Jumat, 30 Juni 2017

Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja

Budi Harta Winata,
Pengusaha baja/Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan.
Ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat:
“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti Raja.

Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.
Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, “Jangan perlakukan Orang tua seperti Pembantu".

Orang tua sudah melahirkan dan membesarkan kita, lha kok masih tega-teganya kita minta harta ke mereka, pada hal kita sudah dewasa.

Atau orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja.

Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

Walau suami/istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah : mereka yang memperlakukan dan melayani orang tuanya seperti seorang Kaisar.

Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan kurang perduli pada orang tuanya.

Tapi juga JANGAN mendekati orang tua hanya untuk mendapatkan hartanya.

Mari terus berusaha keras agar kita bisa memperlakukan orang tua seperti raja. Buktikan dan jangan hanya ada di angan-angan.

Beruntunglah bagi yang masih memiliki orang tua, masih BELUM TERLAMBAT untuk berbakti. Sebelum mereka kembali keharibaan Allah.

UANG bisa dicari, ilmu bisa di gali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali.

SHARE artikel ini ke anak-cucu kita supaya mereka juga SUKSES di dunia dan akherat... Amiin..

JANGAN CEPAT BERBURUK SANGKA

Introspeksi Diri...

Ada sepasang suami isteri yang ter-gesa² dan berlari menuju ke HELIKOPTER di PUNCAK GEDUNG HOTEL  untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi KEBAKARAN.

Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang saja yang tersisa. Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum HELIKOPTER itu menjauh.

Dan kejadian Berikutnya.... API ITU SEMAKIN MEMBESAR dan MENGHANGUSKAN seluruh nya (termasuk sang ISTRI).

Profesor yang menceritakan kisah ini bertanya pada para mahasiswanya, menurut saudara, apa yang  diteriakkan oleh sang isteri? ....
Sebagian besar mahasiswa-mahasiswi itu menjawab :
- Kamu JAHAT
- Aku benci kamu,
- kurang ajar...
- kamu egois,
- nggak tanggung jawab,
- dasar suami nggak tau malu.

Tapi ada seorang mahasiswi yang hanya diam saja, dan Profesor itu meminta mahasiswi yang diam itu untuk menjawab,  Kata si mahasiswi, saya yakin si istri pasti berteriak... "Tolong urus anak kita baik²".

Si Profesor itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya? *Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.*

Profesor  itu menatap seluruh kelas dan berkata :,
*Jawabannya benar sekali!......*
HOTEL itu kemudian benar² terbakar habis... dan...sang suami harus kembali ke kota kecil nya dengan air mata yang terus mengalir  serta harus menjemput dan mengasuh serta membesarkan anak2 mereka yang masih TK dan BALITA .....sendirian, dan Kisah Tragedi tersebut di simpan rapat2 tanpa pernah dibahas lagi.

Dan bertahun2 kemudian, anak2 itu sudah menjadi Dewasa.... Ada yang menjadi Dosen,  pengusaha... Ada pula yang menjadi Dokter....dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah. Pada suatu hari ketika anak bungsu nya bersih2 kamar sang Ayah, dia menemukan buku harian ayahnya.

*Dia menemukan kenyataan bahwa terjadi kebakaran di hotel waktu  itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan divonis dokter akan segera meninggal.*

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu²nya kesempatan untuk bertahan hidup. Dan dia menulis di buku harian itu,... Betapa aku berharap istriku tercinta lah yang naik ke Helikopter itu. Tapi....demi anak2, terpaksa dengan hati menangis, aku membiarkan kamu tertinggal di sana dan meninggal sendirian.

Si anak bungsu kemudian menceritakan  kepada ketiga kakaknya.... dan mereka... Berempat segera menyusul sang Ayah ke rumah orang tua mereka... Mereka mencium dan memeluk sang Ayah Bergantian.....(mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua, walau harus menanggung beban mental yang demikian berat.

Cerita itu selesai, ....
dan seluruh kelas pun terdiam.

Profesor itu kemudian berkata :

Siapakah sang Ayah?

Sang Ayah Itu.... adalah ayah dari orang yang ada di hadapan saudara2 sekarang.

Para Mahasiswa pun segera bertepuk tangan, ada yang berlarian memeluk sang Profesor, ada yang terhenyak dan meneteskan air mata haru.

Mereka sekarang mengerti Hikmah dari cerita nyata tsb,

_Bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita fikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti._

*Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa².*

_Mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, *tapi karena lebih menghargai hubungan daripada uang.*_

_Mereka yg bekerja tanpa ada yang menyuruh bukan karena bodoh, *tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.*_

_Mereka yang minta maaf lebih duluan setelah bertengkar bukan karena mengaku bersalah, *tapi karena lebih menghargai orang lain.*_

_Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, *tapi karena menganggap kita adalah sahabat.*_

_Mereka yang sering mengontakmu bukan karena tidak punya kesibukan, *tapi karena kita ada di dalam hatinya.*_

*OLEH KARENA ITU, JANGAN CEPAT MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI.*

Salam hangat untuk sebuah Persahabatan! Semoga Allah   senantiasa melimpahkan rahmat Nya kepada diri dan keluarga kita! Amin. 🙏🙏

Pantangan Jantung

Tahukah anda ​​Jantung kita ini paling pantangannya apa?​​ Anda mungkin blm tau, setelah membaca tulisan ini akan kaget!
1. Jantung paling pantangannya adalah : ​
- Semua makanan dan minuman yg bersifat dingin.
- Jangan minum air ES.
- Jangan makan makanan dingin yg keluar dari kulkas. lebih baik makan makanan yg hangat/panas.
( Ini kalo kita pengen sehat! ).

2. Apa musuh utama jantung kita?​
- Adakah kebiasaan saat makan nasi atau setelah makan nasi lalu minum air dingin/ es.
- Apalagi sambil mengelap keringat saat melahap makanan.
- Saat udara panas, sambil minum2an yg dingin, benar² sangat enak rasanya.

3. Jika punya kebiasaan spt itu silakan lihat penjelasan di bawah ini:
​- Penakluk utama jantung adalah sehabis makan, TIDAK BOLEH minum - minuman dan makanan yg dingin(ES), dan ini adalah petunjuk dari dokter ahli jantung di berbagai belahan dunia !​

​Penjelasannya:​
Minum segelas air dingin/es setelah makan memang sangat nyaman, namun air dingin/es bisa membeku (menggumpal)kan minyak/lemak makanan yg barusan ditelan dalam perut, bahkan bisa menyebabkan pencernaan dalam lambung menjadi lamban.
Begitu gumpalan (pembekuan) makanan yg mirip lumpur itu bertemu asam lambung, maka akan terurai dgn cepat dan diserap oleh usus, dan dia akan menempel di dinding usus. Berselang tidak lama kemudian akan berubah menjadi lemak, yg jika setiap harinya terus menerus seperti ini ,maka lama kelamaan akan dapat menyebabkan penyakit, bahkan penyebab tumor/kanker. Makanya setelah makan sebaiknya minum air hangat saja.

4.'Mohon perhatikan gejala² serangan jantung :
- Tidak semua gejala serangan jantung itu akan sakit di lengan kiri, tp kita harus waspada jika terjadi sakit di tengkuk !
- Saat serangan jantung terjadi, tidak pasti akan sakit di ulu hati, tetapi pada umumnya merasa mual, dan keringat dingin bercucuran itulah gejala umum terjadi serangan jantung.
- Ada 60% serangan jantung terjadi saat sedang tidur, sehingga penderita saat tidur tidak bangun² lagi.

@ Sakit di bagian tengkuk sering menyebabkan terbangun dari tidur nyenyak. Makanya harus hati².
@ Semakin banyak kita ketahui ini, maka kesempatan hidup lebih baik , lebih sehat dan panjang umur akan semakin besar.

Salah Seorang dokter ahli jantung menghimbau, jika setiap orang yg telah membaca berita ini, diharapkan dapat mengirim ke teman², sanak saudaranya.
Semoga penjelasan singkat ini dapat menolong kita dari bahaya serangan jantung....

Have nice days and life with healthly heart..!

ISTRI YANG SUKA NGOMEL* *BIKIN SUAMI CEPAT MATI

Anda suami yg punya istri bawel dan suka ngomel? Mulai saat ini anda musti hati² krn sebuah penelitian mengungkapkan, istri yg suka ngomel dpt membuat suami mengalami gangguan jantung.

Gangguan jantung yg berujung pd kematian, pd umumnya terjadi pd suami yg memiliki istri sangat cerewet dan senang mempersoalkan hal-hal remah, dan mem-besar²kan masalah sepele.

Penelitian tsb dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas Michigan dgn meneliti tekanan darah para suami.

Dari penelitian itu diketahui salah satu penyebab tekanan darah tidak stabil dan memicu masalah pd sistem kardiovaskular, adalah krn memiliki istri yg selalu marah² dan tidak bisa mengontrol emosinya.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bhw suami yg memiliki sifat sensitif dan selalu menutupi keburukan istri, ternyata memiliki daya tahan tubuh yg rendah sehingga mudah terkena penyakit.

Hasil penelitian ini menegaskan kembali bahaya stres dan hubungannya dgn kesehatan jantung. Stres ternyata memiliki dampak jangka panjang dan memicu penyakit berbahaya spt serangan jantung.

Penelitian dilakukan dgn metode wawancara dan pemeriksaan laboratorium, tujuannya untuk mengetahui bagaimana stres mempengaruhi tekanan darah.

Hasilnya adalah, suami yg memiliki istri temperamental, emosional, cerewet dan suka ngomel cenderung memiliki masalah gangguan jantung yg berbahaya.

KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK

Copas dari tetangga.
-------------------------------
*Dikutip dari Buku Karya Ausberg 49 tahun buku yang berjudul*
*"THE LAST LECTURE"*
*(Pengajaran Terakhir)* yang menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007.""

*KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK,*

terdiri atas 
*--Personality,*
*--Community* and
*--Life.* 

Berikut penjelasannya:

   *A.  PERSONALITY:*

*1*. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.

*2.* Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif

*3.* Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.

*4*. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.

*5.* Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip.

*6*. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur).

*7*. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.

*8*. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.

*9.* Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.

*10*. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak mengganggu masa ini.

*11*. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.

*12*. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.

*13*. Senyumlah dan tertawalah.

*14*. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan.

      *B. COMMUNITY:*

*15.* Hubungi keluarga Anda sesering mungkin

*16*. Setiap hari berikan sesuatu yang baik kepada orang lain.

*17*. Ampuni setiap orang untuk segala hal

*18.* Habiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun.

*19*. Coba untuk membuat............. paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari.

*20.* Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.

*21*. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik

           *C. LIFE:*

*22*. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda.

*23.* Tuhan menyembuhkan segala sesuatu.

*24.* Lakukan hal yang benar.

*25.* Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah.

*26*. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!.

*27.* Yang terbaik belumlah tiba.

*28*. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau mendukakan.

*29.* Ketika Anda bangun di pagi hari, berterima kasihlah pada Tuhan untuk itu.

*30.* Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bersukacita. So, be happy.

Mati tdk menunggu Tua....Mati tidak menunggu sakit...nikmati hidup....sebelum hidup tidak bisa di nikmati.

*Sahabatku !,*
*Saat membaca dan selesai menyimak semua hal di atas, kami mohon kepada sahabatku  untuk membagikan tulisan ini kepada "orang" yang kita cintai, sahabat2 kita saat sekolah, "teman" sepermainan kita, "teman" kantor, teman dimasa kecil/remaja maupun "orang" yang tinggal dengan kita.*

Kamis, 29 Juni 2017

Bila Allah tak menghendaki kita lagi...

Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia...

Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak....

Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan dan harta.....

Allah akan sibukkan kita dengan urusan mengejar karir, pangkat dan jabatan.....

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan.....

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah Subhaanahu wa Ta'ala, dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi, tentu mereka akan memilih untuk memperbanyak amal ibadah.....

Sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia, yang sudah jelas-jelas tidak bisa dibawa mati.....

Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah, beramal dan beribadah kepada Allah...

Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, jabatan, rumah besar, mobil mewah.....

Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu agama orang lain lebih dari kita.....

Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita.....

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun di sepertiga malam, sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah.....

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain setiap hari sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah kita.....

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain ganti kendaraan dengan yang lebih mewah.....

Kita cemburu apabila melihat orang lain bisa setiap tahun liburan.....

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain  bergelimang harta, tahta dan Wanita. Cemburu karena dia bisa jadi Gubernur, Bupati ataupun Walikota.....

Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al-Quran sebulan dua kali.....

Kita jarang cemburu apabila melihat muallaf yang paham isi Al-Qur'an.....

Kita jarang cemburu apabila melihat orang lain berbuat untuk menegakkan Akidah Islam.....

Kita jarang cemburu kepada orang yang berjihad di jalan Allah.....

Kita jarang cemburu kepada orang yang mewakafkan dirinya dan semua Hartanya dijalan Allah......

Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin, tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita.....
maka panggilan Illahi makin bertambah dekat...

Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Karena Hidup di dunia menentukan kehidupan yang kekal nanti di akhirat...

Selasa, 27 Juni 2017

Mengapa bangsa China lebih cepat maju ketimbang bangsa lain ?

Bahkan hanya 25 tahun sejak reformasi Deng, China bisa mendekati AS soal kemakmuran.
Padahal AS telah membangun sejak lebih 100 tahun yg lalu.
Dan bahkan AS sempat unggul dalam perang dunia kedua dan china korban dari perang itu sendiri.

Mengapa ?
"Karena ongkos membangun peradaban di China sangat murah.
•China tidak perlu ongkos untuk Pemilu.
•Tidak perlu ongkos untuk membayar staf ahli dan sekretaris anggota senator dan DPR yang berjumlah hampir 1000 orang.
•Tidak perlu ada proses pengadilan yang berongkos mahal dan membuat pengacara kaya raya.
•Tidak perlu repot membentuk lembaga HAM yang kerjanya nyinyir.
•Dan tidak perlu ada  lembaga demokrasi setingkat presiden yang harus di ongkosi, yang semuanya hanya omong kosong. "
Demikian kata teman saya dari AS yang juga ketua DTCC.

Dalam segi penerapan hukum, China sangat sederhana.
- Mencuri dengan kekerasan, hukuman mati.
- Korupsi diatas Rp. 1 miliar, hukuman mati,
- Mencuri ringan tanpa kekerasan, hukumannya kerja paksa.
- Korupsi dibawah Rp. 1 miliar ya kerja paksa.
- Kejahatan sosial seperti PSK, berjudi secara ilegal, berdagang ditempat terlarang, hukumannya kerja paksa.

Lama kerja paksa tergantung kadar hukumannya.
Nah bagaimana proses peradilan di China?
~ Hukuman ringan dapat di putuskan sendiri oleh aparat hukum seperti Polisi.
Jadi tidak perlu semua kasus di bawa ke pengadilan.
~ Hukuman berat , melalui pengadilan.
Itu prosesnya cepat hanya 2x sidang selesai.

Makanya China tidak butuh  banyak penjara.
( Kebayang engga kalau China dengan populasi 1,3 miliar penduduk menerapkan hukum seperti AS atau Indonesia, berapa banyak penjara harus disediakan).
Orang terkena hukuman kerja paksa, tidak akan bisa lari.
Karena China menganut KTP data base terpusat.
Apapun kegiatan harus melampirkan KTP.
Jadi aparat cukup di pegang KTP pelaku kajahatan  maka dia tidak akan bisa lari kemana-mana.

Berkumpul dibawah 50 orang secara terorganisir harus izin Polisi diatas 50 orang berkumpul tanpa izin, semua dikenakan hukuman kerja paksa.

Semua orang bisa pinjam uang ke bank tanpa jaminan karena  semua asset milik negara.
Jadi apa yang mau dijaminkan.
Tapi orang tidak bisa lari.
Karena semua bank milik negara.
Ngemplang hutang dianggap korupsi.
Diatas Rp. 1 miliar hukuman mati.
Di bawah Rp. 1 miliar kena hukuman kerja paksa.

Dari hukuman kerja paksa saja, China bisa membangun banyak proyek dengan ongkos minimal karena pekerjanya kebanyakan para hukuman.

Semua orang tidak boleh dagang disembarang tempat apabila sudah ada tempat disediakan pemerintah.
Namun mereka berhak mendapatkan tempat berniaga dengan baik sesuai arahan pemerintah.
Apabila dagangan tidak laku karena pemerintah salah menempatkan, maka kerugian di tanggung negara.
Tapi kalau kerugian karena malas, maka di black list untuk berdagang.

Pemerintah China engga ada waktu meladeni orang yang malas, dan hanya masalah waktu mereka akan tersangkut kasus pidana berat atau ringan.
Berat ya mati, ringan ya kerja paksa.

Semua orang boleh kaya namun semakin kaya dia semakin besar pajak pribadinya.
China masih menganut pajak kekayaan.
Tapi kalau kekayaannya di tanamkan dalam badan usaha maka tidak dianggap sebagai kekayaan pribadi dan tidak kena pajak progressive.
Dari sistem seperti itu, China bisa focus membangun.

Selagi rakyat mau kerja keras dan tertib mereka akan aman-aman saja dan di jamin akan terus berkembang.  

Biaya Pemilu kita mencapai lebih dari Rp. 40 triliun atau itu sama dengan ongkos buat jalan Toll dari Lampung ke Medan.
Dan habis begitu saja untuk menjadikan 500 orang anggota DPR dan seorang Presiden.

China engga perlu dana pemilu, dan uang nya dipakai bangun jalan toll, jalan kereta, riset dll.
Agama tidak di larang untuk dianut siapapun namun siapapun di larang mengorganisir orang banyak atas nama agama.

Pengalaman berbangsa beribu-ribu tahun mengajarkan kepada mereka bahwa hidup damai itu adalah berkah yang luar biasa dan itu bukan pemberian gratis tapi harus diperjuangkan dengan menahan diri untuk mencoba mengerti keadaan diluar diri mereka dan sadar bahwa hidup menjadi orang baik itu akan baik-baik saja.
Mereka percaya pemerintah menjamin soal itu, walau tanpa sistem demokrasi  seperti negara lain.

BAHAYA KESOMBONGAN

Di sebuah danau yg jauh dari keramaian tinggallah 2 ekor angsa dan seekor kura²,  Mereka bersahabat dgn sgt baik.

Pada suatu ketika, kekeringan melanda area tsb sehingga hal tsb memaksa hewan² yg tinggal di sana utk bermigrasi karena makin minimnya makanan & mereka tau kelak jika air danau habis mrk pun akan mati kekurangan air & makanan.

Kedua ekor angsa pun bersepakat utk bermigrasi ke daerah lain yg msh ada air & makanannya. Kura² pun menjadi risau mendengar rencana tsb, dgn kondisinya yg bergerak lambat & tdk dpt terbang maka mustahil bagi dirinya mengikuti jejak mrk.

_“Sudah, kalian cepat berangkat ke daerah yg lbh baik, biar saya meninggal saja ditempat ini. Krn saya tdk dpt terbang spti kalian!”_ Seru si Kura².

Angsa: _“Ga usah kuatir Kur, gini aja, kami berdua akan mengigit sebatang ranting pohon di pinggir kiri & kanan, kamu ditengah gigit yg kuat ya, kami akan bawa kamu ke danau yg lbh baik.”_

Kemudian mrk pun berangkat.

Ketika sdg terbang, seekor burung gagak berkata: _“Dasar tdk tau malu, sdh gendut tdk bisa terbang membuat beban pula pada si Angsa.”_

Si kura² marah sekali, tetapi dia ingat kalau dia buka mulutnya, maka ia akan terjatuh mati. Ia pun fokus dgn gigitannya & tdk mau mendengarkan lagi.

Tdk berapa lama, mrk bertemu dengan seekor burung jalak.

Burung jalak berkata: _“Wow, engkau kura² yg luar biasa, engkau hebat sekali laksana seorang raja yg menguasai bukan hanya di air & di darat saja melainkan jg di udara."_

Si kura² dgn hati yg ber-sinar² berkata _“Terima kasih, saya ini ….”_ ia pun baru sadar bhw ia sdh melepaskan gigitannya pada ranting tsb.

Ia pun jatuh & mati.

Terkadang bukan cacian & hinaan yg membuat seseorang terjatuh, malahan cacian & hinaan kadang memperkuat diri seseorang.

Namun pujian sering membuat jatuh.

Sahabatku,
Berbahagialah jika Anda dicela & dicerca sebab itu membuat diri Anda kuat, hati-hatilah jika Anda dipuji, sebab itu membuat diri Anda lemah, tdk mawas diri & sombong.

Semoga Bermanfaat.
Selamat Pagi😁😁

Senin, 26 Juni 2017

Dekatlah kepada kawanmu, tetapi lebih dekatlah kepada musuhmu.

JOKOWI ITU ORANG SOLO

Pertanyaan yang sama dari banyak orang, "Untuk apa Jokowi menerima GNPF MUI di istana?"
Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa itu adalah kelemahan Jokowi. GNPF MUI pimpinan Bahtiar Nasir selama ini dikenal sebagai kelompok yang berseberangan dengan Jokowi. Bahkan Jokowi sempat dikatakan oleh mereka selangkah lagi akan membuat negara ini kafir.
Saya malah memandangnya terbalik, bahwa sebenarnya disanalah kekuatan Jokowi..
Jokowi adalah tipikal orang yang mampu meredam emosinya sampai titik paling rendah. Ia mampu menyimpan semua strategi berperangnya sehingga tidak semua orang bisa membacanya.
Saya yakin, sedikit sekali dari kita yang mampu bersikap dingin dan menerima dengan ramah orang yang selama ini jelas-jelas bertentangan dengan kita. Bahasa tubuh ketidak-sukaan kita akan keluar dan secara otomatis kita akan menolak bertemu mereka.
Tetapi Jokowi adalah sedikit dari orang yang mampu seperti itu..
Saya teringat dengan dinginnya Jokowi mendatangi Bibit Waluyo - yang pada waktu itu masih menjabat Gubernur Jateng dan terkenal dengan kebenciannya kepada Jokowi waktu dia menjabat Walikota Solo. Jokowi yang baru saja menjabat Gubernur DKI datang dan berusaha mencium tangan Bibit yang dengan segera menepisnya..
Bisa anda begitu seperti Jokowi? Saya meragukannya. Dan kita lebih senang mengukur diri kita seperti Ahok yang dengan spontan akan bereaksi keras..
Itulah yang saya bilang kekuatan sebenarnya Jokowi. Sama seperti ketika ia menerima Prabowo dan SBY di istana, padahal Jokowi jelas2 tahu bahwa kedua orang ini adalah musuh politiknya..
Lalu, kenapa Jokowi menemui GNPF MUI?
Saya teringat seorang teman berkata bahwa Jokowi pernah berbisik kepadanya. "Kesalahan terbesarku adalah menciptakan musuh secara bersamaan dalam satu waktu. Pada akhirnya saya kerepotan sendiri menghadapi ketika mereka bersatu.."
Jokowi sebenarnya sedang memainkan pecah ombak. Ia pemain psikologis yang sulit dicari bandingnya.
Dengan menerima GNPF MUI - yang sudah merengek2 melalui Menag untuk bertemunya - Jokowi sebenarnya mulai memecah barisan lawannya. Ia merangkul satu musuh untuk menghantam musuh lainnya..
Dengan rangkulan itu, maka musuh akan mulai curiga bahwa koalisinya selama ini mulai berkhianat. Dan pada akhirnya diantara mereka tidak tercipta kepercayaan absolut.
Kita dengan mudah mengutip strategi Sun Tzu, "Dekatlah kepada kawanmu, tetapi lebih dekatlah kepada musuhmu." Pertanyaannya, mudahkah menerapkan strategi seperti itu tanpa kemampuan psikologis level dewa?
Jokowi bisa.
Dan itu sudah dilakukannya berkali2 ternasuk terhadap Bibit, Prabowo dan SBY. GNPF MUI tentu senang dan berbalik memuji Jokowi. Mereka "merasa" sudah berhasil melakukan langkah setahap untuk nego rekonsiliasi. Dan dengan itu mereka berharap bisa mengamankan posisi mereka yang sedang tidak aman itu..
Tetapi mereka salah besar..
Jokowi tidak akan menghentikan kasus-kasus hukum yang sedang berjalan. Ia sedang menancapkan pisaunya lebih dalam menembus tulang lawannya. Dan - hebatnya Jokowi - lawannya bisa mati tanpa berdarah dan merasa ia sedang dibunuh.
Ibarat permainan catur, Jokowi itu seperti terlihat membuka pertahanannya lebar-lebar dan menunjukkan kelemahannya. Padahal disanalah sesungguhnya jebakan yang mematikan..
Dengan menerima GNPF MUI, Jokowi akan meraih dua keuntungan sekaligus. Meredam serangan musuh dan menaikkan simpati dari pendukung musuhnya selama ini kepada dia.
Siapapun tahu, bahwa antara Jokowi dan Ahok ada hubungan khusus yang mendalam. Dan tidak ada yang bisa menghentikan rasa sakit hatinya terhadap musuh-musuh sahabatnya itu..
Satu persatu lawannya sedang menderita sekarang. Satu persatu. Seharusnya lawan Jokowi mengerti satu hal yang sangat jelas tapi mereka selalu lupa. Bahwa Jokowi itu orang Solo..
Ah, saya selalu senang memperhatikan langkah-langkah catur orang ini sambil seruput secangkir kopi..
Tidak pernah sedikitpun saya meragukannya.
Sumber: Dennysiregar.com

Sejarah "Halal bi Halal"

*Penggagas istilah "Halal Bi Halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah.*

Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. _*"Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'halal bi halal",*_ jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah *"Halal Bi Hknalal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah* dengan analisa pertama _(thalabu halâl bi tharîqin halâl)_ adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua _(halâl "yujza'u" bi halâl)_ adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

_Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq_

http://www.nu.or.id/post/read/60965/kh-wahab-chasbullah-penggagas-istilah-ldquohalal-bihalalrdquo

Vitamin di pagi ini

*1. Jika Kita Memelihara Kebencian/Dendam,* maka
seluruh 'Waktu & Pikiran' yg kita miliki akan habis begitu saja & kita tidak akan pernah menjadi 'Orang Yang Produktif'.

*2. Kekurangan Orang Lain adalah Ladang bagi kita untuk :*
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya, dan
» Menjaga Aib-nya.

*3. Bukan Gelar, Jabatan dan kekayaan yg menjadikan 'Orang Menjadi Mulia',* Jika kualitas pribadi kita buruk, semua itu hanyalah 'Topeng Tanpa Wajah'.

*4. Ciri Seseorang (Pemimpin ) itu " Baik'* akan Tampak dari :
» Kematangan Pribadi,
» Buah Karya,
» serta Integrasi antara 'Kata & Perbuatan'-nya.

*5. Jika Kita Belum bisa membagikan Harta atau membagikan Kekayaan,* maka Bagikanlah 'Contoh Kebaikan' karena Hal itu akan 'Menjadi Tauladan'.

*6. Jangan Pernah Menyuruh Orang lain utk Berbuat Baik,* Sebelum Menyuruh Diri Sendiri',
Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari Diri Kita Sendiri.

*7. Pastikan Kita sudah melakukan yg terbaik hari ini,* Baik dengan :
» Materi,
» dengan Ilmu,
» dengan Tenaga,
» atau Minimal dgn
'Senyuman yg Tulus'...

*8. Para Pembohong* akan
'Dipenjara oleh Kebohongannya' sendiri.
Orang yg Jujur akan
'Menikmati Kemerdekaan' dalam Hidupnya.

*9. Bila Memiliki 'Banyak Harta', maka Kita lah yg akan 'Menjaga Harta'.*
Namun Jika Kita Memiliki 'Banyak Ilmu', maka Ilmu lah yg akan 'Menjaga Kita'.

*10. Bila 'Hati Kita Bersih',*
Tak ada Waktu untuk :
» Berpikir Licik,
» Curang,
» atau Dengki,
sekalipun terhadap Orang lain.

*11. Bekerja Keras adalah 'Bagian Dari Fisik',* _*Bekerja Cerdas merupakan*_ _*'Bagian Dari Otak', sedangkan Bekerja Ikhlas*_ _*adalah*_
_*'Bagian Dari Hati'.*_

*12. Jadikanlah setiap 'Kritik'* *bahkan 'Penghinaan' yg Kita Terima sebagai 'Jalan Untuk Memperbaiki Diri'.*

*13.Kita tdk pernah tahu Kapan*
*'Kematian' akan 'Menjemput Kita, tapi yg Kita Tahu  adalah kematian itu pasti datang dan seberapa Banyak Bekal yg Kita Miliki untuk Menghadapinya.*

_*SEMOGA BERMANFAAT*_

JANGAN HANYA LIHAT BUNGKUS NYA .....TAPI.....FOKUS PADA.....ISI NYA

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana & usang, turun dari kereta api di Boston, berjalan dengan malu2 menuju kantor Pimpinan *Harvard University.*

Mereka ingin membuat janji.
Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah org kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard & bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

_“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”_ kata sang pria lembut.

_“Beliau hari ini sibuk,”_ sahut sang Sekretaris cepat.

_“Kami akan menunggu,”_  jawab sang wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tsb akhirnya akan patah semangat dan pergi.

Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

_“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,”_ katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tsb.
Sang wanita berkata padanya, “Kami mempunyai seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard.

Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?”  tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut.

_“Nyonya,”_ katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal.
Kalau kita lakukan itu,  tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

_“Oh, bukan,”_ Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. *Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”*

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak,

_“Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”_

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

*Mr. dan Mrs. Leland Stanford* bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah *Stanford University,* salah satu universitas favorit kelas atas di AS saat ini.

🔜🔜🔜🔜🔜

Sahabatku,
Kita mungkin pernah bersikap seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai.

Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

* _Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya:_*

_"Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!",
....sedang....
kepada orang yang miskin itu kamu berkata:_
_"Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?_

🔜🔜🔜🔜🔜
Seringkali kita lebih FOKUS dengan Bungkus nya daripada  kepada isi nya.🔜🔜🔜

- Wajah Cantik....itu bungkus nya
watak, sifat,karakter..itu....isi nya

-Pesta Perkawinan...itu Bungkus
Kasih,  Cinta, saling pengertian....itu.....ISI Nya

- Rajin IBADAH  ....itu Bungkus nya
Melakukan Perintah NYA...itu....ISI nya

-RUMAH mewah...itu Bungkus nya
Keharmonisan & Kebahagiaan... Itu... ISI nya

Mari
Mulai sekarang, 
jangan lagi kita lihat hanya Bungkus nya....tapi....fokus kepada.... ISI nya
kita tetap berbuat kasih,
tanpa pandang bulu,
karena kita semua sama ciptaan TUHAN....dan......Semua Berharga dimata TUHAN
Selamat Pagi
TUHAN MENYERTAI

Tujuh Hal Ini Tak Hancur di Hari Kiamat

SAAT mendengar kata hari kiamat, maka yang ada dibenak adalah sebuah kehancuran bumi dengan segala isinya, pada saat itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan segala yang hidup di dunia akan mati. Ketika sangkakala (terompet) ditiupkan oleh Malaikat Israfil, maka seluruh semesta beserta isinya akan lenyap seketika. Bahkan malaikat Israfil yang akan meniupkan sangkakala itu pun akan binasa.
Meski terjadi kehancuran yang tidak bersisa, namun ada hal-hal yang dalam kekuasaan-Nya tetap utuh. Seperti yang diungkapkan Imam Al Barbahari “Dan segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kehancurannya maka akan hancur, kecuali surga dan neraka, ‘Arsy, Al-Qalam dan Lauh Mahfuzh,”. Lantas benarkah pernyataan tersebut?
1. Surga dan Neraka
Jika sangkakala ditiupkan, ternyata ada yang tidak hancur, yakni Surga dan Neraka. Dalam hal ini Allah SWT telah menyatakan kekelan surga dan neraka dalam banyak ayat. Salah satunya dalam QS. Huud, 106-108 yang artinya
“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Huud: 106-108)
Maksud dari ayat tersebut ialah tersirat bahwa surga dan neraka itu adalah kekall, tidak akan binasa serta tidak akan ditetapkan kematian kepada keduanya
2. ‘Arsy atau Singgasana Allah SWT
Selanjutnya yang tidak akan hancur adalah Arsy Allah SWT. Dimana Arsy ini adalah singgasana Allah SWT. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya yang berarti
“Dan mereka berkata"Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini (surga) kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam .” (Q.S. Az-Zumar, 74-75)
Al ‘Arsy tidak termasuk dalam makhluk-makhluk yang diciptakan selama enam hari, dan tidak dibelah dan dipecah. Bahkan hadist-hadist yang mashur menegaskan apa yang ditunjukan Al-Qur’tentang ketidakpunahan Al’Arsy.
3. Kursi Milik Allah SWT
Selain singgasana Allah SWT, ada pula kursi milik Allah, seperti apa itu kursi Allah. Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang. (HR. Ibnu Hiban, No.361, Shahih).
Sesungguhnya kursi Allah tidak akan hancur sebagaimana halnya ‘Arsy berdasarkan ulama.
4. Lauh Mahfuzh
Jika singgasana Allah yaitu Arsy tidak akan hancur, maka sama halnya dengan Lauh Mahfuzh, dimana ini adalah kitab tempat Allah untuk menuliskan segala catatan alam semesta. Adapun nama lain Lauh Mahfuzh dalam Al-Qur’an yaitu Ummu Al-Kitab, sebagaimana yang telah dikatakan Allah yang artinya:
“Tiada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi, melainkan terdapat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.S. An-Naml:75)
Maka dari itu Lauh Mahfuzh pun tidak akan hancur berdasarkan Ij’ma ulama
5. Qalam atau Pena
Qalam atau pena ternyata juga termasuk ciptaan Allah SWT yang tidak akan hancur ketika sangkakala ditiupkan. Menurut beberapa ulama, Qalam atau pena merupakan makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! kemudia Al-Qalam berkata”Wahai Rabb ku, apa yang akan aku tulis? kemudian Allah berfirman, Tulislah ttakdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat” (HR. Abu Dawud, shahih).
6. Tulang Ekor
Selain itu, meskipun tiupan sangkakala itu dapat menghancurkan manusia, tapi ternyata sangkakala tidak bisa menghancurkan tulang ekor manusia.
“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah), kecuali satu tulang yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat” (HR. Bukhari, No.4953)
7. Ruh
Dan yang terakhir adalah ruh. Ruh ini tidak akan hancur atau binasa saat sangkakala ditiupkan. Karena makhluk yang binasa disaat itu akan dicabut ruhnya dan meninggal dan kemudian Ruh ini dikembalikan ke jasadnya disaat hari kebangkitan. Hal ini disepakati ulama bahwa Ruh tidak akan hancur.
Beriman kepada hari kiamat memang diwajibkan, karena hal tersebut termasuk dalam Rukun Iman yang ke lima.
Editor: H. Dicky Aditya

Jumat, 23 Juni 2017

Ucapan sblm lebaran

[24/6 10.58] Budie 🇲🇨: *_' لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ_*
Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan dan datangnya Bulan Syawal 1438 H.

_*Perkenankanlah  kami Budi Hartoyo dan  keluarga menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H*_

*Taqobbalallahu minna wa minkum "*
*Barakallahu Fiikum*

*_ وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ_*
[24/6 11.10] Dadang Florida: *السلام عليكم .*

*_Jika Maaf itu boleh diungkap hari ini._*
*_Saya tidak menunggu hari raya Idul Fitri tiba._*

*_Karena hembusan nafas pun kita tak pernah tahu bila akan berhenti._*

*_Maka dari itu saya ingin Mohon Maaf atas Kesalahan Kekhilafan maupun_*
*_Perbuatan yg sengaja & tidak sengaja_*
*_Yang membuat sakit hati saudara-saudaraku _*

*_Sebelum Ramadhan pergi_*
*_Sebelum Idul Fitri datang_*

*_Saya dan keluarga hendak memohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan..._*

*_Selamat menikmati hari-hari terakhir Ramadhan_*

*_TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM, BARAKALLAHU FIKUM !_*

*والسلام عليكم*.

Aneka

[23/6 12.10] Ibu: Air tak selalu jernih💦
begitu juga ucapanku,
Kapas tak selalu putih💭
begitu juga hatiku,
Langit tak selalu biru🌈
begitu juga hidupku,
Jalan tak selalu lurus🚶
begitu juga langkahku.

Jika Maaf🙏 itu boleh diungkap hari ini☀
Untuk Apa menunggu hari raya🎉 tiba?😔

Sedangkan hembusan Nafas⏳ pun Kita tak pernah tahu bila akan Berhenti⏰😢

maka dari itu ku ingin Mohon Maaf🙏 atas Kesalahan Kekhilafan😒 maupun
Perbuatan yg sengaja & tidak sengaja😎
yg membuat sakit hati💔 ..

🔷 Sebelum ramadhan pergi👋
🔶 Sebelum Aidul Fitri datang🎆
➿ Sebelum operator sibuk📲
⛔ Sebelum Whatsapp hang😁

Daku hendak memohon maaf🙏 atas semua salah dan khilaf ....😃

selamat menikmati🌄 hari-hari terakhir Ramadhan🌠⭐

TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM, MINAL AIDZIN WALFAIZIN.
[23/6 12.25] Ibu: 🕋 *```Ass.wr.wb. Tolong jangan dihapus sms ini dari Bp. KH HABIB juru kunci gedung MEKKAH```*

```Ia bermimpi ketemu``` *```NABI MUHAMMAD Rosulullah SAW```*, ```dlm mimpi itu beliau berpesan, kuatkan Akidah dalam Ibadah. Karena dunia sudah goyang dan tua, jangan tinggalkan sholat. Tolong sebarkan wa ini ke 20 muslim, insya ALLAH dalam wktu 10 hari kamu akan dapat rizki besar, dan bila tidak disebarkan maka kamu akan menemukan kesulitan yang tidak henti2nya (demi ALLAH terbukti) Saya share karena dan untuk ALLAH semata.... BISMILLAH ...7X Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Malik Ya Qudus Ya Salam Ya Mu'min Ya Muhaimin Ya Aziz Ya Jabar Ya Mutakabbir Kirimkanlah Asma Allah ini kepada 20 orang, Insya Allah Hari sabtu kamu akan medapat berita baik. Siapa yg tidak menghiraukannya maka akan mendapat nasib yg buruk selama 6 thn., jikalau anda ikhlas mau mngorbankan 20 WA karena Asma ALLAH!! Dalam Waktu 1 hari anda akan mendapatkan REZEKI yg tiada tara jumlahnya, jangan diremehkn Demi Allah dan jangan di hapus sebelum di kirim...```🕌
[23/6 17.26] Jumadi: Tak terasa  sdh dekat hari raya idul fitri ...

Ketika mulut tak mampu *berucap.*
Ketika telinga tak mampu *mendengar.*
Ketika tangan tak mampu *berjabat erat* dan
Ketika kaki tak mampu lagi *melangkah ...*

Jangan menunggu hingga datangnya *idul fitri* ...
Segera sajalah menuju ke Rumah Sakit terdekat ...

Itu gejala *STROKE* !!!!! .....

Serba O

Pancen *"SORO"* golek *"ARTO"* ora wengi ora  *"RINO"* awak di *"PEKSO"* batin ke *"SIO²"* ati ke *"LORO²"* golek seng di gawe nyambung *"NYOWO"* arane *"SEGO"* direwangi ninggal *"DESO"* nyebrang *"SEGORO"* totohane *"NYOWO"* adoh sanak lan *"KELUARGO"* awak remuk ora di *"ROSO"* ati loro mung di *"JARNO"* mugo² ndang ketekan urip seng*"MULYO"* nek wis Mulyo gak usah *"NEKO²"*,  ayo Eling marang sing *"KUOSO"* mumpung isih nang *"DUNYO"* nek mati *"BONDO"* gak di *"GOWO"*,  makane ayo konco² ndang *"TOBATO"* amargo *"POSO"* kurang siji*"DINO".*  Sak durunge *"KULO"* lan sak *"KELUARGO"* jaluk *"NGAPURO"*  mugo² ben ketemu *"RIYOYO"* maneh lan *"SEDHOYO"* mlebu *"SUARGO"* Ngapunten sedoyo lepat *KAWULO*, nyuwun *AGUNGE PANGAPURO.*🙏🏻 🤝

Malam terakhir

Aswrwb. Bpk/ibu/sdr/sahabatku: DOAKU DI HARI HARI TERAKHIR RAMADHAN
Doa untuk keluarga dan sahabatku di Hari2 terakhir bulan Ramadhan

Ya Allah jika disaat ini, ada keluarga dan sahabatku yang sakit,
sembuhkanlah dia. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabatku yang bermasalah,
berilah kesabaran dan jalan keluar untuk dia. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabatku yang kesempitan rezeki, lapangkanlah rezekinya. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabatku yang bermasalah satu sama lainnya ... damaikanlah mereka. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabatku yang sesat duniawi,
karuniakan Nur kepada dia. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabatku yang lalai,
karuniakanlah Hidayah Mu kepada dia. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabatku yang bersedih hati...
kembalikanlah kecerian diwajahnya. آمِيّنْ

Ya Allah jika disaat ini ada keluarga dan sahabat ku yang berada di persimpangan jalan yang berliku,
tunjukkan lah jalan yang Engkau ridhoi.
Berikanlah kami semua kesempatan untuk berjumpa kembali di Ramadhan tahun depan.
آمِيّنْ آمِيّنْ آمِيّنْ يَا رَبَّ العَـــالَمِيْن
                                                        .. Air tak selalu jernih
┆begitu juga ucapanku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Kapas tak selalu putih
┆begitu juga hatiku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡..✽̶⌣̊
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Langit tak selalu biru
┆begitu juga hidupku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Jalan tak selalu lurus
┆begitu juga langkahku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Jika Maaf itu bisa terucap hari ini
┆Untuk Apa harus menunggu Hari Raya tiba ?
┆Sedangkan hembusan Nafas pun
┆Kita tak pernah tau kapan bila akan
┆Berhenti... 😔
┆maka dari itu ku ingin Mohon Maaf atas
┆Kesalahan Kekhilafan maupun
┆Perbuatan yg sengaja ataupun tidak
┆sengaja ... yg membuat sakit hati
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶⌣̊✽̶.
. Sebelum Ramadhan usai
. Sebelum Idul Fitri datang
. Sebelum operator sibuk
. Sebelum SMS pending
. Sebelum Whatsap pending
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡..̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆ Dengan ini saya mengucapkan ......
* Mohon Maaf Atas Salah dan Khilaf * 🙏🏼😔🌹🌹🌹

Mohn maaf jika kalimat diatas yg sy kutip dari wa kiriman sahabatku.
Wasalamuaikum wr. Wb

Ttd

Budie Hartoyo & keluarga

Kamis, 22 Juni 2017

Cara Tuhan menyayangimu

Renungan Siang

_*Cara Tuhan menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah.*_

_*Cara Tuhan menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul, tapi dengan mengokohkan pundakmu, sehingga kau mampu memikul beban yang diberikan kepadamu,*_

_*Cara Tuhan menyayangimu mungkin tak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses, tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa.*_

_*Hidup itu ...*_
_*Butuh masalah supaya kita punya kekuatan.*_
_*Butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras.*_
_*Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati.*_
_*Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai.*_
_*Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur,*_
_*Butuh senyum supaya tahu kita punya cinta,*_
_*Butuh orang lain supaya tahu kita tidak sendiri*_

_*Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap.*_

_*Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN, ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Tuhan.*_

_*Semoga kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan berkat yang melimpah, Amiin.*_

_*Awali dengan doa dan hati yg bersyukur.*_ *Selamat Sore
  Tuhan  Memberkati, Amin..🙏🏻🙏🏻

KAMI ANTIKORUPSI, KAMI DUKUNG KPK

[6/20, 7:42 PM] Bibit Samad Riyanto 2 Tlp: 357 Guru Besar dukung KPK: Tolak Hak Angket KPK

PERNYATAAN GURU BESAR ANTIKORUPSI
KAMI ANTIKORUPSI,
KAMI DUKUNG KPK

Kami – Guru Besar dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia – menyatakan keprihatianan terhadap segala upaya yang dapat melemahkan atau mengganggu eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kami menghimbau kepada Presiden Joko Widodo, Pimpinan Partai Politik dan Pimpinan DPR/ MPR RI untuk tetap menjadi bagian penting bagi upaya pemberantasan korupsi dan mendukung langkah KPK memerangi korupsi. Presiden Joko Widodo dan jajaran Kepolisian sebaiknya dapat mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan – penyidik KPK dengan segera. Pimpinan Partai Politik dan DPR/MPR sebaiknya membatalkan penggunaan hak angket untuk KPK karena baik prosedur, subjek dan objeknya tidak tepat secara hukum.

Kami ingin menegaskan kembali bahwa Kami bersama dan tetap akan mendukung KPK karena Lembaga Antikorupsi ini adalah harapan bagi upaya mewujudkan Indonesia yang bersih dan bebas dari korupsi.
Indonesia, 19 Juni 2017
Guru Besar Antikorupsi
1. Prof. Jusuf S. Effendi (Universitas Padjadjaran)
2. Prof Hera Sudoyo  (Eijkman  Institute)
3. Prof. A. Hamid Sarong (UIN Ar Raniry Aceh)
4. Prof. A. Sudiarja (STF Driyarkara) 
5. Prof. AAIN. Marhaeni, M. A (Univ. Pendidikan Ganesha)
6. Prof. Abdullah Sulaiman (Universitas Islam Negeri Jakarta)
7. Prof. Abraham Lomi. M. Eng (Institut Teknologi Nasional Malang)
8. Prof. Adler Manurung (Universitas Bina Nusantara)
9. Prof. Agus Pramusinto (Universitas Gadjah Mada)
10. Prof. Agus Setiyono (Institut Pertanian Bogor)
11. Prof. Ahmad Rofiudin (Universitas Negeri Malang)
12. Prof. Akhmad Fauzi (UPN Veteran Jawa Timur)                      
13. Prof. Akmal Taher (Universitas Indonesia)
14. Prof. Alfitri (Universitas Sriwijaya)
15. Prof. Ali Agus (Universitas Gadjah Mada)
16. Prof. Almasdi Syahza (Universitas Riau)
17. Prof. Alois A. Nugroho (Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta)
18. Prof. Aloysius Uwiyono (Universitas Indonesia)
19. Prof. Ambariyanto (Universitas Diponegoro)
20. Prof. Ambo Tuwo (Universitas Hasanuddin)
21. Prof. Aminuddin Salle (Universitas Hasanuddin)
22. Prof. Amir Kamal (Universitas Hasanuddin)
23. Prof. Amiruddin (Universitas Hasanuddin)
24. Prof. Amran Achmad (Universitas Hasanuddin)
25. Prof. Anak Agung Gede Agung (Undiksha di Singaraja Bali)
26. Prof. Andi Iqbal Burhanuddin (Universitas Hasanuddin)
27. Prof. Andi Pangeran (Universitas Hasanuddin)
28. Prof. Andi Zulkifli (Universitas Hasanuddin)
29. Prof. Ani M Hasan (Universitas Negeri Gorontalo)
30. Prof. Anja Meryandini (Institut Pertanian Bogor)
31. Prof. Anna Erliyana (Universitas Indonesia)
32. Prof. Antonius Suwanto (Institut Pertanian Bogor)
33. Prof. Ari Purbayanto (Institut Pertanian Bogor)
34. Prof. Arie Sukanti Hutagalung (Universitas Indonesia)
35. Prof. Arief Sabdo Yuwono (Institut Pertanian Bogor)
36. Prof. Arifin Sitio (Universitas Mercu Buana)
37. Prof. Aris Tri Wahyudi (Institut Pertanian Bogor)
38. Prof. Armansyah Tambunan  (Institut Pertanian Bogor)
39. Prof. Asadul Islam (Universitas Hasanuddin)
40. Prof. Asep Saefuddin (Institut Pertanian Bogor)
41. Prof. Asep Sapei (Institut Pertanian Bogor)
42. Prof. Asmuddin Natsir (Universitas Hasanuddin)
43. Prof. Atmonobudi Soebagjo (Universitas Kristen Indonesia)
44. Prof. Azyumardi Azra (Universitas Islam Negeri Jakarta)
45. Prof. Baharuddin Hamzah (Universitas Hasanuddin)
46. Prof. Bambang Hero Saharjo (Institut Pertanian Bogor)
47. Prof. Bambang Juanda (Institut Pertanian Bogor)
48. Prof. Bambang Kaswanti (Universitas Atma Jaya, Jakarta)
49. Prof. Bambang Pontjo Priosoeryanto (Institut Pertanian Bogor)
50. Prof. Bambang Purwantara (Institut Pertanian Bogor)
51. Prof. Bambang Riyanto (Universitas Gadjah Mada)
52. Prof. Bambang Rusdiarso (Universitas Gadjah Mada)
53. Prof. Bambang Shergi Laksmono (Universitas Indonesia)
54. Prof. Bernadette N. Setiadi (Unika Atmajaya)
55. Prof. Bernadette Waluyo (Universitas Parahiyangan)
56. Prof. Betty Sri Laksmi Jenie (Institut Pertanian Bogor)
57. Prof. Bibiana W. Lay (Unika Atma Jaya Jakarta)                      
58. Prof. Billy Sarwono (Universitas Indonesia)
59. Prof. Bingaran Anton Simanjuntak (Universitas Negeri Medan)
60. Prof. Bonar MT Sinaga (Institut Pertanian Bogor)                       
61. Prof. Budi Eko Soetjipto (Universitas Negeri Malang)
62. Prof. Budi Indra Setiawan (Institut Pertanian Bogor)
63. Prof. Budi Mulyanto (Institut Pertanian Bogor)
64. Prof. Budi Nurani (Universitas Padjadjaran)
65. Prof. Budi Prasetyo (Universitas Airlangga)
66. Prof. Budi Prawvoto (Universitas Wisnuwardhana Malang)
67. Prof. Budimawan, DEA (Universitas Hasanuddin)
68. Prof. C. Hanny Wijaya (Institut Pertanian Bogor)
69. Prof. Cahyono Agus (Universitas Gadjah Mada)
70. Prof. Cecep Darmawan, M.H. (Universitas Pendidikan Indonesia)
71. Prof. Cholichul Hadi MSI (Universitas Airlangga)
72. Prof. Clara M. Kusharto, MSc (Institut Pertanian Bogor)
73. Prof. D. S. Priyarsono (Institut Pertanian Bogor)
74. Prof. Dadang (Institut Pertanian Bogor)
75. Prof. Dadang Sukandar (Institut Pertanian Bogor)
76. Prof. Dadang Syarief (Universitas Padjadjaran)
77. Prof. Damayanti Buchori (Institut Pertanian Bogor)
78. Prof. Darwati Susilastuti (Universitas Borobudur)
79. Prof. Deddy Muchtadi (Institut Pertanian Bogor)
80. Prof. Dede Mariana (Universitas Padjadjaran)
81. Prof. Denny Indrayana (Universitas Gadjah Mada)
82. Prof. Dewi Apri Astuti (Institut Pertanian Bogor)
83. Prof. Diah Ratnadewi (Institut Pertanian Bogor)
84. Prof. Diana Harding (Universitas Padjadjaran)
85. Prof. Dida A Gurnida (Universitas Padjadjaran)
86. Prof. Didik Suharjito (Institut Pertanian Bogor)
87. Prof. Didin Hafiduddin (Institut Pertanian Bogor)
88. Prof. Didy Sopandie (Institut Pertanian Bogor)
89. Prof. Dirayah Rauf Husain (Universitas Hasanuddin)
90. Prof. Djamar TF.Lumban Batu (Institut Pertanian Bogor)
91. Prof. Djisman Simanjuntak (Universitas Prasetiya Mulya)
92. Prof. Djumali Mangunwidjaja (Institut Pertanian Bogor)
93. Prof. Duddy S Nataprawira (Universitas Padjadjaran)
94. Prof. Dulmi’ad Iriana (Universitas Padjadjaran)
95. Prof. Dwi Kartini (Universitas Padjadjaran)                                        
96. Prof. Dwia Aries Tina (Universitas Hasanuddin)
97. Prof. Dyah Iswantini (Institut Pertanian Bogor)
98. Prof. E.K.S.Harini Muntasib (Institut Pertanian Bogor)
99. Prof. Edhi Martono (Universitas Gadjah Mada)
100. Prof. Efa Laela Fakhriah (Universitas Padjadjaran)
101. Prof. Ellin Harlia (Universitas Padjadjaran)
102. Prof. Eman Suparman (Universitas Padjadjaran)
103. Prof. Endang Komara (STIKP Pasundan)
104. Prof. Endang Suhendang (Institut Pertanian Bogor)
105. Prof. Endang Sutedja  (Universitas Padjadjaran)                      
106. Prof. Endriatmo Soetarto (Institut Pertanian Bogor)
107. Prof. Engkus Kuswarno (Universitas Padjadjaran)
108. Prof. Erika B. Laconi (Institut Pertanian Bogor)
109. Prof. Ernie Sule (Universitas Padjadjaran)
110. Prof. Erny Poedjirahajoe (Universitas Gadjah Mada)
111. Prof. Etty R. Agoes (Universitas Padjadjaran)
112. Prof. Evie Hulukati (Universitas Negeri Gorontalo)          
113. Prof. Evy Damayanthi (Institut Pertanian Bogor)
114. Prof. Faisal Anwar (Institut Pertanian Bogor)
115. Prof. Farida Patittingi (Universitas Hasanuddin)
116. Prof. Fauzi Febrianto (Institut Pertanian Bogor)
117. Prof. Fedik Abdul Rantam (Universitas Airlangga)
118. Prof. Felix Oentoeng Sobagjo (Universitas Indonesia)
119. Prof. Firman F. Wirakusumah (Universitas Padjadjaran)
120. Prof. Fransisca Rungkat Zakaria (Institut Pertanian Bogor)
121. Prof. Fuad Abdul Hamied (Universitas Pendidikan Indonesia)
122. Prof. Gagaring Pagalung (Universitas Hasanuddin)
123. Prof. Ganjar Kurnia (Universitas Padjadjaran)
124. Prof. Gimbal Doloksaribu (Universitas Mercu Buana)
125. Prof. Giyatmi (Universitas Sahid Jakarta)
126. Prof. Gunawan Sumodiningrat (Universitas Gadjah Mada)
127. Prof. H. Naswan Suharsono (Undiksha Bali)
128. Prof. H. Sarwidi (Universitas Islam Indonesia Yogyakarta)
129. Prof. H.Ansar Suyuti (Universitas Hasanuddin)
130. Prof. Hadi Alikodra (Institut Pertanian Bogor)
131. Prof. Hadi Pratomo (Universitas Indonesia)
132. Prof. Hadi Susilo Arifin (Institut Pertanian Bogor)
133. Prof. Hafied Cangara (Universitas Hasanuddin)
134. Prof. Hamzah Halim (Universitas Hasanuddin)
135. Prof. Hanes Riady
136. Prof. Hardinsyah (Institut Pertanian Bogor)
137. Prof. Hariadi Kartodihardjo (Institut Pertanian Bogor)
138. Prof. Harianto Hardjasaputra
139. Prof. Hartati Ch (Universitas Padjadjaran)
140. Prof. Haryono Umar 
141. Prof. Hendra Gunawan (Institut Teknologi Bandung)
142. Prof. Herry Purnomo (Institut Pertanian Bogor)
143. Prof. Herry Sonjaya (Universitas Hasanuddin)
144. Prof. Hersanti (Universitas Padjadjaran)
145. Prof. Hibnu Nugroho (Universitas Jenderal Soedirman)
146. Prof. Hidayat Syarief (Institut Pertanian Bogor)
147. Prof. Husein Umar
148. Prof. I B. Jelantik Swasta ( Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali)
149. Prof. I Ketut Suda (Universitas Hindu Indonesia)
150. Prof. I Made Sutajaya (Undiksha Singaraja Bali)
151. Prof. I Nengah Suparta (Universitas Pendidikan Ganesha)
152. Prof. I Nengah Surati Jaya (Institut Pertanian Bogor)
153. Prof. I Putu Gelgel (Universitas Hindu Indonesia Denpasar)
154. Prof. I Wayan Darmawan (Institut Pertanian Bogor)
155. Prof. I Wayan Rasna, M.Pd (Universitas Pendidikan Ganesha Bali)
156. Prof. I Wayan Redhana (Universitas Pendidikan Ganesha)
157. Prof. I Wayan Santyasa (Universitas Pendidikan Ganesha)
158. Prof. I Wayan Subagia (Universitas Pendidikan Ganesha).
159. Prof. I Wayan Teguh Wibawan (Institut Pertanian Bogor)
160. Prof. Ietje Wientarsih (Institut Pertanian Bogor)
161. Prof. Iis Arifiantini (Institut Pertanian Bogor)
162. Prof. Ildrem Syafri (Universitas Padjadjaran)⁠⁠⁠⁠
163. Prof. Ilya Revianti S. Sunarwinadi (Universitas Indonesia)
164. Prof. Imam Wahyudi (Institut Pertanian Bogor)
165. Prof. Iman Rahayu HS (Institut Pertanian Bogor)
166. Prof. Imas Siti Setiasih (Universitas Padjadjaran)
167. Prof. Irawan Yusuf (Universitas Hasanuddin)
168. Prof. Irwanto (Unika Atmajaya Jakarta)
169. Prof. Iskhaq Iskandar (Universitas Sriwijaya)
170. Prof. Isril Berd (Universitas Andalas)
171. Prof. Iswandi Anas (Institut Pertanian Bogor)
172. Prof. Iwin Sumarman (Universitas Padjadjaran)
173. Prof. J. Sudarminta ( STF Driyarkara)
174. Prof. Joeharnani Tresnati (Universitas Hasanuddin)
175. Prof. Juang R. Matangaran, (Institut Pertanian Bogor)
176. Prof. Junun Sartohadi (Universitas Gadjah Mada)
177. Prof. Kahar Mustari (Universitas Hasanuddin)
178. Prof. Kartawan (Universitas Siliwangi)                      
179. Prof. Ketut Suma, M.S (Universitas Pendidikan Ganesha Bali)
180. Prof. Khaswar Syamsu (Institut Pertanian Bogor)
181. Prof. Kholil (Universitas Sahid Jakarta)
182. Prof. Koentjoro (Universitas Gadjah Mada)
183. Prof. Komang G. Wiryawan (Institut Pertanian Bogor)
184. Prof. Komariah Emong (Universitas Padjadjaran)
185. Prof. Kresnohadi Ariyoto (Universitas Indonesia)
186. Prof. Kusnandi Rusmil (Universitas Padjadjaran)
187. Prof. Lanny W. Pandjaitan
188. Prof. Laura Sudarnoto (Unika Atma Jaya)
189. Prof. Lijan Poltak Sinambela (Universitas Nasional Jakarta)
190. Prof. Lilik Budi Prasetyo (Institut Pertanian Bogor)
191. Prof. Lisdar I. Sudirman (Institut Pertanian Bogor)
192. Prof. Loekas Soesanto (Universitas Jenderal Soedirman)
193. Prof. Luki Abdullah (Institut Pertanian Bogor)
194. Prof. M Ade M Kramadibrata (Universitas Padjadjaran)
195. Prof. M. Agus Setiadi (Institut Pertanian Bogor)
196. Prof. M. Hendra Chandha (Universitas Hasanuddin)
197. Prof. M. Saleh S. Ali, PhD (Universitas Hasanuddin)
198. Prof. M. Syukur (Institut Pertanian Bogor)
199. Prof. M.H.Bintoro (Institut Pertanian Bogor)
200. Prof. M.Parulian Hutagaol (Institut Pertanian Bogor)
201. Prof. Made Astawan (Institut Pertanian Bogor)
202. Prof. Maggy  T  Suhartono (Institut Pertanian Bogor)
203. Prof. Mahfud Arifin (Universitas Padjadjaran)
204. Prof. Maman Paturochman (Universitas Padjadjaran)
205. Prof. Maria A. Kartawidjaya  (Universitas Atma Jaya Jakarta)
206. Prof. Maria Sumarjono (Universitas Gadjah Mada)
207. Prof. Marimin (Institut Pertanian Bogor)
208. Prof. Marthen Arie (Universitas Hasanuddin)
209. Prof. Ma'Ruf Hafidz (Universitas Muslim Indonesia)
210. Prof. Marzuki, DEA (Universitas Hasanuddin)
211. Prof. Mayling Oey (Universitas Indonesia)
212. Prof. Meily (Universitas Indonesia))
213. Prof. Meity Suradji Sinaga (Institut Pertanian Bogor)
214. Prof. Melani Budianta (Universitas Indonesia)
215. Prof. Metusalach (Universitas Hasanuddin)
216. Prof. Mieke Komar (Universitas Padjadjaran)
217. Prof. Mirnawati B Sudarwanto (Institut Pertanian Bogor)
218. Prof. Mochtar Mas'oed (Universitas Gadjah Mada)
219. Prof. Moh. Ivan Azis (Universitas Hasanuddin)
220. Prof. Moh. Mahfud MD (Universitas Islam Indonesia)
221. Prof. Mohamad Amin (Universitas Negeri Malang)
222. Prof. Mudjahirin Thohir (Universitas Diponegoro)
223. Prof. Mudjahirin Thohir (Universitas Diponegoro)
224. Prof. Mudjio Rahardjo (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
225. Prof. Mudrajad Kuncoro (Universitas Gadjah Mada)
226. Prof. Muh Nasrum Massi (Universitas Hasanuddin)
227. Prof. Muh. Akmal Ibrahim (Universitas Hasanuddin)
228. Prof. Muh. Yusram Massijaya (Institut Pertanian Bogor)
229. Prof. Muhajir Darwin (Universitas Gadjah Mada)
230. Prof. Muhammad Zainuri (Universitas Trunojoyo Madura)
231. Prof. Muhammad Zilal Hamzah (STIEBI, Jakarta).
232. Prof. Muladno (Institut Pertanian Bogor)
233. Prof. Mulia Purba (Institut Pertanian Bogor)
234. Prof. Mulyono S. Baskoro (Institut Pertanian Bogor)
235. Prof. Musrizal Muin (Universitas Hasanuddin)
236. Prof. Nana Sulaksana (Universitas Padjadjaran)
237. Prof. Nastiti Siswi Indrasti (Institut Pertanian Bogor)
238. Prof. Nathan Hindarto (Universitas Negeri Semarang)
239. Prof. Ngadino Surip (Universitas Mercu Buana Jakarta)
240. Prof. Ni  Putu Ristiati (Universitas Pendidikan Ganesha)
241. Prof. Ni Nyoman Padmadewi
242. Prof. Ningrum Natasya Sirait (Universitas Sumatera Utara)
243. Prof. Nuni Gofar (Universitas Sriwijaya)
244. Prof. Nunuk Hariani S (Universitas Hasanuddin)
245. Prof. Nurdien Harry Kistanto (Universitas Diponegoro)
246. Prof. Nuri Andarwulan (Institut Pertanian Bogor)
247. Prof. Nurjanah (Institut Pertanian Bogor)
248. Prof. Nurpilihan Bafdal (Universitas Padjadjaran)
249. Prof. Nurpudji (Universitas Hasanuddin)
250. Prof. Nyoman Dantes (Univ. Pendidikan Ganesha )
251. Prof. Obsatar Sinaga (Universitas Padjadjaran)
252. Prof. Okky Setyawati Dharmaputra (Institut Pertanian Bogor)
253. Prof. Opan S. Suwartapradja (Universitas Padjadjaran)
254. Prof. Panca Dewi (Institut Pertanian Bogor)
255. Prof. Paulus Israwan Setyoko (Universitas Jenderal Soedirman)
256. Prof. Pawennari Hijjang (Universitas Hasanuddin)
257. Prof. PM. Budi Haryono (Universitas Kristen Krida Wacana)
258. Prof. PM. Laksono (Universitas Gadjah Mada)
259. Prof. Posman Sibuea (Unika Santo Thomas Medan)
260. Prof. Pratiwi Soedharmono (Universitas Indonesia)
261. Prof. Prijono Tjiptoherijanto (Universitas Indonesia)
262. Prof. Purnama Darmadji (Universitas Gadjah Mada)
263. Prof. Putu Kerti Nitiasih
264. Prof. Rahayu Hidayat Universitas Indonesia)
265. Prof. Rahayu Prabowo (Universitas Diponegoro)
266. Prof. Ratih Dewanti (Institut Pertanian Bogor)
267. Prof. Ratna Ariawati (Universitas Padjadjaran)
268. Prof. Retno Damajanti (Institut Pertanian Bogor)
269. Prof. Retno Murwani (Universitas Diponegoro)
270. Prof. Rhenald Kasali (Universitas Indonesia)
271. Prof. Rianto Adi (Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta)                    
272. Prof. Ridad Agoes (Universitas Padjadjaran)
273. Prof. Rina Oktaviani (Institut Pertanian Bogor)
274. Prof. Rindit Pambayun (Universitas Sriwijaya)                       
275. Prof. Riris Sarumpaet (Universitas Indonesia)
276. Prof. Ristianto Utomo (Universitas Gadjah Mada)
277. Prof. Rizal Damanik (Institut Pertanian Bogor)
278. Prof. Rizal Syarief (Institut Pertanian Bogor)
279. Prof. Roni Kastaman (Universitas Padjadjaran)
280. Prof. Roostita (Universitas Padjadjaran)
281. Prof. Samugyo Ibnu Redjo (Universitas Padjadjaran)
282. Prof. Sangkala (Universitas Hasanuddin)
283. Prof. Saparinah Sadli (Universitas Indonesia)
284. Prof. Saryono, M.Si. (Univesitas Riau)     
285. Prof. Satriyas llyas (Institut Pertanian Bogor)
286. Prof. Sholahuddin (Universitas Sebelas Maret)
287. Prof. Sigit Riyanto  (Universitas Gadjah Mada)
288. Prof. Sihol Situngkir (Universitas Jambi)
289. Prof. Sismanto (Universitas Gadjah Mada)
290. Prof. Slamet Budijanto (Institut Pertanian Bogor)
291. Prof. Soenyono  (Universitas Wisnuwardhana Malang)
292. Prof. Sofie Rifayani Rifai (Universitas Padjadjaran)               
293. Prof. Sri Hartoyo (Institut Pertanian Bogor)
294. Prof. Sri Mulyani (Universitas Negeri Semarang)
295. Prof. Sri Wilarso Budi (Institut Pertanian Bogor)
296. Prof. Subagyo Pramumijoyo (Universitas Gadjah Mada)
297. Prof. Sudradjat Supian (Universitas Padjadjaran)
298. Prof. Sugeng Utaya (Universitas Negeri Malang)
299. Prof. Suharsono (Institut Pertanian Bogor)
300. Prof. Sujianto (Universitas Riau)
301. Prof. Suko Wiyono (Universitas Negeri Malang)
302. Prof. Sulistiono (Institut Pertanian Bogor)
303. Prof. Sulistyowati Irianto (Universitas Indonesia)
304. Prof. Sulmin Gumiri (Universitas Palangka Raya)
305. Prof. Sumadi (Universitas Negeri Malang)
306. Prof. Suminar Akhmadi (Institut Pertanian Bogor)
307. Prof. Sunarno (Universitas Gadjah Mada)
308. Prof. Sunjoto (Universitas Gadjah Mada)
309. Prof. Supriyatna Sutardjo (Universitas Padjadjaran)
310. Prof. Sutinah Made (Universitas Hasanuddin)
311. Prof. Sutrisno Mardjan (Institut Pertanian Bogor)
312. Prof. Suyono (Universitas Negeri Malang)
313. Prof. Syamsu Alam (Universitas Hasanuddin)
314. Prof. Syamsul Bachri (Universitas Hasanuddin)
315. Prof. Tadjudin Nur Effendi (Universitas Gadjah Mada)
316. Prof. Tarkus Suganda (Universitas Padjadjaran)
317. Prof. Tati Nurmala (Universitas Padjadjaran)
318. Prof. Tengku Silvana Sinar
319. Prof. Tineke Mandang ((Institut Pertanian Bogor)
320. Prof. Todung Mulya Lubis (University of Melbourne) 
321. Prof. Toto Subroto (Universitas Padjadjaran)
322. Prof. Tri Budi Rahardjo (Universitas Respati Indonesia)
323. Prof. Tri Ratna Murti (Universitas Persada Indonesia YAI)
324. Prof. Tridoyo Kusumastanto (Institut Pertanian Bogor)
325. Prof. Tualar Simarmata (Universitas Padjadjaran)
326. Prof. Tun Tedja Irawadi (Institut Pertanian Bogor)
327. Prof. Tuti Widjastuti (Universitas Padjadjaran)
328. Prof. Tutik Wresdiyati (Institut Pertanian Bogor)
329. Prof. Tuty L. Yusuf (Institut Pertanian Bogor)
330. Prof. Udiansyah (Universitas Lambung Mangkurat)
331. Prof. Ujang Sumarwan (Institut Pertanian Bogor)
332. Prof. Umar Santoso (Universitas Gadjah Mada)
333. Prof. Umi Cahyaningsih (Institut Pertanian Bogor)
334. Prof. Upik Kesumawati (Institut Pertanian Bogor)
335. Prof. W. Dj. Pomalati, MPd (Universitas Negeri Gorontalo)
336. Prof. Wahyudi Kumorotomo (Universitas Gadjah Mada)
337. Prof. Waras Kamdi (Universitas Negeri Malang)
338. Prof. Warid Ali Qosim (Universitas Padjadjaran)
339. Prof. Wasino (Universitas Negeri Semarang)
340. Prof. Wasmen Manalu (Institut Pertanian Bogor)
341. Prof. Wasrin Syafii (Institut Pertanian Bogor)
342. Prof. Widjijono (Universitas Gadjah Mada)
343. Prof. Yanto Santosa (Institut Pertanian Bogor)
344. Prof. Yayat Dahiyat  (Universitas Padjadjaran)
345. Prof. Yeremias T. Keban (Universitas Gadjah Mada)
346. Prof. YH. Udju D. Rusdi (Universitas Padjadjaran)
347. Prof. Yonny Koesmaryono (Institut Pertanian Bogor)
348. Prof. Yuli Retnani (Institut Pertanian Bogor)
349. Prof. Yuliandri (Universitas Andalas)
350. Prof. Yulianto Kadji (Universitas Negeri Gorontalo)
351. Prof. Yunita Winarto (Universitas Indonesia)
352. Prof. Yushinta Fujaya (Universitas Hasanuddin)
353. Prof. Yusuf Sudo Hadi (Institut Pertanian Bogor)
354. Prof. Yuyun Yuwariah (Universitas Padjadjaran)
355. Prof. Zainul Daulay (Universitas Andalas)
356. Prof. Zulfadil (Universitas Riau)
357. Prof. Zulkifli Nasution (Universitas Sumatera Utara)357 Guru Besar dukung KPK: Tolak Hak Angket KPK

PERNYATAAN GURU BESAR ANTIKORUPSI
KAMI ANTIKORUPSI,
KAMI DUKUNG KPK

Kami – Guru Besar dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia – menyatakan keprihatianan terhadap segala upaya yang dapat melemahkan atau mengganggu eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kami menghimbau kepada Presiden Joko Widodo, Pimpinan Partai Politik dan Pimpinan DPR/ MPR RI untuk tetap menjadi bagian penting bagi upaya pemberantasan korupsi dan mendukung langkah KPK memerangi korupsi. Presiden Joko Widodo dan jajaran Kepolisian sebaiknya dapat mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan – penyidik KPK dengan segera. Pimpinan Partai Politik dan DPR/MPR sebaiknya membatalkan penggunaan hak angket untuk KPK karena baik prosedur, subjek dan objeknya tidak tepat secara hukum.

Kami ingin menegaskan kembali bahwa Kami bersama dan tetap akan mendukung KPK karena Lembaga Antikorupsi ini adalah harapan bagi upaya mewujudkan Indonesia yang bersih dan bebas dari korupsi.
Indonesia, 19 Juni 2017
Guru Besar Antikorupsi
1. Prof. Jusuf S. Effendi (Universitas Padjadjaran)
2. Prof Hera Sudoyo  (Eijkman  Institute)
3. Prof. A. Hamid Sarong (UIN Ar Raniry Aceh)
4. Prof. A. Sudiarja (STF Driyarkara) 
5. Prof. AAIN. Marhaeni, M. A (Univ. Pendidikan Ganesha)
6. Prof. Abdullah Sulaiman (Universitas Islam Negeri Jakarta)
7. Prof. Abraham Lomi. M. Eng (Institut Teknologi Nasional Malang)
8. Prof. Adler Manurung (Universitas Bina Nusantara)
9. Prof. Agus Pramusinto (Universitas Gadjah Mada)
10. Prof. Agus Setiyono (Institut Pertanian Bogor)
11. Prof. Ahmad Rofiudin (Universitas Negeri Malang)
12. Prof. Akhmad Fauzi (UPN Veteran Jawa Timur)                      
13. Prof. Akmal Taher (Universitas Indonesia)
14. Prof. Alfitri (Universitas Sriwijaya)
15. Prof. Ali Agus (Universitas Gadjah Mada)
16. Prof. Almasdi Syahza (Universitas Riau)
17. Prof. Alois A. Nugroho (Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta)
18. Prof. Aloysius Uwiyono (Universitas Indonesia)
19. Prof. Ambariyanto (Universitas Diponegoro)
20. Prof. Ambo Tuwo (Universitas Hasanuddin)
21. Prof. Aminuddin Salle (Universitas Hasanuddin)
22. Prof. Amir Kamal (Universitas Hasanuddin)
23. Prof. Amiruddin (Universitas Hasanuddin)
24. Prof. Amran Achmad (Universitas Hasanuddin)
25. Prof. Anak Agung Gede Agung (Undiksha di Singaraja Bali)
26. Prof. Andi Iqbal Burhanuddin (Universitas Hasanuddin)
27. Prof. Andi Pangeran (Universitas Hasanuddin)
28. Prof. Andi Zulkifli (Universitas Hasanuddin)
29. Prof. Ani M Hasan (Universitas Negeri Gorontalo)
30. Prof. Anja Meryandini (Institut Pertanian Bogor)
31. Prof. Anna Erliyana (Universitas Indonesia)
32. Prof. Antonius Suwanto (Institut Pertanian Bogor)
33. Prof. Ari Purbayanto (Institut Pertanian Bogor)
34. Prof. Arie Sukanti Hutagalung (Universitas Indonesia)
35. Prof. Arief Sabdo Yuwono (Institut Pertanian Bogor)
36. Prof. Arifin Sitio (Universitas Mercu Buana)
37. Prof. Aris Tri Wahyudi (Institut Pertanian Bogor)
38. Prof. Armansyah Tambunan  (Institut Pertanian Bogor)
39. Prof. Asadul Islam (Universitas Hasanuddin)
40. Prof. Asep Saefuddin (Institut Pertanian Bogor)
41. Prof. Asep Sapei (Institut Pertanian Bogor)
42. Prof. Asmuddin Natsir (Universitas Hasanuddin)
43. Prof. Atmonobudi Soebagjo (Universitas Kristen Indonesia)
44. Prof. Azyumardi Azra (Universitas Islam Negeri Jakarta)
45. Prof. Baharuddin Hamzah (Universitas Hasanuddin)
46. Prof. Bambang Hero Saharjo (Institut Pertanian Bogor)
47. Prof. Bambang Juanda (Institut Pertanian Bogor)
48. Prof. Bambang Kaswanti (Universitas Atma Jaya, Jakarta)
49. Prof. Bambang Pontjo Priosoeryanto (Institut Pertanian Bogor)
50. Prof. Bambang Purwantara (Institut Pertanian Bogor)
51. Prof. Bambang Riyanto (Universitas Gadjah Mada)
52. Prof. Bambang Rusdiarso (Universitas Gadjah Mada)
53. Prof. Bambang Shergi Laksmono (Universitas Indonesia)
54. Prof. Bernadette N. Setiadi (Unika Atmajaya)
55. Prof. Bernadette Waluyo (Universitas Parahiyangan)
56. Prof. Betty Sri Laksmi Jenie (Institut Pertanian Bogor)
57. Prof. Bibiana W. Lay (Unika Atma Jaya Jakarta)                      
58. Prof. Billy Sarwono (Universitas Indonesia)
59. Prof. Bingaran Anton Simanjuntak (Universitas Negeri Medan)
60. Prof. Bonar MT Sinaga (Institut Pertanian Bogor)                       
61. Prof. Budi Eko Soetjipto (Universitas Negeri Malang)
62. Prof. Budi Indra Setiawan (Institut Pertanian Bogor)
63. Prof. Budi Mulyanto (Institut Pertanian Bogor)
64. Prof. Budi Nurani (Universitas Padjadjaran)
65. Prof. Budi Prasetyo (Universitas Airlangga)
66. Prof. Budi Prawvoto (Universitas Wisnuwardhana Malang)
67. Prof. Budimawan, DEA (Universitas Hasanuddin)
68. Prof. C. Hanny Wijaya (Institut Pertanian Bogor)
69. Prof. Cahyono Agus (Universitas Gadjah Mada)
70. Prof. Cecep Darmawan, M.H. (Universitas Pendidikan Indonesia)
71. Prof. Cholichul Hadi MSI (Universitas Airlangga)
72. Prof. Clara M. Kusharto, MSc (Institut Pertanian Bogor)
73. Prof. D. S. Priyarsono (Institut Pertanian Bogor)
74. Prof. Dadang (Institut Pertanian Bogor)
75. Prof. Dadang Sukandar (Institut Pertanian Bogor)
76. Prof. Dadang Syarief (Universitas Padjadjaran)
77. Prof. Damayanti Buchori (Institut Pertanian Bogor)
78. Prof. Darwati Susilastuti (Universitas Borobudur)
79. Prof. Deddy Muchtadi (Institut Pertanian Bogor)
80. Prof. Dede Mariana (Universitas Padjadjaran)
81. Prof. Denny Indrayana (Universitas Gadjah Mada)
82. Prof. Dewi Apri Astuti (Institut Pertanian Bogor)
83. Prof. Diah Ratnadewi (Institut Pertanian Bogor)
84. Prof. Diana Harding (Universitas Padjadjaran)
85. Prof. Dida A Gurnida (Universitas Padjadjaran)
86. Prof. Didik Suharjito (Institut Pertanian Bogor)
87. Prof. Didin Hafiduddin (Institut Pertanian Bogor)
88. Prof. Didy Sopandie (Institut Pertanian Bogor)
89. Prof. Dirayah Rauf Husain (Universitas Hasanuddin)
90. Prof. Djamar TF.Lumban Batu (Institut Pertanian Bogor)
91. Prof. Djisman Simanjuntak (Universitas Prasetiya Mulya)
92. Prof. Djumali Mangunwidjaja (Institut Pertanian Bogor)
93. Prof. Duddy S Nataprawira (Universitas Padjadjaran)
94. Prof. Dulmi’ad Iriana (Universitas Padjadjaran)
95. Prof. Dwi Kartini (Universitas Padjadjaran)                                        
96. Prof. Dwia Aries Tina (Universitas Hasanuddin)
97. Prof. Dyah Iswantini (Institut Pertanian Bogor)
98. Prof. E.K.S.Harini Muntasib (Institut Pertanian Bogor)
99. Prof. Edhi Martono (Universitas Gadjah Mada)
100. Prof. Efa Laela Fakhriah (Universitas Padjadjaran)
101. Prof. Ellin Harlia (Universitas Padjadjaran)
102. Prof. Eman Suparman (Universitas Padjadjaran)
103. Prof. Endang Komara (STIKP Pasundan)
104. Prof. Endang Suhendang (Institut Pertanian Bogor)
105. Prof. Endang Sutedja  (Universitas Padjadjaran)                      
106. Prof. Endriatmo Soetarto (Institut Pertanian Bogor)
107. Prof. Engkus Kuswarno (Universitas Padjadjaran)
108. Prof. Erika B. Laconi (Institut Pertanian Bogor)
109. Prof. Ernie Sule (Universitas Padjadjaran)
110. Prof. Erny Poedjirahajoe (Universitas Gadjah Mada)
111. Prof. Etty R. Agoes (Universitas Padjadjaran)
112. Prof. Evie Hulukati (Universitas Negeri Gorontalo)          
113. Prof. Evy Damayanthi (Institut Pertanian Bogor)
114. Prof. Faisal Anwar (Institut Pertanian Bogor)
115. Prof. Farida Patittingi (Universitas Hasanuddin)
116. Prof. Fauzi Febrianto (Institut Pertanian Bogor)
117. Prof. Fedik Abdul Rantam (Universitas Airlangga)
118. Prof. Felix Oentoeng Sobagjo (Universitas Indonesia)
119. Prof. Firman F. Wirakusumah (Universitas Padjadjaran)
120. Prof. Fransisca Rungkat Zakaria (Institut Pertanian Bogor)
121. Prof. Fuad Abdul Hamied (Universitas Pendidikan Indonesia)
122. Prof. Gagaring Pagalung (Universitas Hasanuddin)
123. Prof. Ganjar Kurnia (Universitas Padjadjaran)
124. Prof. Gimbal Doloksaribu (Universitas Mercu Buana)
125. Prof. Giyatmi (Universitas Sahid Jakarta)
126. Prof. Gunawan Sumodiningrat (Universitas Gadjah Mada)
127. Prof. H. Naswan Suharsono (Undiksha Bali)
128. Prof. H. Sarwidi (Universitas Islam Indonesia Yogyakarta)
129. Prof. H.Ansar Suyuti (Universitas Hasanuddin)
130. Prof. Hadi Alikodra (Institut Pertanian Bogor)
131. Prof. Hadi Pratomo (Universitas Indonesia)
132. Prof. Hadi Susilo Arifin (Institut Pertanian Bogor)
133. Prof. Hafied Cangara (Universitas Hasanuddin)
134. Prof. Hamzah Halim (Universitas Hasanuddin)
135. Prof. Hanes Riady
136. Prof. Hardinsyah (Institut Pertanian Bogor)
137. Prof. Hariadi Kartodihardjo (Institut Pertanian Bogor)
138. Prof. Harianto Hardjasaputra
139. Prof. Hartati Ch (Universitas Padjadjaran)
140. Prof. Haryono Umar 
141. Prof. Hendra Gunawan (Institut Teknologi Bandung)
142. Prof. Herry Purnomo (Institut Pertanian Bogor)
143. Prof. Herry Sonjaya (Universitas Hasanuddin)
144. Prof. Hersanti (Universitas Padjadjaran)
145. Prof. Hibnu Nugroho (Universitas Jenderal Soedirman)
146. Prof. Hidayat Syarief (Institut Pertanian Bogor)
147. Prof. Husein Umar
148. Prof. I B. Jelantik Swasta ( Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali)
149. Prof. I Ketut Suda (Universitas Hindu Indonesia)
150. Prof. I Made Sutajaya (Undiksha Singaraja Bali)
151. Prof. I Nengah Suparta (Universitas Pendidikan Ganesha)
152. Prof. I Nengah Surati Jaya (Institut Pertanian Bogor)
153. Prof. I Putu Gelgel (Universitas Hindu Indonesia Denpasar)
154. Prof. I Wayan Darmawan (Institut Pertanian Bogor)
155. Prof. I Wayan Rasna, M.Pd (Universitas Pendidikan Ganesha Bali)
156. Prof. I Wayan Redhana (Universitas Pendidikan Ganesha)
157. Prof. I Wayan Santyasa (Universitas Pendidikan Ganesha)
158. Prof. I Wayan Subagia (Universitas Pendidikan Ganesha).
159. Prof. I Wayan Teguh Wibawan (Institut Pertanian Bogor)
160. Prof. Ietje Wientarsih (Institut Pertanian Bogor)
161. Prof. Iis Arifiantini (Institut Pertanian Bogor)
162. Prof. Ildrem Syafri (Universitas Padjadjaran)⁠⁠⁠⁠
163. Prof. Ilya Revianti S. Sunarwinadi (Universitas Indonesia)
164. Prof. Imam Wahyudi (Institut Pertanian Bogor)
165. Prof. Iman Rahayu HS (Institut Pertanian Bogor)
166. Prof. Imas Siti Setiasih (Universitas Padjadjaran)
167. Prof. Irawan Yusuf (Universitas Hasanuddin)
168. Prof. Irwanto (Unika Atmajaya Jakarta)
169. Prof. Iskhaq Iskandar (Universitas Sriwijaya)
170. Prof. Isril Berd (Universitas Andalas)
171. Prof. Iswandi Anas (Institut Pertanian Bogor)
172. Prof. Iwin Sumarman (Universitas Padjadjaran)
173. Prof. J. Sudarminta ( STF Driyarkara)
174. Prof. Joeharnani Tresnati (Universitas Hasanuddin)
175. Prof. Juang R. Matangaran, (Institut Pertanian Bogor)
176. Prof. Junun Sartohadi (Universitas Gadjah Mada)
177. Prof. Kahar Mustari (Universitas Hasanuddin)
178. Prof. Kartawan (Universitas Siliwangi)                      
179. Prof. Ketut Suma, M.S (Universitas Pendidikan Ganesha Bali)
180. Prof. Khaswar Syamsu (Institut Pertanian Bogor)
181. Prof. Kholil (Universitas Sahid Jakarta)
182. Prof. Koentjoro (Universitas Gadjah Mada)
183. Prof. Komang G. Wiryawan (Institut Pertanian Bogor)
184. Prof. Komariah Emong (Universitas Padjadjaran)
185. Prof. Kresnohadi Ariyoto (Universitas Indonesia)
186. Prof. Kusnandi Rusmil (Universitas Padjadjaran)
187. Prof. Lanny W. Pandjaitan
188. Prof. Laura Sudarnoto (Unika Atma Jaya)
189. Prof. Lijan Poltak Sinambela (Universitas Nasional Jakarta)
190. Prof. Lilik Budi Prasetyo (Institut Pertanian Bogor)
191. Prof. Lisdar I. Sudirman (Institut Pertanian Bogor)
192. Prof. Loekas Soesanto (Universitas Jenderal Soedirman)
193. Prof. Luki Abdullah (Institut Pertanian Bogor)
194. Prof. M Ade M Kramadibrata (Universitas Padjadjaran)
195. Prof. M. Agus Setiadi (Institut Pertanian Bogor)
196. Prof. M. Hendra Chandha (Universitas Hasanuddin)
197. Prof. M. Saleh S. Ali, PhD (Universitas Hasanuddin)
198. Prof. M. Syukur (Institut Pertanian Bogor)
199. Prof. M.H.Bintoro (Institut Pertanian Bogor)
200. Prof. M.Parulian Hutagaol (Institut Pertanian Bogor)
201. Prof. Made Astawan (Institut Pertanian Bogor)
202. Prof. Maggy  T  Suhartono (Institut Pertanian Bogor)
203. Prof. Mahfud Arifin (Universitas Padjadjaran)
204. Prof. Maman Paturochman (Universitas Padjadjaran)
205. Prof. Maria A. Kartawidjaya  (Universitas Atma Jaya Jakarta)
206. Prof. Maria Sumarjono (Universitas Gadjah Mada)
207. Prof. Marimin (Institut Pertanian Bogor)
208. Prof. Marthen Arie (Universitas Hasanuddin)
209. Prof. Ma'Ruf Hafidz (Universitas Muslim Indonesia)
210. Prof. Marzuki, DEA (Universitas Hasanuddin)
211. Prof. Mayling Oey (Universitas Indonesia)
212. Prof. Meily (Universitas Indonesia))
213. Prof. Meity Suradji Sinaga (Institut Pertanian Bogor)
214. Prof. Melani Budianta (Universitas Indonesia)
215. Prof. Metusalach (Universitas Hasanuddin)
216. Prof. Mieke Komar (Universitas Padjadjaran)
217. Prof. Mirnawati B Sudarwanto (Institut Pertanian Bogor)
218. Prof. Mochtar Mas'oed (Universitas Gadjah Mada)
219. Prof. Moh. Ivan Azis (Universitas Hasanuddin)
220. Prof. Moh. Mahfud MD (Universitas Islam Indonesia)
221. Prof. Mohamad Amin (Universitas Negeri Malang)
222. Prof. Mudjahirin Thohir (Universitas Diponegoro)
223. Prof. Mudjahirin Thohir (Universitas Diponegoro)
224. Prof. Mudjio Rahardjo (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
225. Prof. Mudrajad Kuncoro (Universitas Gadjah Mada)
226. Prof. Muh Nasrum Massi (Universitas Hasanuddin)
227. Prof. Muh. Akmal Ibrahim (Universitas Hasanuddin)
228. Prof. Muh. Yusram Massijaya (Institut Pertanian Bogor)
229. Prof. Muhajir Darwin (Universitas Gadjah Mada)
230. Prof. Muhammad Zainuri (Universitas Trunojoyo Madura)
231. Prof. Muhammad Zilal Hamzah (STIEBI, Jakarta).
232. Prof. Muladno (Institut Pertanian Bogor)
233. Prof. Mulia Purba (Institut Pertanian Bogor)
234. Prof. Mulyono S. Baskoro (Institut Pertanian Bogor)
235. Prof. Musrizal Muin (Universitas Hasanuddin)
236. Prof. Nana Sulaksana (Universitas Padjadjaran)
237. Prof. Nastiti Siswi Indrasti (Institut Pertanian Bogor)
238. Prof. Nathan Hindarto (Universitas Negeri Semarang)
239. Prof. Ngadino Surip (Universitas Mercu Buana Jakarta)
240. Prof. Ni  Putu Ristiati (Universitas Pendidikan Ganesha)
241. Prof. Ni Nyoman Padmadewi
242. Prof. Ningrum Natasya Sirait (Universitas Sumatera Utara)
243. Prof. Nuni Gofar (Universitas Sriwijaya)
244. Prof. Nunuk Hariani S (Universitas Hasanuddin)
245. Prof. Nurdien Harry Kistanto (Universitas Diponegoro)
246. Prof. Nuri Andarwulan (Institut Pertanian Bogor)
247. Prof. Nurjanah (Institut Pertanian Bogor)
248. Prof. Nurpilihan Bafdal (Universitas Padjadjaran)
249. Prof. Nurpudji (Universitas Hasanuddin)
250. Prof. Nyoman Dantes (Univ. Pendidikan Ganesha )
251. Prof. Obsatar Sinaga (Universitas Padjadjaran)
252. Prof. Okky Setyawati Dharmaputra (Institut Pertanian Bogor)
253. Prof. Opan S. Suwartapradja (Universitas Padjadjaran)
254. Prof. Panca Dewi (Institut Pertanian Bogor)
255. Prof. Paulus Israwan Setyoko (Universitas Jenderal Soedirman)
256. Prof. Pawennari Hijjang (Universitas Hasanuddin)
257. Prof. PM. Budi Haryono (Universitas Kristen Krida Wacana)
258. Prof. PM. Laksono (Universitas Gadjah Mada)
259. Prof. Posman Sibuea (Unika Santo Thomas Medan)
260. Prof. Pratiwi Soedharmono (Universitas Indonesia)
261. Prof. Prijono Tjiptoherijanto (Universitas Indonesia)
262. Prof. Purnama Darmadji (Universitas Gadjah Mada)
263. Prof. Putu Kerti Nitiasih
264. Prof. Rahayu Hidayat Universitas Indonesia)
265. Prof. Rahayu Prabowo (Universitas Diponegoro)
266. Prof. Ratih Dewanti (Institut Pertanian Bogor)
267. Prof. Ratna Ariawati (Universitas Padjadjaran)
268. Prof. Retno Damajanti (Institut Pertanian Bogor)
269. Prof. Retno Murwani (Universitas Diponegoro)
270. Prof. Rhenald Kasali (Universitas Indonesia)
271. Prof. Rianto Adi (Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta)                    
272. Prof. Ridad Agoes (Universitas Padjadjaran)
273. Prof. Rina Oktaviani (Institut Pertanian Bogor)
274. Prof. Rindit Pambayun (Universitas Sriwijaya)                       
275. Prof. Riris Sarumpaet (Universitas Indonesia)
276. Prof. Ristianto Utomo (Universitas Gadjah Mada)
277. Prof. Rizal Damanik (Institut Pertanian Bogor)
278. Prof. Rizal Syarief (Institut Pertanian Bogor)
279. Prof. Roni Kastaman (Universitas Padjadjaran)
280. Prof. Roostita (Universitas Padjadjaran)
281. Prof. Samugyo Ibnu Redjo (Universitas Padjadjaran)
282. Prof. Sangkala (Universitas Hasanuddin)
283. Prof. Saparinah Sadli (Universitas Indonesia)
284. Prof. Saryono, M.Si. (Univesitas Riau)     
285. Prof. Satriyas llyas (Institut Pertanian Bogor)
286. Prof. Sholahuddin (Universitas Sebelas Maret)
287. Prof. Sigit Riyanto  (Universitas Gadjah Mada)
288. Prof. Sihol Situngkir (Universitas Jambi)
289. Prof. Sismanto (Universitas Gadjah Mada)
290. Prof. Slamet Budijanto (Institut Pertanian Bogor)
291. Prof. Soenyono  (Universitas Wisnuwardhana Malang)
292. Prof. Sofie Rifayani Rifai (Universitas Padjadjaran)               
293. Prof. Sri Hartoyo (Institut Pertanian Bogor)
294. Prof. Sri Mulyani (Universitas Negeri Semarang)
295. Prof. Sri Wilarso Budi (Institut Pertanian Bogor)
296. Prof. Subagyo Pramumijoyo (Universitas Gadjah Mada)
297. Prof. Sudradjat Supian (Universitas Padjadjaran)
298. Prof. Sugeng Utaya (Universitas Negeri Malang)
299. Prof. Suharsono (Institut Pertanian Bogor)
300. Prof. Sujianto (Universitas Riau)
301. Prof. Suko Wiyono (Universitas Negeri Malang)
302. Prof. Sulistiono (Institut Pertanian Bogor)
303. Prof. Sulistyowati Irianto (Universitas Indonesia)
304. Prof. Sulmin Gumiri (Universitas Palangka Raya)
305. Prof. Sumadi (Universitas Negeri Malang)
306. Prof. Suminar Akhmadi (Institut Pertanian Bogor)
307. Prof. Sunarno (Universitas Gadjah Mada)
308. Prof. Sunjoto (Universitas Gadjah Mada)
309. Prof. Supriyatna Sutardjo (Universitas Padjadjaran)
310. Prof. Sutinah Made (Universitas Hasanuddin)
311. Prof. Sutrisno Mardjan (Institut Pertanian Bogor)
312. Prof. Suyono (Universitas Negeri Malang)
313. Prof. Syamsu Alam (Universitas Hasanuddin)
314. Prof. Syamsul Bachri (Universitas Hasanuddin)
315. Prof. Tadjudin Nur Effendi (Universitas Gadjah Mada)
316. Prof. Tarkus Suganda (Universitas Padjadjaran)
317. Prof. Tati Nurmala (Universitas Padjadjaran)
318. Prof. Tengku Silvana Sinar
319. Prof. Tineke Mandang ((Institut Pertanian Bogor)
320. Prof. Todung Mulya Lubis (University of Melbourne) 
321. Prof. Toto Subroto (Universitas Padjadjaran)
322. Prof. Tri Budi Rahardjo (Universitas Respati Indonesia)
323. Prof. Tri Ratna Murti (Universitas Persada Indonesia YAI)
324. Prof. Tridoyo Kusumastanto (Institut Pertanian Bogor)
325. Prof. Tualar Simarmata (Universitas Padjadjaran)
326. Prof. Tun Tedja Irawadi (Institut Pertanian Bogor)
327. Prof. Tuti Widjastuti (Universitas Padjadjaran)
328. Prof. Tutik Wresdiyati (Institut Pertanian Bogor)
329. Prof. Tuty L. Yusuf (Institut Pertanian Bogor)
330. Prof. Udiansyah (Universitas Lambung Mangkurat)
331. Prof. Ujang Sumarwan (Institut Pertanian Bogor)
332. Prof. Umar Santoso (Universitas Gadjah Mada)
333. Prof. Umi Cahyaningsih (Institut Pertanian Bogor)
334. Prof. Upik Kesumawati (Institut Pertanian Bogor)
335. Prof. W. Dj. Pomalati, MPd (Universitas Negeri Gorontalo)
336. Prof. Wahyudi Kumorotomo (Universitas Gadjah Mada)
337. Prof. Waras Kamdi (Universitas Negeri Malang)
338. Prof. Warid Ali Qosim (Universitas Padjadjaran)
339. Prof. Wasino (Universitas Negeri Semarang)
340. Prof. Wasmen Manalu (Institut Pertanian Bogor)
341. Prof. Wasrin Syafii (Institut Pertanian Bogor)
342. Prof. Widjijono (Universitas Gadjah Mada)
343. Prof. Yanto Santosa (Institut Pertanian Bogor)
344. Prof. Yayat Dahiyat  (Universitas Padjadjaran)
345. Prof. Yeremias T. Keban (Universitas Gadjah Mada)
346. Prof. YH. Udju D. Rusdi (Universitas Padjadjaran)
347. Prof. Yonny Koesmaryono (Institut Pertanian Bogor)
348. Prof. Yuli Retnani (Institut Pertanian Bogor)
349. Prof. Yuliandri (Universitas Andalas)
350. Prof. Yulianto Kadji (Universitas Negeri Gorontalo)
351. Prof. Yunita Winarto (Universitas Indonesia)
352. Prof. Yushinta Fujaya (Universitas Hasanuddin)
353. Prof. Yusuf Sudo Hadi (Institut Pertanian Bogor)
354. Prof. Yuyun Yuwariah (Universitas Padjadjaran)
355. Prof. Zainul Daulay (Universitas Andalas)
356. Prof. Zulfadil (Universitas Riau)
357. Prof. Zulkifli Nasution (Universitas Sumatera Utara)
[6/20, 7:50 PM] Bibit Samad Riyanto 2 Tlp: ANGGOTA PANSUS DPR BISA DITANGKAP KPK DALAM KASUS EKTP

Oleh : Habil Marati
Anggota DPR RI 1999-2009

Pansus sebagai hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu peristiwa perbuatan asersi pemerintahan ( President) yang menimbulkan keresahan masyarakat dan berpotensi merugikan keuangan Negara dan keselamatan Negara. Demikian juga, bahwa Pansus DPR itu akan melahirkan keputusan politik yang akan di sampaikam pada MPR untuk ditindak lanjuti berdasarkan UUD. Oleh karena itu, mekanisme kerja Pansus di lakukan dengan memanggil pejabat yang terlibat pada peristiwa suatu kasus yang akan di selidiki tersebut. Jadi object pansus itu pejabat negara yang berkaitan erat dengan terjadinya suatu kebijakan Pemerintah yang menimbulkan dampak sistimatis adanya potensi kerugian negara dan meresahkan stabilitas politik nasional, Pansus di adakan untuk menyelidiki apakah telah terjadi pelanggaran UU atas keputusan yang di ambil pemerintah,out put dari pada pansus ini adalah keputusan politik yang bisa menjatuhkan president, Contoh kasus Sumber Waras, BPK telah menyatakan adanya kerugian Negara akan tetapi KPK tidak melakukan penyelidikan ada apa?, DPR harus membuat Pansus hak angket untuk menyelidiki apakah ada intervensi kekuasaan terhadap kasus korupsi sumber waras ini?. Tapi nyatanya DPR tidak menggulirkan hak angket pada hal jelas jelas BPK telah melakukan investigatif audit dan telah menetapkan besarnya kerugian Negara, tapi mengapa dalam kasus EKTP yang melibatkan beberapa anggota DPR, DPR buru buru membentuk pansus hak angket ada apa????, justru Pansus hak angket DPR ini bisa jadi senjata makan tuan, KPK bisa menangkap anggota Pansus angket termasuk semua pengusul hak angket dengan tuduhan menghalang halangi penyidikan, sementara dari kalangan masyarakat, DPR bisa di tuduh mengintervensi KPK dalam kasus EKTP.

BU MIRIYANI BUKAN OBJECT PANSUS ANGKET DPR

Ada banyak pertanyaan mengenai lahirnya hak angket DPR ini, pertama adalah apakah hak angket DPR ini lahir disebabkan E-KTP yang sedang di sidik oleh KPK?, pertanyaan kedua Apakah hak angket ini ada kalau tidak ada kasus korupsi E-KTP yang melibatkan beberapa anggota DPR?, pertanyaan ketiga Apakah KPK itu bagian dari Kebijakan Pemerintah?. Demikian juga pertanyaan Apakah DPR bisa mengangket KPK? Jawaban saya adalah DPR bisa menggulirkan hak angket terhadap KPK sepanjang untuk menyelidiki apakah ada intervensi pemerintah terhadap kasus E-KTP, kasus sumber waras, Century dan reklamasi. Pernyataan seorang Pejabat Pemerintah pada Munas Golkar bahwa KPK sudah ada yang amankan kasus E-KTP, kalau tujuan DPR membentuk hak angket untuk menyelidiki pernyataan Pejabat ini maka tujuan DPR membentuk hak angket sesuai dengan UUD,dan UU, tapi kalau tujuan dibentuknya hak angket tersebut untuk menghilangkan jejak atau menghentikan penyelidikan korupsi E-KTP maka DPR telah melakukan intervensi pada KPK, dan KPK bisa menangkap para anggota pansus angket. Pansus angket DPR dengan memanggil Bu Miriyam untuk di mintai keterangan adalah salah dan bertentangan dengan UUD2002 maupun UU pembentukan hak angket DPR tersebut. Pernyataan Bu Miryam di depan penyedik KPK yang telah di BAP bukan object Pansus, Bu miryam bukan penjabat excekutif, bu Miryam bukan bagian dari pejabat pemerintah yang bisa mengintervensi KPK untuk menghentikan proses penyidikan EKTP yang sudah berjalan di KPK. Dalam BAP Bu Miryam pada KPK Dia mengatakan bahwa Dia ditekan beberapa anggota DPR, pernyataan Bu Miryam harus di selesaikan lewat jalur pengadilan atau komisi III DPR mengadakan RDP khusus dengan KPK untuk menanyakan perihal pernyataan Bu Miryam yang telah di BAP oleh KPK, masa hanya untuk mengklarifikasi BAP Bu Miryam di hadapan penyedik KPK yang menyebut di tekan beberapa anggota DPR harus membentuk hak angket?, ini sangat membahayakan anggota Pansus dan pengusul hak angket tersebut. KPK bisa menggunakan kewenangannya yang diberikan UU tentang menghalang halangi proses hukum E-KTP. Akan tetapi apabila Pansus angket DPR ini tujuannya untuk menyelidiki pernyataan Pejabat pemerintah di Munas Golkar dan Pansus angket DPR memanggil Pejabat Pemerintah tersebut untuk di mintai keterangannnya atas Pernyataannya tersebut, maka tujuan dibentuknya hak angket DPR tersebut telah sesuai dengan UUD dan UU.

Demikian juga KPK, kesan di masyarakat KPK sudah tidak independen lagi dalam penegakan hukum, saya pernah di sampaikan oleh seorang Prof ahli pidana bahwa ada lima orang penyedik KPK menemuinya dan mengeluh tentang kasus sumber waras dan reklamasi bahwa mereka telah menemukan alat bukti korupsi pada Sumber Waras dan Reklamasi tetapi pimpinan KPK tidak mendukung atau belum mendukung penyidikan tersebut. KPK harus kembali pada jati dirinya sebagai lembaga penegak hukum independen dari Pemerintah, KPK merupakan perpanjangan tangan Rakyat untuk mengcegah dan memberantas korupsi. Kasus EKTP, Sumber waras, Reklamasi, Pelindo, Garuda dan DKI ini kasus kasus big fish yang bersifat sistimatis, terstruktur dan massive mengapa KPK tidak menyediknya, Sumber Waras jelas jelas sudah ada hasil dari BPK perhitungan kerugian Negaranya mengapa KPK mendiamkan?, ini mestinya DPR membentuk pansus hak angket Sumber waras tujuannya untuk menyelidiki apakah ada intervensi pemerintah atau ada kah keterlibatan pejabat negara dalam kasus Sumber waras ini?, bukan membentuk hak angket DPR untuk menyelidiki BAP Bu Miryani. Dengan demikian  pansus angket DPR ini benar benar untuk kepentingan Rakyat jikalau Pansus angket KPK ini di arahkan untuk menyelidiki apakah ada intervensi pemerintah dalam kasus Sumber waras, Reklamasi, Century, dan SKL BLBI tapi kalau pansus angket DPR ini hanya untuk menyelidiki EKTP yang berkaitan dengan BAP bu Miryam dan keterlibatan beberapa anggota DPR, saya khawatir KPK bisa menangkap seluruh anggota Pansus dan pengusul hak angket karena dianggap mengintervensi KPK dalam Kasus EKTP.