan sepasukan prajurit yang kuat akan aku bawa mereka ke Widarakandang!" perintah Raden Ugrasena tegas.

Setelah melapor kepada Prabu Basudewa dan kepada Raden Harya Prabu Rukma, Raden Ugrasena segera bersiap ke Widarakandang. Namun Prabu Basudewa sekali lagi menanyakan tentang jago Mandura yang akan melawan Ditya Suratimantra.
"Dimas, kalau bisa jangan Bima Sena putra Kunti yang kau ajukan sebagai jago Mandura, aku sangat mengkhawatirkan, pastilah ia masih terlalu muda," pinta Prabu Basudewa.
Raden Ugrasena tidak mau berdebat dengan kakandanya, Prabu Basudewa. Terlebih pikirannya tertuju ke Widarakandang, mengkhawatirkan keselamatan mereka yang ada di sana. Sehingga jawaban Raden Ugrasena sekedar untuk membuat Sang Prabu senang.
"Baiklah Kanda Prabu, akan aku cari jago yang lain."

Bregada prajurit pilihan berkuda dari Mandura telah bergegas menuju Widarakandang dipimpin oleh Raden Ugrasena sendiri, mereka tidak boleh terlambat, kalah duluan dengan prajurit dari Gowabarong. Prajurit Gowabarong pasti tidak akan mendapat perlawanan apapun di Widarakandang. .........

_Bersambung.........._

Petuah Simbah: _*"Wong kang tanggap mesthi cekat-ceket tumandang, ora ngendhe-endhe pagawean."*_
(@SUN-aryo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar