Ini Profil Singkat Gubernur DKI Jakarta Sejak 1947-2017
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:00 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin
Reporter : Ichwan Hasanudin
Sejak Indonesia merdeka, dalam catatan sejarah Jakarta sudah memiliki 19 gubernur mulai dari periode tahun 1947-2017.
KEBAYORAN – Dalam catatan sejarah, sejak kemerdekaan Indonesia, Jakarta telah memiliki banyak gubernur dan wakil gubernur. Setidaknya, sejak tahun 1947 hingga 2017, tercatat DKI Jakarta sudah 19 kali berganti gubernur.
Berikut profil singkat 19 gubernur yang pernah memimpin DKI Jakarta hingga gubernur saat ini Anies Baswedan.
1. Soewirjo (23 September 1945 sampai November 1947)
Proses Soewirjo menjabat sebagai wali kota dimulai pada Juli 1945 pada masa pendudukan Jepang. Saat itu ia menjabat sebagai wakil wali kota pertama Jakarta, sedangkan yang menjadi wali kota seorang pembesar Jepang (Tokubetsyu Sityo) dan wakil wali kota kedua adalah Baginda Dahlan Abdullah.
2. Daan Jahja (1948 sampai 1950)
Gubernur Militer Jakarta ini memimpin Ibukota saat agresi militer Belanda. Saat menjabat gubernur Jakarta, Daan Jahja berhasil menyelesaikan masalah administratif pemerintahan Jakarta yang sebelumnya diatur Belanda.
3. Soewirjo (17 Februari 1950 sampai 2 Mei 1951)
Pada 2 Mei 1951, Suwirjo diangkat jadi Wakil PM dalam Kabinet Sukiman-Suwirjo (April 1951 - April 1952) sehingga jabatan wali kota Jakarta harus dilepaskan.
4. Sjamsuridjal (2 Mei 1951 sampai 9 November 1953)
Sebelum menjadi Wali Kota Jakarta Raya, Sjamsuridjal menjabat Wali Kota Solo. Di masa kepemimpinannya ini stadion nasional IKADA (Ikatan Atletik Djakarta) mulai dibangun pada 18 Juli 1950. Di bawah pemerintahan Sjamsuridjal, bidang pendidikan juga mendapat perhatian. Ia mendukung pengembangan Universitas Indonesia.
5. Sudiro (9 November 1953 sampai 29 Januari 1960)
Salah satu yang dikenal saat masa kepemimpinan Sudiro adalah pernyataan bahwa ada 3 daerah teritoris utama di Jakarta yakni Bandara Kemayoran, Pelabuhan Tanjungpriok dan kota satelit Kebayoran Baru. Menteri Perhubungan biasanya mengeluarkan keputusan tentang Bandara Kemayoran tanpa konsultasi dengan Sudiro.
Pada 1957, Sudiro membuat kebijakan sekolah gratis untuk tingkat sekolah dasar (SD), namun kebijakan ini hanya berlaku satu tahun setelah pemerintah pusat membatalkan kebijakan ini.
6. Soemarno Sosroatmodjo (29 Januari 1960 sampai 26 Agustus 1964)
Di era ini, Soemarno didampingi Henk Ngantung sebagai wakil gubernur. Politikus sekaligus seorang dokter yang memimpin Jakarta selama dua periode. Selain membangun Monas, Patung Selamat Datang, dan Patung Pahlawan di Menteng, juga dibangun rumah minimum.
7. Henk Ngantung (26 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965)
Dia adalah seorang pelukis dan seniman yang ditunjuk Presiden Soekarno sebagai deputi gubernur di bawah Soemarno Sosroatmodjo. Pengangkatannya sebagai Gubernur Jakarta sempat mendapat protes dari banyak kalangan. Soekarno ingin agar Henk menjadikan Jakarta sebagai kota budaya.
8. Soemarno Sosroatmodjo (15 Juli 2965 sampai 28 April 1966)
Pada masa jabatan kedua ini, Soekarno menjadikan Soemarno jabatan setingkat menteri yang wajib mengikuti rapat.
9. Ali Sadikin (28 April 1966 sampai Juli 1977)
Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta yang paling populer dibanding pendahulunya. Bang Ali, sapaan akrabnya, juga dikenal dengan berbagai kebijakan kontroversial. Salah satunya melagalkan perjudian yang uang pajaknya digunakan untuk menbangun jalan, puskesmas, dan gedung sekolah. Selain itu, Bang Ali juga yang menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair. Beliau juga merupakan gubernur pertama Indonesia yang dilantik di Istana Negara secara langsung sama Presiden Soekarno.
10. Tjokroplanolo (tahun 1977 sampai tahun 1982)
Sebelum menjabat gubernur Jakarta, selama satu tahun Tjokropranolo menjadi asisten Gubernur Ali Sadikin.
Pada masa kepemimpinannya, dia mengalokasikan sekitar ratusan tempat untuk puluhan ribu pedagang kecil agar dapat berdagang secara legal. Perda yang mengatur pedagang jalanan tidak efektif, sehingga mereka masih berdagang di wilayah terlarang, menempati badan jalan, dan memacetkan lalu lintas.
11. Soeprapto (tahun 1982 sampai tahun 1987)
Di masa kepemimpinan Soeprapto ini untuk pertama kali Gubernur DKI jakarta memiliki dua wakil gubernur, yaitu Eddie Marzuki Nalapraya dan Bunyamin Ramto. Dia pula yang membuat master plan DKI Jakarta untuk periode 1985–2005, yang sekarang dikenal dengan Rencana Umum Tata Ruang dan Rencana Bagian Wilayah Kota.
12. Wigoyo Atmodarminto (tahun 1987 sampai tahun 1992)
Di awal kepemimpinannya, Wiyogo mencetuskan konsep BMW (bersih, manusiawi, berwibawa) di Jakarta. Dia juga berhasil direalisasikan sejumlah program, diantaranya, pembebasan kawasan becak, Swastanisasi kebersihan, pembangunan jalan lingkar luar (outer ring road), perbaikan jalur kereta api, pembangunan dan perluasan jalan arteri, jalan layang dan underpass.Di era Wigoyo juga, Pekan Raya Jakarta dipindah, yang semula diselenggarakan di Monas ke Kemayoran dan memindahkan Terminal Cililitan ke Kampung Rambutan juga pengembalian kelestarian Ciliwung.
13. Soerjadi Soedirdja (tahun 1992 sampai tahun 1997)
Di era kepemimpin Soerjadi ini ada tiga pejabat yang berperan sebagai wakil gubernur, yaitu M Idroes, Tubagus Muhammad Rais, dan RS Museno. Dia membuat proyek pembangunan rumah susun, menciptakan kawasan hijau, dan juga memperbanyak daerah resapan air. Ia berhasil membebaskan jalan-jalan Jakarta dari angkutan becak.
14. Sutiyoso (6 Oktober 1997 sampai 7 Oktober 2007)
Beliau merupakan Gubernur DKI Jakarta yang meluncurkan sistem angkutan massal dengan nama bus TransJakarta sebagai bagian dari sebuah sistem transportasi baru kota. Mulai 4 Februari 2006 , Sutiyoso atau akrab disapa Bang Yos ini melarang siapapun yang berada di wilayah DKI merokok di sembarang tempat, seperti di tempat umum seperti halte, terminal, mall, perkantoran, dan lain sebagainya.
15. Fauzi Bowo (7 Oktober 2007 sampai 7 Oktober 2012)
Beliau sebelumnya adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta pada masa Sutiyoso. Pria yang akrab di sapa Foke ini didampingi Prijanto memimpin Jakarta.
16. Joko Widodo (15 Oktober 2012 – 16 Oktober 2014)
Joko Widodo terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta yang sebelumnya menjabat Wali Kota Solo. Kebijakan pria yang akrab disapa Jokowi ini saat memerintah seperti Kampung Deret, Kartu Jakarta Sehat, dan Kartu Jakarta Pintar, serta meresmikan pembangunan MRT Jakarta. Jokowi mengundurkan diri sebagai gubernur setelah terpilih menjadi Presiden ketujuh Republik Indonesia.
17. Basuki Tjahaja Purnama (16 Oktober 2014 – 9 Mei 2017)
Pria yang akrab disapa Ahok ini sebelumnya adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta saat Jokowi mengundurkn diri karena terpilih sebagai Presiden RI. Mantan Bupati Belitung Timur periode 2005 – 2006 ini sering menimbulkan pernyataannya kontroversi. Dia pernah mendapat penghargaan Tokoh Anti Korupsi, tokoh yang mengubah Indonesia versi Majalah Tempo dan penghargaan anti korupsi dari Bung Hatta Corruption Award.
18. Djarot Saiful Hidayat (9 Mei 2017 – Oktober 2017)
Sama seperti Ahok, Djarot sebelum menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta saat Basuki Tjahaja Purnama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Mantan Wali Kota Blitar ini menjadi Gubernur DKI Jakarta setelah Ahok tersangkut masalah pidana dan bertugas selama lima bulan saja.
19. Anies Rasyid Baswedan (16 Oktober 2017 – pertahana)
Anies terpilih bersama Sandiaga Uno terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017-2022 setelah mengalahkan pasangan Ahok-Djarot. Anies-Sandiaga bakal dilantik Senin (16/6).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar