Rabu, 13 Juni 2018

Viralkan. Tagar #SelamatTinggalGerindra, Partai Haus Kekuasaan Suka Menari Di Atas ISU SARA

Viralkan. Tagar #SelamatTinggalGerindra, Partai Haus Kekuasaan Suka Menari Di Atas ISU SARA

seword.com

Jun 13, 2018 12:22 PM

Tagar #SelamatTinggalGerindra mendadak viral dan jadi trending topic sekarang ini. Penyebabnya adalah saat kemarin, 12 Juni 2018, perhatian kita tertuju pada sebuah surat pengunduran diri yang ditulis oleh Mohammad Nurruzaman, Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra, karena menganggap Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menghina Katib Aam (Sekjen) PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) terkait kunjungan beliau ke Israel.

Fadli Zon, dalam akun Twitter-nya pada hari Senin, 11 Juni 2018, menuliskan sebagai berikut:

“Cuma ngomong begitu doang ke Israel. Ini memalukan bangsa Indonesia. Tak ada sensitivitas pada perjuangan Palestina. #2019GantiPresiden.”


Tulisan inilah yang membuat Mohammad Nurruzaman marah karena dianggap menghina seorang Gus Yahya, Kiai yang sangat dihormat Mohammad Nurruzaman.

Lucu sendiri jadinya membaca tulisan norak ciri khas kaum pembenci Jokowi. Sudah jelas Fadli Zon sedang meyoroti tentang Gus Yahya, tapi ujung-ujungnya tagar #2019GantiPresiden. Benar-benar kaum Salawi (Semua Salah Jokowi). Wakakaka…….

Saya sendiri tak akan masuk dalam pembahasan soal kunjungan Gus Yahya ke Israel. Di mata saya, itu adalah kunjungan pribadi sehubungan dengan Gus Yahya yang diundang oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk menjadi pembicara di sebuah diskusi yang diprakarsai oleh America Jewish Commitee (AJC) Global.

Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, kader Gerindra berlatar belakang santri ini membeberkan beberapa alasan terkait pengunduran dirinya. Surat itu sendiri viral kemana-mana baik lewat broadcast di WA, Facebook, Twitter, media-media online dan media-media lainnya. Saya sendiri menerima broadcast surat tersebut sampai puluhan jumlahnya di WA pribadi saya. Disebarkan oleh teman-teman dan grup-grup WA di ponsel pribadi saya. Benar-benar viral. Heboh.

Saya pribadi sangat kagum dan respect saat membaca surat yang ditulis dengan segenap hati ini. Surat itu jujur apa adanya. Feel-nya dapat. Emosinya juga sangat terasa. Beberapa bagian dari surat itu mendapat perhatian lebih dari saya. Ikuti pembahasannya dalam artikel ini.

“Waktu pun berjalan. Partai Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar kepentingan saja! Mark my words Pak Prabowo.”

Tak pernah ada kata terlambat untuk menyadari segala sesuatu. Walaupun faktanya sejak dulu sudah ada banyak yang mengingatkan soal keberadaan Partai Gerindra yang tindak tanduknya terlihat lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan bangsa dan negara. Sangat bersyukur dan menyambut dengan baik jika saat ini Mohammad Nurruzaman sudah menyadarinya. Alhamdulillah. Puji Tuhan.

“Manuver Gerindra yang sangat patriotik sekarang lebih menjadi corong kebencian yang mengamplifikasi kepentingan politis busuk yang hanya berkutat pada kepentingan saja, sama sekali hilang INDONESIA RAYA yang ada di dada setiap kader Gerindra. Makin parah lagi, pengurus Gerindra makin liar ikut menari pada isu SARA di kampanye Pilkada DKI di mana saya merasa sangat berat untuk melangkah berjuang karena isi perjuangan Gerindra hanya untuk kepentingan elitnya saja sambil terus menerus menyerang penguasa dengan tanpa data yang akurat. Isu SARA yang sudah melampaui batas dan meletakkan Jakarta sebagai kota paling intoleran adalah karena kontribusi elit Gerindra yang semua haus kekuasaan dunia saja, tanpa mau lagi peduli pada rakyat di mana Bapak harusnya berpijak.”

Khusus di bagian ini, dengan berat hati kita harus mengingat kembali Pilkada DKI tahun lalu. Pilkada paling menjijikkan yang pernah aku lihat selama aku hidup. Menuliskannya kembali di sini sudah mampu membuat tangan ini bergetar menahan segala gejolak rasa yang ada. Mataku bular menahan jatuhnya airmata yang tergenang.

AHOK. Dialah korban yang paling merasakan betapa jahatnya Gerindra dan gerombolannya. Rumah-rumah ibadah yang adalah rumah Tuhan juga dikorbankan dijadikan tempat mengumbar kalimat-kalimat kebencian terhadap lawan-lawan politik Gerindra beserta kroni-kroninya. Jangankan kami yang Non Muslim, sesama Muslim juga dikafir-kafirkan dan diharam-haramkan memakai ayat-ayat suci yang dipolitisasi terkait perbedaan pilihan politik. Sampai mayatpun tak luput dari kekejaman Gerindra yang sudah melampaui batas dalam ambisinya mengejar tampuk kekuasaan. Bener-benar keterlaluan.

Akupun jadi teringat pada ucapan Achmad Mustafa Bisri, tokoh Islam yang sangat aku hormati. Beliau mengatakan:

“Adalah terlalu berani membawa ayat-ayat dan sunah Rasul SAW untuk kepentingan politik praktis. Itu merupakan pelecehan dan sekaligus membuat umat bingung. Lihatlah, tokoh partai ini menggunakan ayat dan hadis ini untuk mendukung partainya. Apa ini tidak membingungkan masyarakat? Bila kemudian, dengan menggunakan sabda Allah dan Rasul-Nya, masyarakat awam meyakininya sebagai kebenaran mutlak, apa tidak terjadi sikap mutlak-mutlakan antar pendukung partai? Kalau tidak mengerti politik, mbok sudah, rela saja tidak usah berpolitik, daripada membawa-bawa agama. Apakah tokoh-tokoh yang suka membawa-bawa ayat dan hadis itu tidak memikirkan akibatnya di dunia maupun di akhirat kelak? Bagaimana kalau masing-masing pendukung yang awam itu meyakini bahwa mendukung partainya sama dengan mendukung agama dan memperjuangkan partainya sama dengan jihad fi sabilillah?”


Ucapan Achmad Mustafa Bisri inipun terbukti. Bangsa Indonesia benar-benar dirusak dan dibuat kacau oleh kelakuan partai-partai jahat pengusung isu SARA. Semoga Indonesia bisa segera lepas dari keadaan yang memilukan ini Tuhan. Teriring doaku setulus hati buat Presiden Jokowi. Tuhan jaga Bapak. Amin.

“Akhir kata, saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elit busuknya sampai kapan pun.”

Mantap jiwa!! Dua kata itu sangat tepat untuk mewakili pembahasan surat Mohammad Nuruzzaman terutama di bagian “saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elit busuknya sampai kapan pun.”

Kesadaran yang diperoleh di moment yang tepat waktu memang akan melahirkan kekuatan dahsyat yang tak bisa dibendung oleh apapun juga. Sungguh saya sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya pada Mohammad Nurruzaman yang sudah memantapkan jiwa untuk melawan ketidakbenaran dan keserakahan dengan gagah berani seperti ini.

Hari ini aku mengangkat topi untuk Mohammad Nurruzaman, Kadensus 99 Banser NU. Keep inspiring bro. Di moment Lebaran yang suci ini aku juga sangat mengucap syukur dan berterima kasih pada Tuhan. Kebenaran tak bisa ditutupi oleh apapun juga. Gusti ora sare. Satu persatu kebusukan partai-partai yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa pasti akan terungkap dengar sendirinya. Semoga dengan kejadian ini, akan semakin banyak lagi kader-kader Gerindra beserta simpatisannya yang tercelik mata jasmani dan mata hatinya.

Jika sudah begini keadaannya, mau tak mau kita memang harus membantu Mohammad Nurruzaman menyuarakan kebenaran. Mari menjadi bagian dalam kebenaran. Sebab, “Bukan kebenaran yang membuat manusia menjadi besar, tetapi manusia yang membuat kebenaran menjadi besar,” kata Konfusius seorang filsuf dari Tiongkok.

Demikian juga dengan Indonesia. Jika kita ingin Indonesia jadi bangsa yang besar, kita harus jadi rakyat Indonesia yang siap menyuarakan kebenaran. Demi Indonesia tercinta, Tagar #SelamatTinggalGerindra harus kita viralkan. Merdekaaaaaa……!!!

Sumber referensi:

Silakan klik link berikut untuk bisa mendapatkan artikel-artikel saya yang lainnya.

Thank you so much guys. Peace on earth as in Heaven. Amen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar