Rabu, 20 Juni 2018

Hasil Perjodohan, 5 Nama Mencuat Jadi Cawapres Jokowi, Ini Bocorannya

Hasil Perjodohan, 5 Nama Mencuat Jadi Cawapres Jokowi, Ini Bocorannya

pojok satu

Jun 19, 2018 12:04 PM

Jokowi dan TGB

POJOKSATU.id, JAKARTA – Teka-teki cawapres pendamping Jokowi di Pilpres 2019 mendatang masih menjadi teka-teki. Namun, saat ini setidaknya sudah muncul sejumlah kandidat kuat.

Hal itu diawali dengan pertemuan antara Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Istana Batu Tulis, Bogor, Selasa (12/6/2018) pekan lalu.

Diyakini, pertemuan tersebut tidak lain membahas nama-nama yang akan menjadi cawapres Joko Widodo.

Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menyebut, dalam pertemuan tersebut sudah tentu ada pengajuan nama kandidat baik dari Joko Widodo maupun Megawati.

“Jadi bisa perkawinan alamiah, bisa dijodohkan,” kata Pangi saat dihubungi wartawan, kemarin.

Pangi berujar, jika sosok yang diajukan Joko Widodo berasal dari kalangan profesional makan hal itu semata-mata demi menjaga soliditas partai koalisi.

“Jikapun dari kalangan parpol, tentu akan dipilih yang memiliki tingkat elektabilitas tinggi,” jelasnya.

Sementara, apabila Megawati sangat mungkin mengajukan kader PDIP atau figur kalangan profesional yang tidak berpotensi ‘merebut kekuasaan’ di Pilpres 2024 mendatang.

Pangi menegaskan, elektabilitas sosok pendampingya itu adalah sebuah hal yang cukup penting dan tidak menyoal persiapan 2024.

“Sementara logika partai itu bicara setelah 2024. Karena itu, PDIP tidak mau kalau bukan kader mereka untuk keberlanjutan partai,” jelasnya.

Sudah barang tentu, lanjutnya, PDIP akan memilih sosok yang tidak akan memberikan ‘ancaman’ kepada partai berlambang kepala banteng itu.

Yang menarik, lanjutnya, adalah siapa saja nama-nama kandidat tersebut.

“Kalau saya melihat nama yang punya peluang adalah TGB Zainul Majdi (Gubernur NTB). Pak Jokowi sedang main mata dengan TGB,” beber dia.

Salah satu alasannya adalah, duet Jokowi-TGB dinilainya sebagai kombinasi ideal yang memadukan nasionalis-religis.

Dari sisi historis, jelas Pangi, Gubernur dua periode itu juga memiliki rekam jejak baik, visi misi jelas dan mendapat dukungan luas dari kelompok Islam.

“Walaupun TGB juga punya kelemahan. Beliau tidak punya basis suara yang besar karena bukan berasal dari Jawa dan lumbung elektoral di NTB itu kan sedikit,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, niali elektoral TGB masih kalah dengan Ketua Umum PKB Muhamin Iskandar yang memiliki basis kuat di Pulau Jawa.

“Cak Imin merupakan representasi kalangan Nahdliyin dan sudah sejak awal mendeklarasikan diri sebagai cawapres Jokowi,” jelas dia lagi.

Selain dua nama itu, Pangi juga menyebut nama Chairul Tanjung (CT) dari kalangan luar parpol.

“Saya pikir CT juga bagus. Beliau tidak ambisius orangnya. Terus terang Pak Jokowi kan enggak suka ada matahari kembar. The real presiden seperti terjadi di era SBY-JK lalu,” jelasnya.

Selain CT, Pangi menilai belum ada calon profesional lain yang berpotensi mendampingi Jokowi di Pilpres.

Termasuk nama-nama yang sering disebutt memiliki elektabilitas tinggi seperti seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

“Pak Gatot kan enggak punya basis massa. Dan PDIP terancam kehilangan kekuasaan bila mencalonkan dia,” hematnya.

Jika dihitung dari basis massa, menurut Pangi, Jokowi akan lebih menguntungkan menggandeng Agus Harimurti Yudhyono ketimbang Gatot.

“AHY jelas punya basis, ada 8 persen modal dukungan Parti Demokrat. Gatot enggak punya itu, terutama basis massa partai,” tutup dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar