Jumat, 26 Juli 2019

Pengamat Puji Manuver Cerdik Surya Paloh Undang Anies, Tujuannya Supaya Jokowi Begini

Pengamat Puji Manuver Cerdik Surya Paloh Undang Anies, Tujuannya Supaya Jokowi Begini

tribun news

Jul 26, 2019 1:58 PM

Surya Paloh Dukung Anies Baswedan untuk untuk Pilpres 2024 Mendatang, Pengamat Sebut Drama Politik! 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA -  Pertemuan Ketua Umum NasDem Surya Paloh dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menimbulkan banyak interpretasi di publik. Banyak yang menyebut ini bagian dari strategi menaikkan daya tawar Partai NasDem.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, di Gedung DPP Partai Nasdem, Rabu (24/7/2019) (KOMPAS.com/RYANA ARYADITA UMASUGI)

Ada yang menyebut, ini mengindikasikan hubungan Surya Paloh dan Megawati retak.

Analis politik dan Direktur IndoStrategi Arif Nurul Imam menilai, Partai Nasdem ingin meningkatkan daya tawar kepada presiden terpilih Joko Widodo melalui pendekatannya dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Pertemuan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Gubernur DKI Jakarta kemarin bisa dilihat sebagai manuver Surya Paloh untuk menaikkan daya tawar politik Nasdem di hadapan Jokowi," ujar Arif saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (26/7/2019).

Seperti diketahui, lanjut Arif, Anies saat ini merupakan salah satu ikon oposisi.

Sosok Anies merupakan representasi pendukung Prabowo Subianto, calon presiden penantang petahana pada Pilpres 2019.

Bahkan, Nasdem juga seringkali berseberangan dengan Anies di dalam kontestasi politik.

Salah satunya pada hajatan Pilkada 2017 lalu.

Oleh sebab itu, pertemuan keduanya boleh dibilang membuat publik cukup terkejut.

Arief menambahkan, pertemuan Surya dengan Anies pun merupakan gertakan politik Nasdem kepada Jokowi supaya kepentingan politik partai tersebut dapat diakomodasi

Kamis, 25 Juli 2019

Bantuan untuk Penderita Kanker

Kawan2.....
RS Gatot Subroto Jakarta, sudah mulai ada pengobatan tumor ganas/ kanker CELL CURE, telah berhasil menyembuhkan kanker stadium 4, tanpa operasi, tanpa chemo therapy...
Equipment tsb hibah dari pemerintah Jerman.
Teknologi tsb hanya ada di Jerman dan Indonesia

Buat Bpk2/Ibu2 yg punya kerabat, atau teman yg saat ini menderita kanker dan tidak mempunyai dana lagi.
Yayasan Miracle Hope ingin membantu untuk mengobati penderita kanker jenis apapun.
Silahkan berikan data untuk pemeriksaan darah dan obat akan diberikan secara gratis.
Silahkan isi data 
*  Nama :
*  Alamat :
*  Jenis kanker :
*  Surat keterangan tidak mampu dari RT, RW setempat
* Kirim via email:
Fani.ferdiani@yahoo.com
PIN 23823ADB
 
Bantu Broadcast juga ya kalau bisa ... mungkin di luar sana ada yang benar-benar sedang membutuhkan.

#1hari #1kebaikan

#share dari sdr..untuk sdr2 yg membutuhkan

*tolong di share group2 lain*

Senin, 01 Juli 2019

ABDULLAH DAN RADIKALISME

ABDULLAH DAN RADIKALISME

Saat demo sidang MK, ada sosok yang menarik perhatian saya disana.

Jenggotnya putih panjang, namanya Abdullah Hehamahua. Saya familiar dengan wajahnya dan coba saya ingat-ingat lagi siapa dia.

Abdullah ini sangat keras dalam membela Prabowo di sidang MK, meski ia mengaku tidak membela Prabowo. Tapi ketika hakim MK menolak gugatan Prabowo, ia juga yang berseru akan membawa masalah Pemilu ini ke Komnas HAM bahkan Pengadilan Internasional.

Saking kerasnya, ia juga mengancam Prabowo supaya tidak mau menerima rekonsiliasi dari Jokowi dalam bentuk kursi. "Itu namanya Pelacur.." katanya tegas. Tampak ia punya kepentingan besar supaya Prabowo tetap berada diluar kekuasaan.

Tidak membela Prabowo ? Ah, yang benar saja..

Siapa sebenarnya Abdullah Hehamahua ?

Sesudah saya cari kesana sini, akhirnya saya ingat pernah membaca bahwa ia pernah dipenjara tahun 1974 karena MENOLAK PANCASILA. Abdullah pada waktu itu adalah ketua Himpunan Mahasiswa Islam HMI MPO atau Majelis Penyelamat Organisasi.

Meski begitu, ia membantah, "Yang saya tolak bukan Pancasila, tetapi asas tunggal Pancasila.." katanya di depan DPR pada tahun 2011 lalu.

Dan sesudah itu, ia pindah ke Malaysia selama 15 tahun lamanya. Lalu, ini yang menarik, ketika berada di Indonesia ia kemudian dipercaya DPR sebagai Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Sebelumnya, ia tidak lolos menjadi Ketua KPK.

Bagaimana bisa seorang yang pernah menolak Pancasila menjadi penasihat di KPK ?

Ini yang menjadi pertanyaan, karena seharusnya ketika seseorang berada di sebuah lembaga sepenting KPK ia harus bebas dari tuduhan menolak Pancasila sebagai dasar negara. Apalagi ia pernah dipenjara karenanya.

Sesudah membaca pernyataan-pernyataan Abdullah Hehamahua yang ngotot membela Prabowo pada sidang MK, sampai keras kepalanya ia akan membawa masalah Pemilu ini ke Pengadilan Internasional, saya lebih tertarik lagi ketika ia bicara bahwa tidak ada radikalisme di dalam KPK.

“Saya delapan tahun di KPK. Tidak pernah ada saya temukan radikalisme di sana,” katanya dengan marah. Meski begitu ia mengakui bahwa memang pegawai-pegawai KPK sarat nilai keagamaan. Bahkan katanya di semua ruangan, akan terdengar suara azan kalau waktu shalat tiba.

Dengan semua pernyataan Abdullah Hehamahua pada saat sidang MK yang bertentangan, juga tentang riwayat hidupnya, jujur saya ragu dengan pendapatnya mengenai radikalisme.

Radikalisme dalam pengertian kekinian yang disesuaikan dengan situasi di Indonesia adalah ketika seseorang terpapar ideologi untuk menjadikan negara tercinta ini menjadi negara agama dengan cara apapun. Radikalisme itu sebuah ideologi, bukan tatacara agama ataupun model pakaian, walaupun kadang bersinggungan.

Dan Abdullah Hehamahua, dengan bukti bahwa ia pernah dipenjara karena menolak Pancasila, ia pernah menjadi bagian dari radikalisme itu sendiri.

Seperti seorang teroris, ia tidak mungkin mengakui bahwa ia berbuat teror. Ia akan bicara panjang lebar tentang kebenaran melalui jihad meski dengan cara merusak dan mengorbankan nyawa manusia.

Ini pekerjaan rumah yang panjang. Rumah kita bernama Indonesia ini sedang berbenah. Bahkan institusi sebesar TNI saja diakui oleh Menteri Pertahanan sudah terpapar radikalisme. Apalagi pada institusi yang hanya sebesar Komisi Pemberantasan Korupsi.

Karena itu saya sangat mendukung gerakan Pansel untuk mencari pemimpin KPK yang bebas radikalisme, bekerjasama dengan BIN dan BNPT. Untuk apa ? Tentu untuk membenahi internal KPK dari paparan radikalisme.

Lebih baik waspada dengan pencegahan daripada kelak kita harus mengobati luka-lukanya. Karena pedang setajam KPK, akan sangat berbahaya jika digunakan untuk kepentingan mereka yang ingin merusak tatanan negara dengan kekuatan "tanpa pengawasnya".

Seruput kopinya.. ☕☕

Denny Siregar